Rabu, 30 Juni 2010
Ninja Perempuan Pertama
Dalam hal pola pertempurannya, Ninja rupanya lebih sedikit dikenal ketimbang Samurai. Namun begitu, dengan adanya gerakan yang mampu membantu para Daimyo ini pun kemudian secara perlahan, gerakan yang mengandalakan bawah tanah ini pun kemudian lebih cepat dikenal.
Namanya Gamon Doshi. Dikenal sebagai seorang biksu petarung China yang mulanya pergi ke Jepang untuk bertemu dengan Jendral Ikai yang juga berasal dari China ini pun kemudian berlatih di bawah naungan Jendral Ikai tentang strategi perang, teknologi militer, dan ilmu Koshi Jutsu (ilmu menotok otot dan titik lemah di tubuh) dan Hityo no Kakuregata (kamuflase di dalam kegelapan).
Dengan menetapnya dirinya di Jepang, Gamon Doshi pun kemudian merubah namanya dengan nama Fujiwara Tikata. Bukan hanya itu saja, biksu yang menghabiskan masa hidupnya pada sekitar tahun 1030 hingga 1100 ini pun akhirnya dianggap sebagai bapak dari ilmu Ninjutsu atas sumbangannya terhadap peningkatan ilmu dalam aliran Ninjutsu yang telah ada.
Bagaimana dengan Kunoichi?
Sebagain orang mengatakan bahwa Mochizuki Chiyome adalah Kunoichi pertama di Jepang. Namun pendapat tersebut adalah salah. Karena jauh sebelum Mochizuki Chiyome dikenal, rupanya ada seorang wanita keturunan China yang menjadi Kunoichi pertama.
Mochizuki Chiyome
Mochizuki Chiyome (1540-1580) adalah istri Mochizuki Moritoki, pemimpin istana Mochizuki di Provinsi Shinani yang juga menjadi keponakan Takeda Shingen. Dan karena kematian Mochizuki Moritoki menjadi kesedihan bagi Mochizuki Chiyome, Takeda Shingen, yang saat itu ingin mempergunakan kemampuan Mochizuki Chiyome pun kemudian membujuknya untuk dapat membentuk kelompok Ninja wanita untuk dijadikan mata-mata dan pembawa pesan.
Meski Mochizuki Chiyome ragu pada awalnya, setelah mengingat akan dendamnya, dia pun kemudian membentuk pasukannya di desa Nazu provinsi Shinani dan mulai mencari kandidat untuk mencari calon Kunoichi.
Setelah mengumpulkan dan melatih para Kunoichi, Chiyome menempatkan mereka di kuil sebagai Miko untuk menyamar. Dalam pelatihannya, Chiyome menitikberatkan pada penyerangan titik lemah lawan dengan menggunakan senjata yang umum digunakan wanita sebagai penghias, seperti kuncir rambut.
Cho Gyokko (885–945)
Seorang putri dari China yang menjadi Kunoichi pertama di Jepang ini memiliki nama lain Yo Gyokko atau Yao Yu Hu atau Koto Oh.
Semasa dinasti T’ang, Yao Yu Hu dikenal berhubungan langsung dengan kekaisaran China. Hanya saja, Yao Yu Hu pun akhirnya melarikan diri ke jepang bersama keluarga kerajaan lainnya saat dinasti T’ang mengalami kehancuran pada tahun 907.
Gelar Koto Oh disandang Yao Yu Hu setelah mengalahkan dan membunuh macan dengan sekali pukul saat masih di China. Meski memiliki kekuatan yang luar biasa, ternyata Yao Yu Hu sangat mahir menari.
Ketika di Jepang, Yao Yu Hu pun mengganti namanya menjadi Cho Gyokko dan mengembangkan gaya dan kemampuan bela dirinya. Selain itu, Cho Gyokko juga menemukan inti atau awal dari ilmu Ninjutsu aliran Gyokku Ryu. Meski begitu, Gyokko tidak mendapatkan kehormatan karena telah mengembangkan aliran Ninjutsu ini, tetapi dia dianggap sebagai pemrakarsa awal digunakannya Kempo China dan memodifikasinya untuk digunakan dalam Ilmu Ninjutsu tersebut. Inti dari aliran ini adalah menyerang titik vital dari lawan agar lawan dengan mudah dilumpuhkan.
Kunoichi
Jika samurai lebih terang-terangan dalam penyerangannya, ninja lebih memilih jalur bawah tanah sebagai lahannya. Secara bahasanya, kata ninja terbentuk dari dua suku kata yaitu Nin yang berarti tersembunyi dan Sha berarti orang.
Menurut catatan sejarahnya, ninja mulai dikenal pada tahun 522 bersamaan dengan masuknya seni Nonuse (seni bertindak diam-diam) ke Jepang. Seni Nonuse sendiri adalah suatu praktek keagamaan yang dilakukan oleh para pendeta yang pada saat itu bertugas memberikan info kepada orang-orang di pemerintahan.
Dan demi keselamatan mereka sendiri, pada sekitar tahun 645, pendeta-pendeta tersebut pun kemudian menyempurnakan kemampuannya dengan bela diri dan mulai menggunakan pengetahuan mereka tentang Nonuse untuk melindungi diri dari intimidasi pemerintah pusat. Dan perpaduan antara Nonuse dengan bela diri inilah yang kemudian lebih dikenal dengan Ninjutsu.
Dengan adanya perkembangan waktu, rupanya Ninjutsu ini tidak hanya dimiliki oleh para pendeta saja. Dan seni ini pun mulai berkembang dengan pesat hingga wanita pun turut mempelajarinya.
Meski wanita sering dianggap lemah, rupanya ilmu Ninjutsu ini memang jauh lebih pantas digunakan oleh wanita. Karena selain ilmu bela diri, rupanya Ninjutsu lebih banyak bergerak pada ilmu merayu, memanipulasi, menyamar, dan intuisi.
Kemampuan yang dimiliki oleh para wanita yang kemudian dikenal dengan Kunoichi ini memberikan mereka kemudahan dalam menyusup ke pikiran pemimpin perang, bisnis bahkan politik sekalipun. Dan ini pula yang kemudian menjadikan Kunoichi jauh semakin meluas ketimbang ninja itu sendiri. Selain lebih efisien, jatuh kontak korban pun tidak selayaknya samurai yang sering gugur tanpa hasil.
Dalam pelaksanaannya sebagai Kunoichi, kebanyakan dari mereka menyamar sebagai Geisha, Miko (pembantu kuil), atau bahkan pelacur itu sendiri. Selain itu, tidak sedikit Kunoichi yang dengan mudah masuk ke dalam istana baik sebagai tamu, dayang, dan atau isteri simpanan. Hal ini dikarenakan Kunoichi dilatih juga untuk mempermainkan emosi lelaki, tetapi juga harus bisa mengontrol emosi diri sendiri.
Dalam perekrutan anggota kunoichi, merke lebih senang merekrutnya dari kalangan wanita yang sudah yatim piatu sejak kecil atau yang sudah dijual oleh keluarganya baik sebagai pelayan maupun penjaja seks.
Dengan lebih mementingkan cara bertarung menggunakan kecepatan dan memukul titik vital lawan agar cepat lumpuh dibandingkan dengan kekuatan tubuh. Rupanya mereka dilatih oleh Kunoichi yang lebih tua dan menjadikan mereka sebagai senjata bagi tuannya.
Berikut adalah kemampuan yang sering digunakan oleh Kunoichi:
1. Boryaku: merencanakan strategi dalam menyamar maupun menyusup dalam daerah lawan
2. Intonjutsu: menyamar, menipu dan membuat ricuh daerah lawan dengan menyebarkan isu-isu negatif di kalangan masyarakat
3. Kayakujutsu: membuat dan menggunakan bahan peledak dalam pertempuran ataupun dalam penyusupan sebagai umpan maupun untuk perlindungan diri
4. Shinobi Iri: ilmu untuk memasuki daerah lawan, menyusup secara diam-diam ke daerah lawan
5. Shuriken Jutsu: melemparkan Senjata rahasia
6. Tanto Jutsu: ilmu menggunakan senjata berupa pisau
7. Yagen: ilmu menggunakan racun
Kamis, 13 Mei 2010
YAKUZA
Di sisi lain, banyak film-film fiksi atau cerita bergambar (manga) yang menceritakan Yakuza dengan senjatanya “Katana” yang secara sadis membantai para musuhnya, berasal dari kaum Bushi (Samurai). Padahal, Yakuza sendiri bukan berasal dari kaum Bushi.
Hubungan antara Kaisar, Shogun, Bushi, dan Ninja ternyata sangat melekat pada diri Yakuza. Meski Yakuza sendiri bukan keturunan dari salah satu diantara mereka. Dan yang mengejtkan, ternyata Yakuza berasal dari kaum minor, yaitu Shōkuin (buruh) dan Shōnin (pedagang).
Jika dapat dikulas sedikit, dalam catatan sejarah Jepang, (meski menurut legenda) Kaisar pertama Jepang berasal dari keturunan Dewa Amaterazu, dan secara perlahan, keluarga Kekaisar memiliki darah dari kaum Bushi dan Daimyō. Di sisi lain, Dimyō sendiri kebanyakan berlatar belakang seorang Bushi. Hingga akhirnya, Bushi juga menduduki jabatan sebagai Shogun (Panglima Perang) dengan anggotanya dari kaum Bushi sendiri. Lantas, mengapa Yakuza bukan berasal dari kaum Bushi? Atau mungkin mereka berasal dari kaum Ninja?
Jika dilihat secara kasat mata, perbedaaan antara Bushi dan Ninja sangat mencolok. Jika Bushi mengandalkan kehormatannya, lain dengan halnya Ninja. Bushi selalu mengutamakan keloyalan meski harus merelakan hidupnya kepada “para tuan”nya. Dalam sumpahnya, mereka harus rela mati demi yang dilindungi, dan ini adalah sebagai tanda kehormatan baginya. Sedangkan Ninja sendiri lebih memilih jalan “licik” agar tujuannya tercapai. Dan dalam teknik ilmu perangnya pun, samurai lebih cenderung menyerang secara langsung, sedang Ninja, lebih senang melewati jalur tersembunyi.
Pasca pertempuran Sekigahara dan setelah Tokugawa menjadi Shogun, pada sekitar tahun 1912, kira-kira 500.000 Bushi yang sebelumnya disebut Hatomo Yakko (pelayan shogun) menjadi kehilangan tuan, atau disebut sebagai kaum Ronin.
Kehormatan yang sebelumnya dimiliki hanya ditujukan dan diabdikan kepada para tuannya, menjadi bukan sebagai kebanggaan lagi. Seperti kata pepatah: “orang yang hanya punya martil cenderung melihat segala sesuatu bisa beres dengan dimartil…,” demikian juga dengan kaum Ronin ini. Setelah kehilangan tuan, mereka juga seperti kehilangan arah. Banyak dari mereka menjadi penjahat dan centeng. Mereka disebut sebagai Kabuki Mono atau samurai nyentrik urakan yang ke mana-mana membawa pedang. Mereka berbicara satu sama lain dalam bahasa slang dan kode rahasia. Meski begitu, mereka masih dapat menjaga kesetiaan di antara sesama ronin, sehingga kelompok ini sulit dibasmi.
Dengan adanya para Kabuki Mono, banyak kota-kota kecil di Jepang membentuk Machi Yokko (satgas/satuan tugas kampung). Satgas ini terdiri dari para pedagang, pegawai, dan orang biasa yang mau menyumbangkan tenaganya untuk menghadapi kaum Kabuki Mono. Walaupun mereka kurang terlatih dan jumlahnya sedikit, tetapi ternyata para anggota Machi Yokko ini sanggup menjaga daerah mereka dari serangan para Kabuki Mono. Di kalangan rakyat Jepang abad ke-17, kaum Machi Yokko ini dianggap seperti pahlawan.
Masalah jadi rumit, karena setelah berhasil menggulung para Kabuki Mono, para anggota Machi Yokko ini malah meninggalkan profesi awal mereka dan memilih jadi preman. Hal ini diperparah lagi dengan turut campurnya Shogun dalam memelihara para Machi Yokko ini.
Ada dua kelas profesi para Machi Yokko, yaitu kaum Bakuto (penjudi) dan Tekiya (pedagang). Meski tergolong kaum pedagang, tetapi pada kenyataannya, kaum Tekiya ini suka menipu dan memeras sesama pedagang. Walau begitu, kaum ini punya sistem kekerabatan yang kuat. Ada hubungan kuat antara Oyabun (Boss-bapak) dan Kobun (bawahan-anak), serta Senpai-Kohai (Senior-Junior) yang kemudian menjadi kental di organisasi Yakuza.
Minggu, 11 April 2010
Rabu, 17 Maret 2010
Sekigahara (Novel)

Kutipan di atas terdapat dalam buku SEKIGAHARA. Buku yang menceritakan tentang sejarah Jepang -tepatnya tentang sejarah peralihan kekuasaan yang memulai karir Tokugawa Ieyasu dalam monopoli Jepang dalam beberapa abad. Dengan setting pertempuran di Lembah Sekigahara ini, meski dinilai sebagai perang kecil, Tokugawa Ieyasu kemudian dikenal sebagai penguasa tunggal yang boleh dikata sebagai pengganti dari kekuasaan kekaisaran itu sendiri.
Penulis: Dozi Swandana, Ukuran: 13,5 x 20,5 cm, Isi: 224 halaman CD Koran TA, Rp. 33.300 - Cetakan I 2010, Genre: J-novel, ISBN : 978-979-1032-29-2
Selasa, 16 Maret 2010
Mengenal Maret
Dalam mitologi Yunani, Mars identik dengan dewa perang, yaitu Aries[6], putra dari Zeus dan Hera.
[1] Kalender Masehi (Gregorius)/ (Taqwim Mylady). Kalender Masehi -disebut juga kalender Gregorius- adalah penanggalan berdasarkan peredaran matahari (Taqwim Syamsy) dengan masa 365,2422 (365 hari, 5 jam, 48 menit, 46 detik). Kalendar ini merupakan lanjutan dari kalender Julian yang digunakan secara internasional. Kalendar ini (baca: kalender Gregorius) muncul karena Kalendar Julian dinilai terjadi sedikit kekeliruan, sebab permulaan musim bunga (21 Maret) semakin maju, sehingga perayaan Easter (hari paskah) yang sudah disepakati sejak Konsili Nicea pada tahun 325 M tidak tepat lagi. (http://afdacairo.blogspot.com/2009/02/kalender-masehi-gregorius-taqwim-mylady.html)
[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_kaisar_Romawi
[3] http://id.wikipedia.org/wiki/Maret
[4] Phobos adalah salah satu dari dua satelit alami planet Mars. Satelit ini mengorbit Mars di radius 6.000 km. Saat ini, tidak ada satelit alam di tata surya yang mengorbit planet induknya dengan jarak sedekat ini. (http://id.wikipedia.org/wiki/Phobos_(satelit))
[5] Deimos adalah satelit alami yang lebih kecil dari Phobos. Deimos mengorbit Mars bersama- sama dengan Phobos. Kecepatan rotasi Deimos jauh lebih lambat daripada kecepatan rotasi Phobos. Deimos ditemukan oleh Asaph Hall pada tanggal 12 Agustus 1877 sekitar jam 07:48 UTC (http://id.wikipedia.org/wiki/Deimos)
[6] Ares tinggi dan tampan, tetapi sia-sia dan kejam. He was known as the despicable god of war, who "delights in the slaughter of men and the sacking of towns." Dia dikenal sebagai dewa perang hina, yang "berkenan pada pembantaian manusia dan pemecatan kota." Ares was loathed by all the other gods, including his own parents, Zeus (Jupiter) and Hera (Juno). Ares adalah membenci oleh semua allah lain, termasuk orangtuanya sendiri, Zeus (Jupiter) dan Hera (Juno). He was loved only by his sister, Eris (Discord), her son, Strife, and oddly enough by the beautiful Aphrodite (the Roman Venus). Dia hanya dicintai oleh kakaknya, Eris (perselisihan), putranya, Strife, dan anehnya oleh Aphrodite indah (Roma Venus). (www.meridiangraphics.net/mars.htm)
[7] Cydonia Mensae terletak di sebuah zona transisi antara daerah yang berkawah di sebelah selatan, dan daerah dataran yang permukaannya relatif lebih halus, di sebelah utara. Beberapa ilmuwan meyakini, bahwa dataran dengan permukaan halus yang berada di sebelah utara itu, pernah menjadi sebuah dasar laut (http://id.wikipedia.org/wiki/Cydonia_Mensae)
[8] http://id.wikipedia.org/wiki/Mars
Kamis, 18 Februari 2010
Sekigahara II
Di daerah ini, masing-masing kubu kedua pemimpin besar tersebut juga terlibat dalam pertempurannya sendiri, terutama kubu Tokugawa Ieyasu yang mengeluarkan banyak pendukungnya untuk melakukan penyerangan awal terhadap kubu Ishida Mitsunari.
Tokugawa Ieyasu sangat memperhatikan dengan benar tentang kekuatan lawannya. Salah satu daimyō pendukung Ishida Mitsunari yang dinilai paling berkuasa adalah Uesugi Kagekatsu. Itu sebab, banyak pengikut Tokugawa Ieyasu yang dikirimkan untuk menghancurkan Klan Uesugi ini. Maeda Toshinaga, salah satu pendukung Tokugawa Ieyasu yang merasa harus mendukung penyerangan terhadap Uesugi Kanetsugu ini pun berangkat dari arah Kanazawa pada tanggal 26 Juli 1600.
Dibalik kemenangan yang gemilang dari pihak Tokugawa Ieyasu, ternyata hal ini tidak menjadikannya Kyōgoku Takatsugu yang tidak sepihak dengan Tokugawa Ieyasu berhasil mempertahankan Istana Ōtsu. Dengan menyerahnya Kyōgoku Takatsugu, hukuman berupa pengasingan sebagai pendeta di kuil Onjōji, Gunung Kōya pun diterimanya.
[2] Ada pendapat lain yang menerangkan bahwa Date Masamune mengirimkan pasukannya kepada Mogami Yoshiaki karena Mogami Yoshiaki sendiri juga menyandera ibu Date Masamune di dalam Istana Yamagata.
[3] Sejenis waka, syair Jepang kuno sejak zaman Asuka dan zaman Nara (akhir abad ke-6 hingga abad ke-8).
[4] Bushi/Samurai tak bertuan.
Sekigahara I
Pertempuran Sekigahara
15 September 1600
Seperti yang dinyatakan oleh Klemens Wilhelm Jacob Meckel, pasukan di bawah pimpinan Ishida Mitsunari sudah mempunyai tiket kemenangan dengan cara mengepung posisi pasukan Tokugawa Ieyasu. Hanya saja, pertempuran yang hanya berlangsung tidak lebih dari sehari itu berbalik menjadi kemenangan Tokugawa Ieyasu setelah beberapa pasukan Ishida Mitsunari berpihak kepada Tokugawa Ieyasu. Terlebih lagi, keadaan di Sekigahara sedang ditutupi oleh kabut yang tebal, sehingga masing-masing pasukan tidak mengetahui dengan jelas siapa lawan siapa kawan.
“Kawan dan lawan saling dorong, suara teriakan di tengah letusan senapan dan tembakan panah, langit bergemuruh, tanah tempat berpijak berguncang-guncang, asap hitam membubung, siang bolong pun menjadi gelap seperti malam, tidak bisa membedakan kawan atau lawan, pelat pelindung leher (pada baju besi) menjadi miring, pedang ditebas ke sana ke mari.” Ōta Gyūichi, seorang saksi dalam Pertempuran Sekigahara.[1]
Pertarungan pun dimulai ketika pasukan pimpinan Matsudaira Tadayoshi memulai penyerangan terhadap Ukita Hideie yang menjadi kekuatan utama pasukan Ishida Mitsunari. Aksi penyerangan dari Matsudaira Tadayoshi ini pada awalnya dilarang oleh Fukushima Masanori yang juga menjadi pimpinan pasukan gabungan pendukung Tokugawa Ieyasu. Bersama pasukan Ii Naomasa inilah pasukan Matsudaira Tadayoshi bermaksud lewat menerobos tebalnya kabut.
Dengan adanya serangan dari pasukan Matsudaira Tadayoshi, pasukan pimpinan Ukita Hideie pun kembali menyerang. Meski pasukan gabungan pimpinan Fukushima Masanori ini hanya terdiri dari 6.000 prajurit, namun dengan serangannya yang mendadak ini pun mampu membuat pasukan Ukita Hideie yang terdiri dari 17.000 prajurit kelabakan sehingga hanya menjadikan situasi pertempuran saling desak dan saling bunuh tanpa ada perlawanan yang khusus.
Sedang pasukan pimpinan Kuroda Nagamasa yang terdiri dari 5.400 prajurit dan pasukan Hosokawa Tadaoki yang terdiri dari 5.100 prajurit ini secara bersamaan mulai menyerang pasukan Ishida Mitsunari. Hanya saja, pasukan pimpinan Shima Sakon dan Gamō Satoie mampu membendung penyerangan tersebut dan berhasil mengalahkan sebagian besar pasukan gabungan Tokugawa Ieyasu tersebut.
Dengan pertempuran yang banyak melibatkan pasukan dari berbagai panglima ini pun menjadikan Ishida Mitsunari gerah karena tidak juga berhasil memukul mundur pasukan Tokugawa Ieyasu. Itu sebab Ishida Mitsunari membuat isyarat asap untuk meminta bantuan dengan memanggil pasukan yang belum turun dalam medan pertempuran. Meski telah mengetahui isyarat yang telah diberikan oleh Ishida Mitsunari, pasukan pimpinan Shimazu Yoshihiro secara terang menolak untuk bergabung. Sedang pasukan Mōri Terumoto tidak dapat berbuat apa-apa dalam pertempuran tersebut karena dihalangi oleh pasukan Kikkawa Hiroie.
Seperti yang diketahui, Kikkawa Hiroie pada dasarnya berada dalam satu kesatuan dengan Mōri Terumoto yang membantu Ishida Mitsunari. Hanya saja, dengan kekuasaan yang dimiliki oleh Tokugawa Ieyasu, Kikkawa Hiroie pun dijanjikan memperoleh wilayah kekuasaan Klan Mōri apabila mampu menghalangi pasukan Mōri Terumoto membantu menyerang pasukan pemerintahan. Melihat kekuasaan Mōri Terumoto yang mencapai 1.205.000 kokudaka, Kikkawa Hiroie pun menjadi tergiur dan menjadi berpihak kepada Tokugawa Ieyasu.
Bukan hanya Kikkawa Hiroie saja yang menjadi penghianat dalam pertempuran tersebut. Kobayakawa Hideaki yang sebelumnya berada di pihak Ishida Mitsunari pun secara tersembunyi telah bersekongkol dengan Tokugawa Ieyasu.
Berbeda dengan Kikkawa Hiroie yang langsung menyerang Mōri Terumoto, Kobayakawa Hideaki yang diikuti oleh Wakisaka Yasuharu, Ogawa Suketada, Akaza Naoyasu, dan Kutsuki Mototsuna untuk mendukung Tokugawa Ieyasu ini pada awalnya hanya menunggu keadaan yang sedang berlangsung sengit tersebut. Hanya saja, Tokugawa yang melihat aksi Kobayakawa Hideaki ini pun menjadi geram dan memerintahkan pasukannya untuk menembak ke posisi pasukan Kobayakawa Hideaki di Gunung Matsuo. Dan dengan adanya serangan tersebut pun, Kobayakawa Hideaki akhirnya memutuskan untuk turun gunung dan bertempur menggempur sayap kanan gugusan pasukan Ōtani Yoshitsugu.
Dengan adanya posisi yang tidak menguntungkan di pihak Ishida Mitsunari, Shimazu Yoshihiro yang sejak awal meragukan kemenangan pada pihaknya pun mulai ketakutan dan berusaha mundur dengan memotong garis depan pasukan Tokugawa Ieyasu yang semakin kuat. Pasukan pimpinan Fukushima Masanori yang sebelumnya menjadi garis depan pasukan gabungan Tokugawa Ieyasu ini pun menjadi ketakutan melihat kebrutalan pasukan Shimazu Yoshihiro. Melihat kejadian tersebut, pasukan Ii Naomasa, Matsudaira Tadayoshi, dan Honda Tadakatsu pun berusaha membantu dengan berusaha melawan pasukan Shimazu Yoshihiro. Hanya saja, dengan serangan yang tak teratur dari Shimazu Yoshihiro ini menjadikan kebanyakan pasukan lawan banyak terjatuh dan menderita luka-luka.
Dengan banyaknya pasukan Ishida Mitsunari yang berkhianat, menjadikan pihaknya mengalami kekalahan yang telak. Seluruh pasukannya pun dijadikan kocar-kacir dan menjadikan kemenangan pada pihak Tokugawa Ieyasu. Shimazu Yoshihiro yang telah melarikan diri pun pada akhirnya berhasil selamat meski banyak saksi pada awalnya telah menyangka Shimazu Yoshihiro telah melakukan seppuku[2]. Namun demikian, setelah diketahui jasad yang mengenakan jinbaori[3] tersebut adalah Ata Moriatsu, salah seorang pasukan dari Shimazu Yoshihiro. Sedang pasukan Shimazu Yoshihiro yang selamat lainnya hanya tersisa sekitar 80 prajurit saja.
Pembersihan Konflik Pertempuran Sekigahara
Seperti yang diketahui sebelumnya, Tokugawa Ieyasu yang juga sebagian dari dewan lima menteri dan para pelaksana administrasi yang diambil sumpah setia kepada Toyotomi Hideyoshi pun kemudian terlibat bentrok yang melibatkan sebagian besar penguasa kecil di Jepang. Dan dengan adanya pemberontakan dan ketidak percayaan dalam pejabat pemerintahan, Ishida Mitsunari pun menyetakan dengan terang-terangan melawan Tokugawa Ieyasu.
Namun demikian, dengan berlangsungnya perebutan kekuasaan dalam pemerintahan, Tokugawa Ieyasu pun dinyatakan sebagai pemegang pucuk kepemimpinan setelah menang dalam Pertempuran Sekigahara. Itu sebab seusai Pertempuran Sekigahara, Ishida Mitsunari yang kemudian berhasil ditangkap oleh pasukan pimpinan Tanaka Yoshimasa pada tanggal 21 September 1600 ini akhirnya diarak berkeliling kota di Osaka dan Sakai sebelum dieksekusi di Rokujōgawara yang terletak di pinggir sungai Kamo-Kyoto bersama dengan Konishi Yukinaga yang tertangkap pada tanggal 19 September 1600 dan Ankokuji Ekei yang tertangkap tanggal 23 September 1600.
Berbeda dengan Ishida Mitsunari, Ukita Hideie yang setelah Pertempuran Sekigahara melarikan diri ke provinsi Satsuma ini pada akhirnya mendapatkan pengampunan dari Tokugawa Ieyasu. Setelah berhasil ditangkap oleh Shimazu Tadatsune di akhir tahun 1603, Ukita Hideie pun kemudian diserahkan kepada Tokugawa Ieyasu untuk mendapatkan hukuman. Hanya saja, meski Shimazu Tadatsune yang menangkapnya sendiri, bersama dengan Maeda Toshinaga pun kemudian meminta pengampunan atas nyawa Ukita Hideie.
Permintaan pengampunan terhadap Ukita Hideie kepada Tokugawa Ieyasu ini karena menganggap hanya akan menjadikan kesakitan tersendiri bagi istri Ukita Hideie (Putri Gō) yang sebenarnya adalah adik dari Shimazu Tadatsune dan Maeda Toshinaga. Permintaan pengampunan atas nyawa Ukita Hideie inipun akhirnya dikabulkan oleh Tokugawa Ieyasu. Dan sebagai pengganti hukuman mati terhadap Ukita Hideie ini dihukuman dengan diasingkan ke pulau Hachijōjima setelah menjalani hukuman kurungan di gunung Kuno, provinsi Suruga.
Dengan adanya jiwa kepemimpinan dan daerah kekuasaan yang terbilang sangat mempengarui Jepang, Mōri Terumoto yang sebagai panglima tertinggi pihak lawan pun akhirnya dinyatakan bersalah dan harus menanggung hukumannya. Dalam dunia politik Tokugawa Ieyasu, dia sering menggunakan pasukan musuhnya untuk menyerang musuhnya juga. Dan dalam kasus Mōri Terumoto, ketika sedang dalam menjalankan tugasnya menjaga Toyotomi Hideyori di Istana Osaka, Kikkawa Hiroie melakukan penghianatan dengan menyerang pasukan Mōri Hidemoto yang dikirim Mōri Terumoto ke Sekigahara membantu pasukan Ishida Mitsunari.
Dalam penghianatannya, Kikkawa Hiroie dijanjikan oleh Tokugawa Ieyasu untuk memperoleh wilayah kekuasaan Mōri Terumoto. Itu sebab, Kikkawa Hiroie yang masih saudara sepupu Mōri Terumoto pun menjanjikan keamanan dan tidak akan diganggu. Dan di tengah ketenangan Mōri Terumoto, Tokugawa Ieyasu pun mengeluarkan pernyataan tentang kesalahan Mōri Terumoto. Mendengar adanya perintah penghukuman, Kikkawa Hiroie pun segera menghadap Tokugawa Ieyasu sebagai akal liciknya guna mendapatkan wilayah yang dijanjikannya. Namun demikian, kesepakatan telah berubah, Tokugawa Ieyasu tidak menyerahkan seluruh wilayah kekuasaan Mōri Terumoto melainkan hanya dua provinsi yang tersisa (Suō dan Nagato) saja, sehingga pemberian ini pun ditolak oleh Kikkawa Hiroie yang dianggapnya telah melecehkan dirinya dan kedua provinsi tersebut pun masih dikuasai Mōri Terumoto.
Di tengah keterpurukannya, Mōri Terumoto lalu pindah dan membangun Istana Hagi di delta sungai Abugawa (sekarang di Prefektur Yamaguchi serta memilih menjadi pendeta Buddha dengan nama Genan Sōzui. Untuk jabatan kepala keluarga (katoku) diserahkan kepada sang putra pewaris Mōri Hidenari sedangkan Terumoto tetap menjabat sebagai penguasa wilayah han. Namun setelah menginjak tahun 1623, Mōri Terumoto mengundurkan secara penuh dari dunia politik setelah mewariskan jabatan penguasa wilayah han kepada putra pewarisnya Mōri Hidenari dan pelaksanaan pemerintahan kepada Mōri Hidemoto. Dan dua tahun setelah kemunduran dirinya dalam dunia pemerintahan, tepatnya pada tahun 1625 Mōri Terumoto wafat di usia 72 tahun.
Salah seorang lagi yang dinilai sangat kuat dalam hal kepemimpinan dan dinilai masih berpengaruh adalah Uesugi Kagekatsu dari Aizu. Sedang dalam penyelesaian konfliknya, Uesugi Kagekatsu pada akhirnya hanya mendapatkan wilayah Yonezawa bekas kepemimpinan Naoe Kanetsugu yang pernah menjadi pengikut setianya.
Maeda Toshinaga yang juga pendukung Tokugawa Ieyasu pun tidak luput dari hukuman. Tentang jasanya mengungkap para pemberontak setelah dirinya di cap sebagai otak pelakunya, Tokugawa Ieyasu tidak pernah memperdulikannya. Bersamaan dengan Tachibana Muneshige, kekuasaan wilayah yang dimiliki keduanya pun dicabut karena dinilai telah menimbulkan kerugian besar pada pasukan Niwa Nagashige. Dan dengan adanya pengurangan wilayah tersebut, Niwa Nagashige pun dapat segera dipulihkan haknya sebagai daimyō. Tentang Tachibana Muneshige, haknya kemudian juga dikembalikan bersamaan dengan wilayah kekuasaannya setelah Tokugawa Hidetada menjabat sebagai shogun. Dan tentang Maeda Toshinaga, tidak jelas bagai mana sejarah mencatatkan keberadaannya.
Salah seorang yang menjadi titik tolak kekalahan Ishida Mitsunari adalah Kobayakawa Hideaki bersama rekan-rekan lainnya meliputi Wakisaka Yasuharu, Ogawa Suketada, Akaza Naoyasu, dan Kutsuki Mototsuna.
Dari hasil penghianatannya, Tokugawa Ieyasu menghadiahi pertukaran wilayah kekuasaan yang mulanya provinsi Chikuzen dengan nilai 360.000 kokudaka menjadi provinsi Bizen yang bernilai 570.000 kokudaka. Hanya saja, dengan prestasinya yang demikian, tidak menjadikannya sebagai seorang yang berkuasa karena pada tahun 1602, Kobayakawa Hideaki diketahui meninggal dunia dengan dugaan sakit gila. Kemungkinan, penyakit gilanya ini timbul akibat depresi yang berat lantaran banyaknya tekanan dari luar, terlebih lagi usianya yang terbilang muda, yaitu 21 tahun, puncak kepemimpinannya juga tidak dapat diturunkan kepada keturunannya sendiri.
Tokugawa Ieyasu sangat mengerti pelaku politik yang baik dan setia. Hal ini tentu dinilai sebelum Pertempuran Sekigahara berlanjut. Jika Kobayakawa Hideaki mendapatkan imbalan atas usahanya menjatuhkan Ishida Mitsunari, Wakisaka Yasuharu dan Kutsuki Mototsuna juga diajak Kobayakawa Hideaki pun mendapat wilayah kekuasaan. Tapi hal ini tidak berlaku kepada Ogawa Suketada dan Akaza Naoyasu. Mereka dinilai sebagai seorang yang tidak pantas mendapatkan imbalan karena hanya akan menimbulkan kekhawatiran sendiri bagi pemerintahan Tokugawa Ieyasu kelak.
Alasan Tokugawa Ieyasu sangat mendasar. Ogawa Suketada dikenal sebagai seorang yang penjilat, dan ini dibuktikan dengan catatan militernya yang terkenal dengan pembelotannya yang berkali-kali. Sehingga Ogawa Suketada pun dikenal tidak setia. Selain itu pula, putra pewarisnya adalah seorang yang dengan Ishida Mitsunari, musuh bebuyutan Tokugawa Ieyasu sendiri. Ogawa Suketada akhirnya meninggal dunia setahun setelah kejadian Pertempuran Sekigahara. Sedang Akaza Naoyasu, yang juga takut mendengar bunyi tembakan dinilai sebagai seorang yang tidak mampu memimpin barisan jika kelak terjadi pertempuran kembali. Selain itu, Akaza Naoyasu juga seorang pengikut Maeda Toshinaga yang juga tidak mendapatkan penghormatan Akaza Naoyasu akhirnya meninggal pada tahun 1606.
Pembagian Wilayah Kekuasaan
Seperti yang telah dijanjikan Tokugawa Ieyasu, bagi para daimyō pendukungnya akan diberikan daerah kekuasaan yang lebih luas dari sebelumnya. Sebagai gantinya, Tokugawa Ieyasu mengasingkan beberapa daimyō yang bukan pendukungnya. Bahkan tercatat pasca-Sekigahara, nilai wilayah yang langsung berada di bawah kekuasaan Tokugawa Ieyasu bertambah drastis dari 2.500.000 koku menjadi 4.000.000 koku. Berikut perluasan wilayah yang telah dijanjikan.
- Hosokawa Tadaoki yang tadinya memiliki provinsi Tango (Miyazu) senilai 180.000 kokudaka ditukar dengan provinsi Buzen (Okura) yang bernilai 400.000 kokudaka.
- Tanaka Yoshimasa yang tadinya memiliki provinsi Mikawa (Okazaki) senilai 100.000 kokudaka ditukar dengan provinsi Chikugo (Yanagawa) yang bernilai 325.000 kokudaka.
- Kuroda Nagamasa yang tadinya memiliki provinsi Buzen (Nakatsu) senilai 180.000 kokudaka ditukar dengan provinsi Chikuzen (Najima) yang bernilai 530.000 kokudaka.
- Katō Yoshiakira dipindahkan dari Masaki (provinsi Iyo) yang bernilai 100.000 kokudaka ke Matsuyama yang terletak di provinsi yang sama tapi bernilai 200.000 kokudaka.
- Tōdō Takatora dipindahkan dari Itajima (provinsi Iyo) yang bernilai 80.000 kokudaka ke Imabari yang terletak di provinsi yang sama tapi bernilai 200.000 kokudaka.
- Terazawa Hirotaka yang menguasai provinsi Hizen ditingkatkan penghasilannya dari 83.000 kokudaka menjadi 123.000 kokudaka.
- Yamauchi Kazutoyo yang tadinya memiliki provinsi Tōtōmi (Kakegawa) senilai 70.000 kokudaka ditukar dengan provinsi Tosa yang bernilai 240.000 kokudaka.
- Fukushima Masanori yang memiliki provinsi Owari (Kiyosu) senilai 200.000 kokudaka ditukar dengan provinsi Aki dan Bingo (Hiroshima) yang bernilai 498.000 kokudaka.
- Ikoma Kazumasa yang menguasai provinsi Sanuki (Takamatsu) senilai 65.000 kokudaka ditingkatkan penghasilannya menjadi 171.000 kokudaka.
- Ikeda Terumasa yang menguasai provinsi Mikawa (Yoshida) senilai 152.000 kokudaka dipindahkan ke provinsi Harima (Himeji) yang bernilai 520.000 kokudaka.
- Asano Kichinaga yang menguasai provinsi Kai senilai 220.000 kokudaka dipindahkan ke provinsi Kii (Wakayama) yang bernilai 376.000 kokudaka.
- Katō Kiyomasa yang menguasai provinsi Higo ditingkatkan penghasilannya dari 195.000 kokudaka menjadi 515.000 kokudaka.
- Date Masamune yang berangkat dari Oshu untuk bergabung dengan kubu Pasukan Timur juga tidak ketinggalan menerima hadiah dari Ieyasu. Provinsi Mutsu (Iwadeyama) yang dimiliki Date Masamune ditingkatkan nilainya dari 570.000 koku menjadi 620.000 koku.
- Mogami Yoshiaki yang memiliki provinsi Dewa (Yamagata) ditingkatkan penghasilannya dari 240.000 koku menjadi 570.000 koku.
- Wilayah kekuasaan klan Toyotomi yang sewaktu Toyotomi Hideyoshi masih berkuasa bernilai 2.220.000 koku berkurang secara drastis menjadi 650.000 koku. Pelabuhan ekspor-impor di kota Sakai dan Nagasaki yang membiayai klan Toyotomi dijadikan milik Tokugawa Ieyasu, sehingga posisi klan Tokugawa berada di atas klan Toyotomi.
- Klan Shimazu dari Satsuma yang kalah dan menderita kerugian besar dalam Pertempuran Sekigahara dan klan Mōri dari Chōshū yang dirampas wilayah kekuasaannya menyimpan dendam kesumat terhadap Tokugawa Ieyasu. Klan Mōri dan klan Shimazu harus menunggu 250 tahun untuk dapat menumbangkan kekuasaan Keshogunan Edo yang dibangun Tokugawa Ieyasu.
[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Pertempuran_Sekigahara
[2] Seppuku adalah salah satu adat para samurai. Yaitu sebuah tindakan yang merobek perut mereka dan mengeluarkan usus mereka agar dapat memulihkan nama mereka atas kegagalan saat melaksanakan tugas. Seppuku sendiri kini lebih dikenal dengan istilah harakiri (merobek perut). Sedang dalam penulisan dalam kanji Jepang hanya dituliskan secara terbalik. Pada tradisi Jepang, istilah seppuku lebih formal ketimbang harakiri.
[3] Pakaian tempur yang digunakan pada saat bertempur. Bisanya hanya digunakan oleh pimpinan pasukan (panglima perang).
[4] Kelompok Samurai/satria perang.
[5] Ada pendapat lain yang menerangkan bahwa Date Masamune mengirimkan pasukannya kepada Mogami Yoshiaki karena Mogami Yoshiaki sendiri juga menyandera ibu Date Masamune di dalam Istana Yamagata.
[6] Sejenis waka, syair Jepang kuno sejak zaman Asuka dan zaman Nara (akhir abad ke-6 hingga abad ke-8).
[7] Bushi/Samurai tak bertuan.
Senin, 04 Januari 2010
Tertawa ala Gus Dur
Dengan sikapnya yang terlihat santai dan humoris tersebutlah Gus Dur akhirnya dijauhkan dari kursi puncak kepemimpinan di Indonesia yang sebelumnya dimilikinya, yaitu Presiden Republik Indonesia. Seperti yang diketahui, Gus Dur pernah menjadi Presiden RI pada tahun 1999 yang kemudian terpaksa dicopot pada tahun 2001. Sebagian data menyebutkan bahwa penurunan Gus Dur ini diakibatkan oleh kasus Buloggate dan Bruneigate yang menuduh bahwa Gus Dur terlibat di dalamnya. Benarkah demikian?
Gus Dur memang tokoh yang kontroversial semasa dirinya menjabat sebagai Presiden RI yang ke-4 menggantikan Presiden B.J. Habibie yang sebelumnya juga meggantikan Presiden “seumur hidup” Soeharto. Dan salah satu hal yang menjadikan Gus Dur sebagai seorang kontroversi adalah dengan adanya pembubaran Departemen Penerangan dan Departemen Sosial kala itu. Bahkan tidak tanggung-tanggung, Gus Dur pun kemudian mengeluarkan Dekrit Presiden pada 23 Juli 2001 untuk membubarkan MPR dan DPR. Mungkin saja, usulan pembubaran MPR/DPR ini karena Gus Dur menganggap bahwa wakil-wakil rakyat yang menjabat kala itu dinilai tidak lebih dari sekedar anak TK (taman kanak-kanak). Bagaimana tidak, ketika Gus Dur sedang berdiri di podium di depan seluruh anggota MPR/DPR, Gus Dur pun mengguncang wakil-wakil rakyat tersebut dengan gurauan-gurauannya hingga suasana tegang pun menjadi “kelas taman kanak-kanak” yang dipenuhi dengan candatawa.
Setelah dipikir-pikir, bukan hanya MPR/DPR saja yang seharusnya di cap sebagai anak TK, melainkan seluruh orang yang tidak mengenal dan mengerti Gus Dur lebih dekat. Sebut saja Fidel Castro yang akhirnya tertawa terpingkal-pingkal di “pangkuan” Gus Dur. Bukan hanya pemimpin sangar Kuba Fidel Castro saja yang dapat dibuatnya terpingkal-pingkal karena masih banyak sebenarnya yang kemudian dibuat tertawa olehnya.
Untuk mengenang tawa Gus Dur yang tidak mungkin dilontarkan lagi olehnya, maka dalam bab ini pun sengaja disediakan secara khusus agar pembaca dapat mengetahui betapa konyol situasinya jika harus berhadapan dengan Gus Dur. Berikut adalah beberapa joke-joke ringan yang pernah diutarakan Gus Dur. “Gitu aja kok repot!”
Tuhan dan Anaknya
Cerita ringan ini sempat disampaikan kepada Dahlan Iskan yang kal itu sedang mnjenguk Gus Dur ketika dirinya sedang dalam kadaan sakit. Untuk mengakrabkan suasana, Gus Du pun brcerita tentang seorang Kyai yang sedang mengeluh kepadanya. Kyai tersebut mngeluh kepada Gus Dur karena salah seorang anaknya masuk ke agama Kristen. Hal ini tentu bertolak belakang dengan keyakinannya yang berjalan di jalan Islam. Namun demikian, Gus Dur hanya memberikan gambaran dengan mengatakan, ”Sampeyan (Anda) jangan mengeluh ke Tuhan. Nanti Tuhan akan bilang, ‘Saya saja yang punya anak satu-satunya, masuk Kristen!’”
Fidel Castro dan B.J. Habibie
Sebuah cerita menarik ini di dapat ketika Gus Dur yang kala itu menjabat sebagai Presiden RI ke-4 sedang mengunjungi Kuba dan bertemu dengan pemimpinnya yang terkenal sangar dan menakutkan tersebut, Fidel Castro.
Dalam pertemuannnya tersebut, Gus Dur “menghiburnya” dengan candaannya yang menyebutkan bahwa presiden-prseiden di Indonesia itu gila semuanya. Gus Dur mengatakan kepada Fidel Castro bahwa “Presiden Gila RI” itu ada empat, yaitu yang pertama gila wanita, yang kedua gila harta, yang ketiga gila teknologi, dan yang keempat pemilihnya yang gila.
Seperti yang dikutip dari harian koran Surabaya Post, Gus Dur menyebutkan bahwa Presiden Soekarno yang juga sebagai Presiden RI pertama disebut sebagai gila wanita. Presiden Ri kedua, Presiden Soeharto, disebut sebagai gila harta. Presiden RI ketiga, Presiden Habibie, benar-benar gila ilmu (teknologi). Sedang yang keempat, yaitu dirinya sendiri tidak dinyatakan “gila” karena pemilihnya adalah gila dan dirinya mampu membuat banyak orang gila.
Mendengar penjelasan tersebut, sontak Fidel Castro pun menjadi terpingkal-pingkal. Namun belum sempat tawa tersebut surut, Gus Dur pun kemudian menambahkan pertanyaan kepada Fidel Castro, “Yang Mulia Presiden Castro termasuk yang mana?” Dan dengan dalam kondisiny ayang masih tertawa, Fidel Castro pun menyautnya bahwa dirinya termasuk yang ketiga dan keempat.
(Mungkin) merasa dihinakan, ketika Gus Dur hendak berkunjung ke mantan Presiden Ri ke-3 tersebut di Jerman, salah seorang teman dekat Habibie pun meminta Gus Dur untuk mengulangi ceritanya kepada Fidel Castro tersebut. Hanya saja, Gus Dur pun sedikit merubah ceritanya hanya untuk “menghibur” sang mantan presiden. Dalam ceritanya tersebut, Gus Dur mengatakan kepada Fidel Castro bahwa Presiden RI itu hebat-hebat. Presiden Soekarno dinyatakan sebagai negarwan, Presiden Soeharto dinyatakan sebagai hartawan, Presiden Habibie adalah seorang ilmuwan, sdang dirinya sendiri adalah wisatawan.
Presiden Filipina dan 3 anaknya
Gus Dur memang tidak tanggung-tanggung dalam hal mengeluarkan candanya. Jika dengan Fidel Casto dirinya menceritakan tentang Presiden RI, kali ini Gus Dur pun mengeluarkan candanya tentang Presiden Filipina dengan ketiga anaknya.
Diceritakannya kala itu bahwa Presiden Filipina yang memiliki kekuasaan “abadi” pun kemudian menjadikan ketiga anaknya berulah. Ketiga anak-anaknya ini tidak perduli dengan apa yang akan terjadi, yang mereka ketahui adalah mereka berhak melakukan apapun karena sebagai anak nomor satu di Filipina. Dengan kondisinya yang demikian, anak keduanya pun mencoba mencari sensasi dengan menyebarkan uang kertas bernilai 5 peso hingga jutaan jumlahnya melalui pesawat terbang. Namun aksi ini pun kemudian tidak dapat diterima oleh sang kakak. Merasa disepelekan, sang kakak pun mengikuti jejak sang adik, hanya saja, jumlah yang disebarkan kala itu jauh lebih banyak.
Merasa tidak ingin disaingi, si bungsu pun kemudian mencoba melakukan hal yang berbeda, namun dirinya tidak mengetahui harus berbuat apa. Sebagai anak bungsu dan juga ingin memiliki aksi yang lebih atraktif, dia pun kemudian meminta saran kepada pilot pesawat yang sebelumnya juga ikut dalam aksi kakak-kakaknya sebelumnya.
“Mas kapten, aku ingin popular seperti dua kakakku sebelumnya, tapi tindakan popular apa yang bisa membahagiakan rakyat?” Tanya si putri bungsu.
“Gampang sekali. Buang saja ayah Nona dari atas pesawat.” Jawab sang pilot ringan.
Paraguay VS Brazil
Dalam sebuah pekan, Gus Dur yang gemar mengeluarkn crita-cerita lucu pun mencoba kembali menghibur. Kala itu, Gus Dur pun menceritakan tentang dua negara yang menurutnya sama-sama aneh, yaitu Paraguay dan Brazil.
Diceritakan kala itu seorang Panglima Angkatan Laut (AL) Paraguay sedang melakukan kunjungan ke negara Brazil. Dalam kunjungannya tersebut, panglima tersebut pun akhirnya disambut oleh Panglima AL Brazil. Merasa ingin mendekatkan diri, salah seorang staf dari AL Brazil pun kemudian berceloteh kepada Panglima AL Paraguay, ”Negara Bapak itu aneh, ya. Tidak punya laut tapi punya panglima seperti Bapak.”
Meski dirinya merasa dicemooh, Panglima AL Paraguay tersebut pun akhirnya memilih untuk menanggapinya dengan tenang dan sabar, ”Negeri Anda ini juga aneh, ya. Hukumnya tidak berjalan, tapi merasa perlu mengangkat seorang menteri kehakiman.”
Made in Japan
Suatu ketika, saat Gus Dur sedang dikunjungi oleh temannya yang kebetulan berasal dari Jepang, keduanya pun hendak meneruskan pejalanannya menuju bandara. Seusai pertemuannya di hotel Hilton, keduanya pun sepakat untuk menggunakan jasa taksi untuk lebih merakyat.
Setelah menaiki taksi tersebut, tiba-tiba taksi yang meeka naiki pun dibalap oleh sebuah mobil yang diketahui buatan Jepang. “Aah... Toyota. Made in Japan. Sangat cepat....” Ucap teman Gus Dur dengan bangga.
Bangganya teman Gus Dur kala itu pun hanya disambut dengan senyumnya yang ringan. Namun tidak lama beslang kemudian, sebuah mobil kembali membalap taksi yang mereka tumpangi. “Aah... Nissan. Made in Japan. Sangat cepat....” Ucap teman Gus Dur kembali dengan bangga.
Tidak selang berapa waktu kemudian, taksi mreka kembali dibalap lagi oleh sebuah mobil yang menjadikan teman Gus Dur semakin bangga, ”aah... Mitubishi. Made in Japan. Sangat cepat....” Ucap teman Gus Dur sekali lagi dengan bangga.
Merasa bosan dan jengkel dengan sikap sombong yang diuraikan teman Gus Dur tersebut, sang sopir taksi pun menggunakan kesempatan tersebut untuk memberikan efek jera kepadanya. Setelah keduanya sampai ditujuan, sang sopir pun menarget dengan upah sebanyak 100 USD. Sontak teman Gus Dur pun terkejut dengan biayanya yang terbilang besar tersebut, ”100 dollars?! Its not that far from the hotel....” Melihat kejadian tersebut, Gus Dur bukannya protes ke sopir taksi tersebut untuk membantu temannya, dia malah mendukung si sopir taksi tersebut dengan mengatakan, ”aah... argometer ini kan made in Japan juga, jadi sangat cepat sekali”.
Gus Dur dan Banser (Barisan Serbaguna)
Kisah ini diceritakan kembali oleh Gus Dur yang latar yang kala itu dirinya sedang berkunjung ke Malang untuk menghadiri sebuah acara. Mendengar akan datang Gus Dur dalam acara tersebut pun menyebabkan banyaknya orang yang menantikan kehadirannya tersebut. Itu sebab, untuk mengantisipasi kejadian tersebut, panitia penyelenggara acara pun membagi tugas kepada banser dalam dua tim yang berbeda, yaitu di Bandara Abdurrahman Saleh dan tempat terselenggaranya acara tersebut.
Dengan turunnya pesawat yang dinaiki Gus Dur, salah seorang anggota Banser yang berjaga di bandara pun mencoba menghubungi petugas yang lainnya untuk segra bersiap karena Gus Dur sudah datang. Entah karena terlalu brsemangat atau gugup, petugas yang sedang menghubungi petugas lainnya pun menjadi salah tingkah.
“Halo. Kontek... kontek.... Kyai Abdurrahman Saleh sudah mendarat di Bandara Abdurrahman Wahid (Gus Dur).” Ucap seorang petugas tersebut.
Sontak saja dari sisi lain pun menjadi kebingungan yang akhirnya menjadi tawa yang lebar. Bukannya Kyai Abdurrahman Wahid sudah datang di Bandara Abdurrahman Saleh, malah Kyai Abdurrahman Saleh sudah mendarat di Bandara Abdurrahman Wahid.
Mahfud MD; Orang Madura dan Polisi
Kejadian kali ini tidak melibatkan Gus Dur di dalamnya, melainkan Gus Dur yang kala itu masih menjabat sebagai presiden sedang menceritakan sebuah kisah kepada menteri pertahannya, Mahfud MD.
Dalam pembicaraannya kepada Mahfud MD tersebut, Gus Dur menceritakan bahwa orang Madura itu cerdik-cerdik. Dalam ceritanya, seorang sopir becak sedang melanggar rambu lalu lintas tersebut tertangkap basah oleh seorang polisi yang saat itu sedang bertugas.
“Apa kamu tidak melihat rambu itu? Rambu itu kan artinya becak dilarang masuk!” Bentak polisi tersebut.
“Oh, saya lihat kok, Pak. Tapi, dalam rambu itu kan gambarnya becak kosong dan tidak ada sopirnya. Lha becak saya kan tidak kosong dan ada sopirnya. Berarti kan boleh masuk.” Jawab bang becak ringan.
“Bodoh! Apa kamu tidak membaca tulisan di bawahnya? Di bawah gambar itu kan ada tulisannya becak dilarang masuk!” Bentak polisi tersebut yang semakin kesal.
“Wah, saya kan tidak bisa baca, Pak. Kalau saya bisa baca, ya... saya bisa jadi polisi kayak sampeyan, Pak. Bukan tukang becak kayak begini.” Jawab bang becak kembali dengan nada bergurau.
Telat mencabut
Kembali kenangan yang diperoleh oleh Dahlan Iskan saat menjenguk Gus Dur. Kala itu dahlan Iskan pun diberikan pertanyaan ringan oleh Gus Dur, ”Apa yang menyebabkan persamaan antara sakit gigi, orang hamil, dan rumput panjang?”
Belum sempat pertanyaan tersebut dijawab (yang kmungkinan jika dijawab pun akan salah), Gus Dur pun menjawabnya sendiri ”Penyebab sakit gigi itu sama dengan penyebab orang hamil dan sama juga dengan penyebab mengapa rumput tumbuh tinggi, yaitu sama-sama terlambat dicabut.”
Begitulah Gus Dur. Selalu hidup dengan lelucon-leluconnya untuk membantu orang di sekelilingnya selalu tertawa. Dia lupa bahwa dirinya sedang dalam keadaan yang kurang baik secara fisik, namun demikian kepentingan kebahagiaan orang lainlah yang kiranya diutamakan baginya. Contoh di atas adalah sebagian kecil joke ala Gus Dur, karena sebenarnya masih banyak lelucon-lelucon Gus Dur yang kemudian banyak dituangkan dalam buku khususnya.
Sebagian orang memang memandang bentuk lelucon yang disampaikan Gus Dur ini memang pure lelucon belaka. Hanya saja, hal ini tidak disetujui oleh Jaya Suprana. Bahkan pemimpin tertinggi Museum Rekor Indonesia (MURI) ini menganggap bahwa Gus Dur layak mendapatkan sertifikat MURI karena sering disalah tafsirkan.
Masih dalam pendapat Jaya Suprana, dia menambahkan bahwa salah satu hal yang membuatnya tergelitik adalah adanya sebutan “Pak Gus Dur” yang sering didengarnya. Jaya Suprana masih kurang paham bagaimana seorang memanggil nama Gus Dur dengan penambahan “Pak”. Padahal, menurutnya, “Gus” sendiri dapat diartikan sebagai “Pak”.
Gus Dur di mata Jaya Suprana memang sosok yang sulit diterka. Itu sebab, dia pun kemudian menyamakan sosok Gus Dur ini sama dengan Socrates, seorang filsuf asal Athena-Yunani ini. Dalam penuangan pendapatnya tersebut, Jaya Suprana mengatakan bahwa antara Gus Dur dan Socrates memiliki kesamaan dalam hal pengungkapan yang ngawur atau dalam istilahnya sendiri menggunakan nama “biarisme”. Salah satu yang diingatnya adalah kasus yang menimpa diri Gus Dur akibat pendapatnya yang mengatakan bahwa Kitab Suci al-Quran adalah kitab suci pornografis. Itu sebab, tidak selang setelah pelontaran kalimat tersebut, Gus Dur pun akhirnya mendapat kcaman dan dituntut karena menganggap Gus Dur telah melecehkan dan menghina agama.
Mendengar dan mengetahui kelompok yang mending Gus Dur sebagai pelaku pelecehan agama, Jaya Suprana pun kemudian memberikan komentar bahwa hal tersebut tidak benar. Sedang di sela waktunya, ketika dirinya bertemu dengan Gus Dur itu sendiri, Gus Dur malah dengan santai mengatakan, ”Biar saja, biar rame!”1
Hal senada pun disampaikan oleh Dr. Handojo, dokter umum RS Harum, Kalimalang-Jakarta Pusat yang juga memerankan tokoh Gus Dur dalam acara “Republik mimpi Newsdotcom”. Dr. Handojo menganggap bahwa Gus Dur adalah seorang yang bicara apa adanya dan tidak dibuat-buat jika dihadapkan dalam situasi apapun yang mengaruskan dirinya menjawab. “Gus Dur itu kalau menjawab nggak pernah lama mikir. Ceplas-ceplos....” ucap pria kelahiran Nganjuk 12 Agustus 1954 yang keap disapa Gus Pur ini.2
Dr. Handojo menambahkan, dirinya pernah “diadu” dengan Gus Dur asli saat sedang dalam wawancara dalam acara Kick Andy di Metro TV. Salah satu yang masih membekas dalam pikirannya adalah ketika dirinya ditanya tentang bagaimana jika dirinya terpilih kembali sebagai presiden, apa yang akan dilakukannya, dirinya pun dengan ringan menjawab, ”Ya yang menyangkut hajat hidup rakyat banyak. Rakyat itu kan nggak neko-neko. Asal sandang, pangan, kesehatan, pendidikan terpenuhi.”
Pertanyaan pun kemudian berlanjut dengan apa alasannya tidak dilakukan pada saat dirinya menjadi presiden, Dr. Handojo kembali mengeluarkan statement bahwa dirinya tidak sempat melakukannya. “Nggak sempat, baru sebentar sudah diturunin.”
Tidak puas dengan jawaban tersebut, Dr. Handojo kembali lagi didera dengan pertanyaan tentang apa alasannya dirinya diturunkan. “Nggak tahu, tanya Amien Rais sana....” Jawabnya singkat.
Sepintas banyak orang pun kemudian mengeluarkan tawanya yang lebar akibat kelucuan yang dikeluarkan oleh Dr. Handojo tersebut. (Mungkin) mereka berpikir bahwa jawaban itu hanya sekedar untuk kebutuhan humor saja hanya untuk sekedar meningkatkan pamornya saja.
Meski secara implicit jawaan tersebut hanya sekedar untuk menghibur, namun di sisi lain hal tersebut ternyata seperti cermin dari jawaban Gus Dur itu sendiri. Benar saja, ketika keduanya dijejali persamaan yang sama, trnyata keduanya memiliki jawaban yang sama meski sebelumnya mereka dipisahkan agar tidak saling mendengar dan mencontoh satu sama lain. Dr. Handojo mengungkapkan bahwa hal ini sudah terjadi dua kali selama dirinya memerankan peran tokoh idolanya tersebut, yaitu di TVOne dan Metro TV itu sendiri.
Sikap konyol yang dilemparkan Gus Dur ini ternyata bukan terjadi pada saat dirinya mulai menjadi presiden, melainkan sifat dan sikap ini sudah ada sejak dirinya belum dikenal banyak orang.
KH. Ilham Makhal, seorang kakak kelas Gus Dur di Pondok Pesantren (Pontren) Mualim Tamakberas Jombang ini mengatakan bahwa Gus Dur sendiri memang dikenal sebagai seorang yang santai dan senang bercanda. Dan salah satu yang diingatnya tentang sosok Gus Dur ini adalah ketika suatu pagi, dirinya menemui Gus Dur sedang berpakaian rapi (seperti yang dilakukan setiap pagi) dan membaca koran. Karena hal tersebut jarang dilakukan kebanyakan santri, KH. Ilham Makhal pun kemudian mencoba bertanya, ”Gus, sampeyan iku Gus kok moco koran (Gus, kamu itu kan Gus kok baca koran). Searusnya kan baca Quran....” Dengan ringan Gus Dur pun menjawabnya, ”Awakmu iku ngerti opo, Ham. (Kamu itu tahu apa, Ham.)”
Selanjutnya, KH. Ilham Makhal pun menceritakan tentang kegemaran Gus Dur yang selalu mengkritik dan menggoda guru ngajinya. Salah seorangnya adalah KH. Khudlori, salah seorang gurunya yang sangat takut dengan polisi. Pada sebuah kesempatan saat KH. Khudlori sdang makan, Gus Dur pun meneriakkan kata “polisi” dengan lantang. Lantaran merasa takut, guru Gus Dur tersebut pun memilih untuk segera berlari dan bersembunyi dengan meninggalkan makanannya. Namun tidak selang kemudian, KH. Khudlori pun kemudian ingat akan sikap iseng Gus Dur tersebut dan memilih untuk meneruskan makannya. Meski begitu, KH. Khudlori pun tidak marah terhadapnya, ”Ada-ada saja Gus Dur itu.”
Kisah lainnya yang masih diingat oleh KH. Ilham Makhal adalah ketika Gus Dur sedang mengikuti pengajian KH. Fattah di Tambakderes yang juga pamannya sendiri. Mengatahui kebiasaan KH. Fattah yang mengaji dengan bersandar di salah satu tiang yang ada trap tangganya, Gus Dur dengan santainya meletakkan kitabnya di trap tangga tersebut dan dirinya memilih untuk menghilang.
Tidak sekali kejadian tersebut dilakukan oleh Gus Dur. Itu sebab, ketika suatu saat ketika pengajian brikutnya akan dimulai, teman-temannya yang lainnya yang mengetahui Gus Dur tidak mengikuti pengajian tersebut pun kemudian mengajaknya untuk mengikuti pengajian tersebut. Dengan santainya, Gur Dur pun menjawab, ”Kitabku sudah ikut ngaji.”
1 Harian Koran Kompas, Sabtu 2 Januari 2010, hal. 6
2 Harian Koran Jawa Pos, Minggu 3 Januari 2010, hal. 14

