Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 November 2010

Hari Pahlawan - Surabaya Setelah Pendudukan Jepang 10 Nopember 1945


Di Indonesia, tanggal 10 Nopember selalu diperingati sebagai Hari Pahlawan. Tentu saja ini sangat menarik bagi pembacfa untuk mengetahui bagaimana dan mengapa tanggal 10 Nopember diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Dimulai dengan adanya proklamasi kemerdekaan Indonesia atas Jepang pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia rupanya tidak benar-benar merdeka. Meski tanggal 17 Agustus 1945 dinyatakan sebagai Hari Kemerdekaan Indonesia, Jepang yang merupakan negara anggota dari Aliansi Axis pun masih meninggalkan ‘warisan’ kepada tentara sekutu.
Seperti yang diketahuui, Amerika yang setelah peristiwa Pengeboman Pearl Harbor pada 7 Desember 1941 pun kemudian menyatakan resmi memasuki PD II pada keesokan harinya. Hal tersebut berarti menandakan bahwa Amerika dengan pasti bergabung dengan Inggris dan Negara-negara anti-Jerman pun kemudian mendeklarasikan diri sebagai kelompok sekutu. Diantara empat Negara terbesarnya dalah Amerika itu sendiri, Inggris, Rusia, dan China.
Pada masa sebelumnya, Jepang yang semula hendak menjalin kerjasama dengan Amerika tentang perdamaian kedua Negara tersebut akhirnya tidak mendapatkan jalan keluar. Itu sebab, bersamaan dengan penyerangannya di Pearl Harbor, Jepang pun kemudian mulai menginvasi kawasan Indochina, termasuk Indonesia.
Invasi Jepang terhadap Indonesia rupanya mampu menjadikan Negara Sakura tersebut dengan cepat mengalahkan Belanda –yang menjadi bagian dari negara sekut di Indonesia. Namun dengan adanya ultimatum yang dikeluarkan oleh Amerika setelah menggelar Konferensi Postdam pada 17 Juli 1945 yang kemudian menghasilkan Deklarasi Postdam pada 26 Juli 1945, menyatakan bahwa Jepang harus menyerah tanpa syarat.
Meski kekuatan Aliansi Axis telah mengalami kekalahan mutlak setelah Italia mengkudeta Benito Mussolini dan beralih ke pihak sekutu, Jerman yang menyatakan menyerah setelah Adolf Hitler diumumkan telah bunuh diri, Jepang tidak kunjung menyatakan menyerah kepada sekutu. Namun demikian, Jepang mewacanakan tentang perundingan perdamaian dengan Amerika. Sedang di sisi lain, negara sekutu sudah tidak lagi membutuhkan pembicaran yang menyebabkan keuntungan untuk Jepang. Dengan atas nama Amerika dan sekutu, pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, sebuah bom atom pun dijatuhkan di masing-masing wilayah Hiroshima dan Nagasaki. Dan pada   tanggal 9 Agustus 1945 itu pula, Jerman pun kemudian menginvasi tentara Jepang yang berada di Manchukuo.
Dengan adanya peristiwa pengeboman tersebut, Amerika pun kemudian kembali mengultimatum Jepang untuk menyerah atau akan dibumi-hanguskan. Mendengar hal tersebut, Jepang yang dipimpin oleh Kaisar Hirohito pun kemudian mengumumkan negaranya menerima Deklarasi Postdam untuk menyerah tanpa syarat pada tanggal 15 Agustus 1945.
Secara terpisah, di Indonesia, pada tanggal 10 Agustus 1945, Sutan Syahrir –yang kemudian menjadi Perdana Menteri Indonesia pertama pun mendapatkan kabar bahwa Jepang juga akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia pada tanggal 10 Agustus 1945. Namun demikian hingga tanggal 12 Agustus 1945, Sutan Syahrir yang masih melayat ke Vietnam pun tidak kunjung menerima kabar bahwa Jepang telah menyerah. Namun, Marsekal Hisaichi Terauchi, pemimpin pasukan Angkatan Darat Jepang untuk Asia yang telah melarikan diri ke Vietnam pun memberikan informasi kepada Sutan Syahrir bahwa negaranya akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia secepatnya.
Dan dua hari setelahnya, Sutan Syahrir pun kemudian meminta Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaannya. Meski pada awalnya internal pejabat Indonesia terlibat konflik antara segera memproklamasikan kemerdekaannya dan tidak terburu-buru, Indonesia pada 17 Agustus 1945 pun kemudian meprklamirkan diri merdeka dari Jepang. Sebagai catatan penting, Indonesia memang tidak pernah merdeka dari Belanda Karena dengan adanya kedatangan Jepang di Indonesia pada 1 Maret 1942, satu minggu setelahnya, tanggal 8 Maret 1942, Belanda menyatakan menyerah tanpa syarat ke Jepang. Itu berarti, Indonesia resmi telah diduduki oleh Jepang.
Dengan adanyanya Jepang yang menyerah kepada sekutu, Inggris yang juga menjadi bagain dari anggota sekutu pun kemudian mendarat di Indonesia 15 September 1945 di Indonesia di Jakarta. Sedang di Surabaya, Inggris yang sebelumnya telah menjalin hubungan kerjasama dengan Belanda pun mengirimkan pasukan tentaranya pada tanggal 25 Oktober 1942. Kedatangan Inggris yang bertugas untuk melucuti senjata Jepang rupanya juga memiliki niatan lainnya, yaitu ingin mengembalikan fungsi administrasinya kembali ke Belanda.
Indonesia yang tela memproklamiran diri dari kemerdekaannya pun pada tanggal 31 Agustus 1945 mengeluarkan kabijaksanaan untuk mengibarkan bendera negaranya (Sang Saka Merah Putih) mulai pada keesokan harinya tanggal 1 September 1945. Hanya saja, pada tanggal 18 September 1945 di Surabaya, di bawah komando W.V.Ch Ploegman mengibarkan bendera Belanda tanpa persetujuan pemerintah Indonesia di Surabaya di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato. Dan dengan adanya kejadian tersebut, para pemuda Surabaya yang melihatnya pun menjadi marah karena menganggap Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia.
Mengetahui adanya massa yang kelewat banyak, Residen Sudirman, pejuang dan diplomat yang saat itu menjabat sebagai Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) yang masih diakui pemerintah Dai Nippon Surabaya Syu, sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI pun mencoba melakukan perundingan dengan dikawal Sidik dan Hariyono. Namun demikian, dari hasil perundingannya dengan W.V.Ch Ploegman tidak menemukan hasil terang karena W.V.Ch Ploegman menolak untuk menurunkan bendera Belanda dan menolak untuk mengakui kedaulatan Indonesia. Dengan adanya jawab yang diberikan oleh pihak Belanda, situasi pun kemudian memanas hingga W.V.Ch Ploegman mengeluarkan pistol dan terjadi perkelahian hingga menewaskan W.V.Ch Ploegman ditangan Sidik, sementara Sudirman dan Hariyono melarikan diri ke luar Hotel Yamato.
Dengan adanya insiden tersebut, pada tanggal 27 Oktober 1945 antara Indonesia dan  Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI atau tentara gabungan Inggris-India dan Hindia-Belanda) pun terlibat pertempuran kecil yang kemudian membesar. Meski pada akhirnya Inggris yang diwakili Jenderal D.C. Hawthorn meminta bantuan Presiden Sukarno untuk meredakan situasi dan mengadakan gencatan senjata, rupanya tidak membuahkan hasil malah menyebabkan kematian Brigadir Jenderal (Brigjen) Aubertin Mallaby, pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur.
Kematian Brigjen Aubertin Mallaby pada 30 Oktober 1945 tersebut rupanya membawa dampak yang lebih buruk. Inggris yang kemudian marah pun kemudian mengutus Mayor Jenderal (Mayjen) Eric Carden Robert Mansergh untuk menggantikan posisi Brigjen Aubertin Mallaby. Dan dengan menjadinya Mayjen Eric Carden Robert Mansergh sebagai pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur, dia pun kemudian mengultimatum warga Surabaya untuk segera meletakkan senjatanya hingga batas akhir pada tanggal 10 Nopember 1945 pukul 6 (enam) pagi.
Meski Inggris telah memberikan ultimatum, rupanya warga Surabaya atau yang kemudian dikenal dengan “Arek-arek Suroboyo” tersebut tidak mengindahkannya. Dan mengetahui hal tersebut, Surabaya yang kemudian dianggap membangkang pun mendapatkan serangan yang hebat dari Inggris dengan menggunakan pesawat tempur, tank, hingga bom. Dengan adanya pertempuran yang tidak terkendali tersebut, Indonesia secara keseluruhan pun kemudian terlibat pertempuran melawan tentara gabungan Inggris, Belanda, dan India (Hindia-Belanda). Meski pada akhirnya Indonesia dapat ditaklukkan, dengan adanya tekanan internasional, pada tanggal 27 Desember 1949, Belanda pun kemudian menyerahkan kemerdekaan Indonesia sepenuhnya dan membangun Republik Indonesia Serikat. Namun demikian, pada tanggal 17 Agustus 1950, Presiden Sukarno pun kemudian kembali memproklamasikan Indonesia sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dan untuk memperingati perjuangan Surabaya dalam melawan “jajahan” Belanda pada tanggal 10 Nopember 1945, pada tanggal tersebut, oleh pemerintahan Indonesia pu dijadikan sebagai Hari Pahlawan.

Selasa, 28 Juli 2009

Negara Islam Indonesia

Darul Islam/Negara Islam Indonesia (DI/NII)


Negara Islam Indonesia (disingkat NII) dikenal juga dengan nama Darul Islam atau DI yang berarti “Rumah Islam”. Gerakan memerdekakan diri menjadi Negara Islam ini adalah sebuah gerakan politik yang diproklamasikan pada 7 Agustus 1949 (12 Sjawal 1368) oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo di desa Cisampah, kecamatan Ciawiligar, kawedanan Cisayong, Tasikmalaya-Jawa Barat.

Pergerakan ini dimulai dengan adanya penandatanganan persetujuan Reville pada 8 Desember 1947. Setelah penandatanganan tersebut, seluruh pasukan TNI segera meninggalkan Jawa Barat. Namun demikian, SM Kartosoewirjo beserta pasukannya (yaitu Hisbullah dan Sabilillah) tidak segera meninggalkan wilayah Jawa Barat. Dengan menempati dan menguasai Gunung Cepu, pasukan yang dipimpin oleh SM Kartosoewirjo ini kemudian dikenal dengan sebutan Tentara Islam Indonesia. Itu sebabnya, SM Kartosoewirjo kemudian menginginkan sebuah Negara yang berlandaskan Islam.

Tujuan utama dari gerakan ini adalah menjadikan Indonesia sebagai negara teokrasi dengan Islam sebagai dasar negaranya. Dalam proklamasinya disebutkan bahwa hukum yang berlaku dalam Negara Islam Indonesia adalah Hukum Islam, lebih jelas lagi dalam undang-undangnya dinyatakan bahwa Negaranya berdasarkan Islam dan hukum yang tertinggi adalah Al Quran dan Hadits. Proklamasi Negara Islam Indonesia dengan tegas menyatakan kewajiban negara untuk memproduk undang-undang yang berlandaskan syariat Islam, dan penolakan yang keras terhadap ideologi selain Al Quran dan Hadits Shahih, yang mereka sebut dengan “hukum kafir”.
Dalam perkembangannya, DI/NII kemudian menyebar hingga di banyak wilayah, terutama Jawa Barat (berikut dengan daerah yang berbatasan di Jawa Tengah), Sulawesi Selatan dan Aceh. Lantaran tidak sepaham dengan cita-cita proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, gerakan ini kemudian disebut sebagai pemberontakan. Namun Indonesia tidak langsung menghakimi melainkan melalui permusyawaratan terlebih dahulu. Dengan tidak adanya kesepakatan diantara keduanya, TNI kemudian melakukan penyerangan yang dimulai pada tahun 1960 yang dikenal dengan “Operasi Pagar Betis”. Dengan terpojoknya pasukan SM Kartosoewirjo, menjadikannya menyerah dan pimpinannya kemudian ditangkap TNI dan dieksekusi pada 4 Juni 1962 di Gunung Geber Jawa Barat. Dengan adanya kematian SM Kartosoewirjo tidak menjadikan mati pergerakannya dalam mendirikan Negara Islam Indonesia. Itu sebab gerakan ini masih terus bekerja meski secara diam-diam.

a. Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Amir Fatah
Dengan adanya proklamasi Negara Islam Indonesia di Jawa Barat, menjadikan Jawa Tengah yang memiliki misi yang sama bergabung dengan pasukan SM Kartosoewirjo. Pergerakan mendirikan Negara Islam Indonesia di Jawa Tengah ini dipimpin oleh Amir Fatah, seorang Komandan Laskar Hizbullah untuk wilayah Tulangan-Sidoarjo dan Mojokerto.
Penggabungan pasukannya tersebut kemudian diproklamirkan pada 23 Agustus 1949 di Pangarasan, Tegal dan mengakui bahwa SM Kartosoewirjo sebagai Imam (pimpinan pusat) mereka. Tentu saja, gerakan ini kemudian digagalkan oleh pemerintahan Indonesia. Sehingga pada tahun 1954, pemerintahan Indonesia kemudian mendirikan “Operasi Guntur” dan mampu menghentikan sikap yang dianggap sebagai separatis ini.

b. Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Kahar Muzakar
Gerakan pendirian Negara Islam Indonesia ini juga berlangsung di wilayah Timur Indonesia, yaitu Sulawesi Selatan. Pergerakan mendirikan Negara Islam Indonesia ini dipimpin oleh Kahar Muzakar. Sedang pergerakan ini dimulai ketika Kahar Muzakar beserta pasukannya yang tergabung dalam Komando Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) tidak mendapatkan perhatian pemerintah Indonesia dalam penyampaian seluruh aspirasinya. Itu sebabnya, Kahar Muzakar kemudian mendeklarasikan Negara Islam Indonesia di bawah pimpinan SM Kartosoewirjo pada tahun 1952 lantaran lebih memperhatikan seluruh anggotanya.
Hanya saja, gerakan ini kemudian juga dapat ditumpaskan oleh pemerintahan Indonesia pada tahun 1965. Sedang dalam operasi militer Indonesia, Kahar Muzakar kemudian tewas dan menghentikan gerakan Negara Islam Indonesia di Sulawesi Selatan ini.

c. Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Daud Beureuh
Pemberontakan DI/TII di Aceh dimulai dengan adanya “Proklamasi Daud Beureuh” yang menyatakan bahwa Aceh merupakan bagian “Negara Islam Indonesia” di bawah pimpinan Imam Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo pada tanggal 21 September 1953.
Daued Beureueh sendiri adalah mantan Gubernur Militer Daerah Istimewa Aceh sewaktu agresi militer pertama Belanda pada pertengahan tahun 1947. Sebagai Gubernur Militer, Daud Beureuh berkuasa penuh atas pertahanan daerah Aceh dan menguasai seluruh aparat pemerintahan baik sipil maupun militer. Sebagai seorang tokoh ulama dan bekas Gubernur Militer, Daud Beureuh tidak sulit memperoleh pengikut. Daud Beureuh juga berhasil mempengaruhi pejabat-pejabat Pemerintah Aceh, khususnya di daerah Pidie. Untuk beberapa waktu lamanya Daud Beureuh dan pengikut-pengikutnya dapat mengusai sebagian besar daerah Aceh termasuk sejumlah kota.
Namun demikian, sesudah bantuan datang dari Sumatera Utara dan Sumatera Tengah, operasi pemulihan keamanan TNI segera dimulai. Setelah didesak dari kota-kota besar, Daud Beureuh meneruskan perlawanannya di hutan-hutan. Penyelesaian terakhir Pemberontakan Daud Beureuh ini dilakukan dengan suatu “Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh” pada 17-28 Desember 1962 atas prakarsa Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel M. Jassin.
Dengan berakhirnya Negara Islam Indonesia, tidak menjadikan Islam kembali dalam keterpurukan, malahan selalu aktif dalam urusan kepemerintahan. Salah satu penyebabnya adalah mayoritasnya Islam di Indonesia dan posisi kepartaian di Indonesia semenjak pemilu pertama hingga kini.

Wali Songo

WALI SONGO


Islam di Indonesia sangat identik dengan jejak penyebaran para tokoh Islam di Jawa yang kemudian disebut dengan Wali Songo. Meski demikian, bukan berarti Islam baru dikenalkan setelah para wali ini datang ke tanah Jawa. Sedang Islam sendiri diketahui telah menyebar ke Indonesia melalui kerajaan Pasai (Sematera). Hanya saja, Islam pada masa wali ini memiliki corak yang berbeda, yaitu menjadikan Islam di Jawa memiliki dua pandangan, yaitu antara Islam abangan dan Islam putihan.
Islam abangan inilah yang kemudian menjadikan banyak masyarakat Jawa yang beraliran Hindhu-Budha menjadi Islam. Hal ini dikarenakan dalam ajarannya, Islam abangan mengenalkan ajarannya sesuai dengan apa yang disenangi masyrakatnya, yaitu seni dan pewayangan. Sedang Islam putihan hanya tertuju pada ajaran Islam yang tidak mengambil cara demikian.
Wali songo sendiri diyakini sebuah majelis (organisasi) Islam saat itu dengan anggotanya yang berjumlah hingga sembilan orang, sedang pendirinya adalah Raden Rahmad (Sunan Ampel). Pendapat lain menyebutkan bahwa kata “songo” berasal dari kata “tsana” yang dalam bahasa Arab berarti mulia. Pendapat lainnya lagi menyebut kata “sana” berasal dari bahasa Jawa, yang berarti tempat. Hanya saja wali songo dikenal sebagian besar masyarakat dikarenakan masa-masa tersebutlah Islam kemudian menjadi semakin luas, yaitu tidak hanya melalui perdagangan dan dakwah, melainkan pula melalui kesenian tradisional masing-masing masyarakat Jawa. Selain tersebut, para wali ini juga dapat digunakan sebagai symbol kebesaran Islam dalam Indonesia, terutama di Jawa. Berikut adalah susunan wali songo yang menjadi perdebatan diantara kalangan umum saat ini.
Pendapat pertama, yaitu yang menyebutkan wali songo sebagai majelis Islam adalah terdiri dari:
1. Raden Rahmad (Sunan Ampel)
2. Raden Hasan (Pangeran Bintara)
3. Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang)
4. Raden Qasim (Sunan Drajat)
5. Utsman Haji (Sunan Ngudung)
6. Raden Paku (Sunan Giri)
7. Syekh Suta Maharaja
8. Raden Hamzah (Pangeran Tumapel)
9. Raden Mahmud
Sedang pendapat berikutnya, yaitu kebanyakan datang dari kalangan Jawa Timur beranggapan bahwa wali songo terdiri dari:
1. Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik)
2. Raden Rahmad (Sunan Ampel)
3. Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang)
4. Raden Qasim (Sunan Drajat)
5. Raden Paku (Sunan Giri)
6. Jakfar Shadiq (Sunan Kudus)
7. Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)
8. Raden Said (Sunan Kalijaga)
9. Raden Umar Said (Sunan Muria)
Pendapat yang lainnya, yang kebanyakan diyakini dari kalangan Jawa Tengah, yaitu wali songo terdiri dari:
1. Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik)
2. Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang)
3. Kyai Bah Tong (Sunan Bentong)
4. Raden Burereh (Pangeran Majagung)
5. Raden Qasim (Sunan Drajat)
6. Raden Paku (Sunan Giri)
7. Jakfar Shadiq (Sunan Kudus)
8. Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)
9. Syekh Siti Djenar (Syekh Lemah Abang)
Sedang di Jawa Barat, terdapat pendapat yang lainnya pula, yaitu wali songo terdiri dari:
1. Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik)
2. Raden Burereh (Pangeran Majagung)
3. Kyai Bah Tong (Sunan Bentong)
4. Raden Rahmat (Sunan Ampel)
5. Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang)
6. Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)
7. Syekh Siti Djenar (Syekh Lemah Abang)
8. Raden Paku (Sunan Giri)
9. Raden Said (Sunan Kalijaga)
Dengan beragamnya nama-nama dalam susunan wali songo, adalah tidak menjadi masalah karena yang telah para wali ini memiliki jasa yang besar dalam penyebaran Islam.


1. Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik)
Dalam penyebutan nama Maulana Malik Ibrahim adalah sangat banyak dalam susunan wali songo meski banyak pula yang tidak memasukkannya. Maulana Malik Ibrahim juga diyakini salah satu keturunan Nabi Muhammad dari Husain bin Ali dan dianggap sebagai wali pertama yang mendakwahkan Islam di Jawa. Maulana Malik Ibrahim memiliki banyak nama sebutan, diantaranya dikenal sebagai Sunan Gresik, Syekh Maghribi, Makhdum Ibrahim as Samarqandy, dan atau Kakek Bantal.
Maulana Malik Ibrahim diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah pada paruh awal abad ke-14. Sebagian ada pula yang mengatakan bahwa Maulana Malik Ibrahim berasal dari Persia. Berikut adalah silsilah Maulana Malik Ibrahim hingga Nabi Muhammad, yaitu putra dari Zainal Alam Barakat (Barokah Zainul Alam) bin Jamaluddin Akbar al-Husain (Maulana Akbar) bin Ahmad Syah Jalal bin Abdullah (al-Azhamat) Khan bin Abdul Malik (Ahmad Khan) bin Alwi Ammi al Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi ats Tsani bin Muhammad Sahibus Saumiah bin Alwi Awwal bin Ubaidullah bin Ahmad al Muhajir bin Isa ar Rummi bin Muhammad al Naqib bin Ali al Uraidhi bin Ja’far ash Shadiq bin Muhammad al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib.
Pada awal penyebaran Islamnya, Maulana Malik Ibrahim Ibrahim dan Maulana Ishaq berpisah setelah datang di pulau Jawa. Maulana Ishak mengislamkan Samudera Pasai, sedang Maulana Malik Ibrahim ke Champa, Vietnam Selatan
Maulana Malik Ibrahim disebutkan bermukim di Champa selama tiga belas tahun. Di sana Maulana Malik Ibrahim menikahi putri raja yang memberinya dua putra; yaitu Raden Rahmat (Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha atau Raden Santri. Setelah cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, ia hijrah ke pulau Jawa dan meninggalkan keluarganya.
Daerah yang ditujunya pertama kali ialah desa Sembalo, sekarang adalah daerah Leran, Kecamatan Manyar (9 kilometer ke arah utara kota Gresik). Dalam dakwahnya, Maulana Malik Ibrahim kemudian mendirikan mesjid pertama di desa Pasucinan, Manyar.
Dengan maraknya perdagangan yang melibatkan masyarakat banyak, termasuk raja dan para bangsawan, pemilik kapal atau pemodal, Maulana Malik Ibrahim pun melakukan usaha berdagang. Sedang daerah yang dipilihnya adalah di tempat pelabuhan terbuka, yang sekarang dinamakan desa Roomo, Manyar. Selain dalam hal berdagang, Maulana Malik Ibrahim juga melakukan kunjungan ke ibukota Majapahit di Trowulan guna mengajak raja Majapahit masuk dalam Islam. Hanya saja, raja Majapahit tidak masuk Islam. Meski demikian, dia menerimanya dengan baik dan bahkan memberikan sebidang tanah di pinggiran kota Gresik kepada Maulana Malik Ibrahim. Wilayah itulah yang sekarang dikenal dengan nama desa Gapura.
Dalam hal penebaran Islam, Maulana Malik Ibrahim juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam dan sering mengobati masyarakat sekitar tanpa biaya. Itu sebabnya, ajaran Islam yang dibawa Maulana Malik Ibrahim dengan cepat memasyarakat. Setelah selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419, Maulana Malik Ibrahim kemudian wafat dan kini makamnya dapat ditemui di desa Gapura Wetan, Gresik-Jawa Timur.

2. Raden Rahmad (Sunan Ampel)
Maulana Malik Ibrahim setelah menikahi putri Champa, telah meninggalkan dua anaknya, yaitu Sayyid Ahmad Rahmatillah dan Sayid Ali Murtadha. Sayyid Ahmad Rahmatillah inilah ketika dewasa menyusul Maulana Malik Ibrahim ke tanah Jawa yang kemudian dikenal dengan Raden Rahmad pada tahun 1443. Dalam penyebaran Islamnya, Raden Rahmad kemudian memilih Ampel Denta, Surabaya sebagai pijakan pertamanya. Itu sebab, Raden Rahmad kemudian disebut pula Sunan Ampel dan dianggap sebagai sesepuh oleh para wali lainnya.
Lantaran sebagai putra Maulana Malik Ibrahim, Raden Rahmad pun juga keturunan Nabi Muhammad, sedang namanya adalah Sayyid Ahmad Rahmatillah bin Maulana Malik Ibrahim bin Zainal Alam Barakat bin Jamaluddin Akbar al Husain (Maulana Akbar) bin Ahmad Syah Jalal bin Abdullah (al-Azhamat) Khan bin Abdul Malik (Ahmad Khan) bin Alwi Ammi al Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi ats Tsani bin Muhammad Sahibus Saumiah bin Alwi Awwal bin Ubaidullah bin Ahmad al Muhajir bin Isa ar Rummi bin Muhammad al Naqib bin Ali al Uraidhi bin Ja’far ash Shadiq bin Muhammad al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib.
Raden Rahmad termasuk seorang yang mulia, ini dikarenakan bahwa pendirian majelis ulama pertama kali adalah berkat usahanya, yaitu yang sekarang dikenal sebagai wali songo. Sedang pendirian majelis ini adalah guna menyebarkan Islam secara menyeluruh hingga pelosok Nusantara (Indonesia). Majelis wali songo inilah yang kemudian masih dalam perdebatan hingga kini, yaitu tentang siapa anggotanya dan kebenaran keberadaan majelis ini. Sedang Raden Rahmad sendiri membagi wilayah penyebaran Islam kepada seluruh murid-muridnya yang dinyatakan telah siap. Itu sebab, Raden Rahmad yang dijuluki sebagai Sunan Ampel kemudian menjadikan Ampel sebagai pusat dari penyebaran Islam saat itu.
Diantara banyak murid Raden Rahmad adalah keturunannya sendiri yang kemudian juga termasuk dalam susunan wali songo. Diantaranya adalah:
1. Dari pernikahannya dengan Dewi Candrawati, seorang putri dari kerajaan Majapahit. Sedang beberapa sejarah mengarah bahwa istri Raden Rahmad tersebut adalah Nyai Ageng Manila, putri dari Adipati Tuban (Arya Teja).
a. Raden Makdum Ibrahim, yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Bonang.
b. Raden Qasim Syarifudin, yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Drajat.
c. Raden Rahmad, yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Lamongan.
d. Nyai Ageng Maloka (Siti Muthmainah), yang kemudian menjadi istri dari Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.
e. Siti Syariah (Syarifah), yang kemudian menjadi menjadi istri dari Raden Usman Haji atau Sunan Ngudung. Sedang keturunannya kemudian dikenal sebagai Sunan Kudus (Raden Jakfar Shadiq).
f. Siti Khafshah, yang kemudian menjadi istri dari Raden Said (Sunan Kalijaga).

2. Dari pernikahannya dengan Siti Karimah, seorang putri dari Ki Ageng Supa yang juga merupakan murid Raden Rahmad yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Bungkul.
a. Dewi Murthasiah, yang kemudian menjadi menjadi istri pertama dari Raden Paku atau Sunan Giri.
b. Dewi Murthasimah, yang kemudian menjadi istri dari Raden Hasan (Raden Patah/Sultan Demak).
Selama dalam penyebaran Islamnya, Raden Rahmad berhasil membangun sebuah masjid di Demak pada tahun 1479 yang kemudian dikenal dengan Mesjid Agung Demak. Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.

3. Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang)
Dari pasangan Raden Rahmad dan Dewi Candrawati (Nyai Ageng Manila) inilah Raden Makdum Ibrahim dilahirkan. Dalam dakwahnya, Raden Makdum Ibrahim menggunakan kesenian sebagai media pengenalan pengamalan dari agama Islam terhadap masyarakatnya. Salah satu kesenian yang dikaryakannya dan hingga kini masih dikenal adalah tembang “tombo ati” dan rabab dalam gamelan. Sedang daerah yang menjadi siar Islamnya adalah Bonang, kabupaten Rembang.
Raden Makdum Ibrahim dilahirkan sekitar tahun 1465. Sedang kematiannya adalah sekitar tahun 1525. Sedang kematiannya adalah sebuah keajaiban, yaitu terdapat dua makam di tempat yang berbeda, antara Tuban dan Bawean. Raden Makdum Ibrahim sendiri meninggal di Bawean, sedang muridnya yang berasal dari Tuban mengetahui perihal kematian Raden Makdum Ibrahim kemudian segera menjemput dan berniat membawa jenazah Raden Makdum Ibrahim ke Tuban, sedang yang berhasil dibawa oleh para muridnya hanya pakaian dan kain kafannya saja. Sedang data lain menyebutkan bahwa yang memperebutkan jenazah Raden Makdum Ibrahim dari bawean tersebut adalah murinnya yang berasal dari Madura. Hanya saja, di tengah perjalanan, jenazah Raden Makdum Ibrahim kemudian dapat diambil oleh para murid lainnya yang berasal dari Tuban.
Bagaimanapun sejarah tersebut menyebutkan, kini makam Raden Makdum Ibrahim terdapat di dua tempat, yaitu Bawean dan Tuban. Sedang yang sering dikunjungi sebagai ziarah para wali adalah di Tuban. Kebenaran akan kedua makam tersebut adalah dari kejadian yang meninggalkan masing-masing diantara jenazah tersebut adalah masing-masing mengenakan selembar kain kafan. Sedang jenazahnya yang sebelum diperebutkan mengenakan dua lembar kain kafan.

4. Raden Qasim Syarifudin (Sunan Drajat)
Setelah Raden Makdum Ibrahim dilahirkan, Raden Rahmad dan Dewi Candrawati (Nyai Ageng Manila) kemudian diberikan keturunan kembalai, yaitu Raden Qasim Syarifudin. Dalam dakwahnya, Raden Qasim syarifudin menekankan kedermawanan, kerja keras, dan peningkatan kemakmuran masyarakat, sebagai pengamalan dari agama Islam.
Raden Qasim Syarifudin diperkirakan dilahirkan pada tahun 1470. Sedang daerah yang menjadi dakwahnya adalah desa Drajat, Paciran-Lamongan. Itu sebab Raden Qasim Syarifudin juga dikenal sebagai Sunan Drajat. Daerah yang dijadikan dakwahnya adalah daerah pemberian Raden Patah, kerajaan Demak. Setelah memberikan daerah tersebut dan menilai Raden Qasim Syarifudin telah berhasil membangun akhlak dan ekonomi daerahnya, Raden Patah kemudian menyebutnya sebagai Sunan Mayang Madu pada tahun saka 1442 atau bertepatan dengan tahun 1520.
Seperti saudaranya, Raden Qasim Syarifudin juga menggunakan kesenian sebagai media dakwahnya. Hal ini dapat diketahui dengan peninggalannya yang berupa tembang “macapat pangkur” dan gamelan Singomengkok yang kini masih ada peninggalannya di Musium Daerah Sunan Drajat, Lamongan ayng telah diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur pada 1 Maret 1992.
Raden Qasim Syarifudin diperkirakan wafat pada tahun 1522. Sedang dalam kompleks makamnya terdapat tujuh filosofi yang telah diajarkan meluas di masyarakatnya. Diantara ketujuh filosofi tersebut adalah sebagai berikut.
1. Memangun resep teyasing Sasomo (kita selalu membuat senang hati orang lain)
2. Jroning suko kudu eling Ian waspodo (di dalam suasana riang kita harus tetap ingat dan waspada)
3. Laksitaning subroto tan nyipto marang pringgo bayaning lampah (dalam perjalanan untuk mencapai cita - cita luhur kita tidak peduli dengan segala bentuk rintangan)
4. Meper Hardaning Pancadriya (kita harus selalu menekan gelora nafsu-nafsu)
5. Heneng - Hening - Henung (dalam keadaan diam kita akan mem­peroleh keheningan dan dalam keadaan hening itulah kita akan mencapai cita - cita luhur).
6. Mulyo guno Panca Waktu (suatu kebahagiaan lahir batin hanya bisa kita capai dengan salat lima waktu)
7. Menehono teken marang wong kang wuto, Menehono mangan marang wong kang luwe, Menehono busono marang wong kang wudo, Menehono ngiyup marang wongkang kodanan (Berilah ilmu agar orang menjadi pandai, Sejahterakanlah kehidupan masya­rakat yang miskin, Ajarilah kesusilaan pada orang yang tidak punya malu, serta beri perlindungan orang yang menderita)

5. Raden Paku (Sunan Giri)
Kelahiran Raden Paku atau Raden ‘Ainul Yaqin dengan tanpa kehadiran bapaknya disampingnya. Hal ini lantaran Maulana Ishaq, bapaknya memilih berhijrah ke kerajaan Pasai dua bulan sebelum kelahirannya. Sedang kepergian ini diaksudkan demi keselamatan Raden Paku dari keganasan Patih Bajul Seggara yang memang menginginkan kematian Maulana Ishaq.
Pada dewasanya, Raden Paku pun lebih memilih dibuang oleh ibunya, Dewi Sekardadu juga demi keselamatan Raden Paku dari percobaan pembunuhan akibat hasutan Patih Bajul Senggara kepada sultan Blambangan, yang merupakan kakek Raden Paku. Dalam pembuangan Raden Paku tersebut, Raden Paku dibuang melalui lautan yang kemudian ditemukan oleh pelaut yang hendak berdagang di Jawa atas perintah Nyai Gede Pinatih. Melihat sebuah kotak di lautan bebas, pelaut tersebut kemudian menyerahkan kotak tersebut beserta isinya yang berisi bayi kepada Nyai Gede Pinantih.
Karena bayi tersebut ditemukan di lautan bebas, Raden Paku pun kemudian dinamai sebagai Jaka Samudra. Nyai Gede Pinantih kemudian mengirim Jaka Samudra ke Ampeldenta guna mendalami Islam. Sedang berita pembuangan Raden Paku ke lautan pun akhirnya terdengar oleh Maulana Ishak. Dan berita adanya Raden Paku di tangan Nayai Gede Pinantih pun terdengar hingga pengirimannya ke Ampeldenta. Itu sebab, Maulana Ishaq kemudian menaruh pesan kepada Raden Rahmad (Sunan Ampel) yang merupakan anak dari kakaknya, Maulana Malik Ibrahim agar kembali menamainya sebagai Raden Paku dan segera memberitakan kebenaran silsilahnya.
Adapun Raden Paku selain dikenal sebagai Raden ‘Ainul Yaqin, beberapa nama lainnya juga dikenal sebagai Prabu Satmata dan Sultan Abdul Faqih. Sedang silsilah keluarganya adalah Raden Paku putra dari Maulana Ishaq bin Zainal Alam Barakat bin Jamaluddin Akbar al Husaini (Jumadil Qubro) bin Ahmad Syah Jalal (Jalaluddin Khan) bin Abdullah (al Azhamat) Khan bin Abdul Malik (Ahmad Khan) bin Alwi Ammi al Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi ats Tsani bin Muhammad Sahibus Saumiah bin Alwi Awwal bin Ubaidullah bin Ahmad al Muhajir bin Isa ar Rummi bin Muhammad al Naqib bin Ali al Uraidhi bin Ja’far ash Shadiq bin Muhammad al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib (sepupu Nabi Muhammad).
Dalam mendalami ajaran Islam di Ampeldenta, Jaka Samudra berahabat dengan Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), anak Raden Rahmad. Lantaran Jaka Samudra telah cukup mendalami Islam, Jaka Samudra kemudian menemui Maulana Ishaq bersama Raden Makdum Ibrahim ke kerajaan Pasai.
Setelah bertemu dengan Maulana Ishak, Raden Paku kemudian mendirikan sebuah pesantrenan yang kemudian dinamakan Pesantren Giri di sebuah perbukitan di desa Sidomukti, Kebomas. Sejak itulah, ia dikenal masyarakat dengan sebutan Sunan Giri.
Pesantren Giri kemudian menjadi terkenal sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam di Jawa, bahkan pengaruhnya sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Pengaruh Giri terus berkembang sampai menjadi kerajaan kecil yang disebut Giri Kedaton, yang menguasai Gresik dan sekitarnya selama beberapa generasi sampai akhirnya ditumbangkan oleh Sultan Agung. Seperti Raden Makdum Ibrahim, Raden Paku juga mengajrkan kesenian yang hingga kini dapat ditemui, diantaranya yaitu permainan-permainan anak seperti Jelungan, Lir-ilir dan Cublak Suweng; serta beberapa gending (lagu instrumental Jawa) seperti Asmaradana dan Pucung.

6. Jakfar Shadiq (Sunan Kudus)
Sama halnya wali-wali sebelumnya yang juga merupakan satu keturunan dengan Nabi Muhammad, juga terjadi pada Jakfar Shadiq (Raden Amir Haji). Hanya saja silsilah keturunan ini berasal dari ibunya yang merupakan anak dari Raden Rahmad, Siti Syariah (Syarifah). Sedang bapaknya sendiri juga dipercaya sebagai salah satu wali songo, Raden Usman Haji (Sunan Ngudung). Jakfar Shadiq sendiri diperkirakan wafat pada tahun 1550.
Sebagai salah seorang tokoh penyebar Islam, Jakfar Shadiq memiliki peran yang besar dalam pemerintahan kesultanan Demak, yaitu sebagai panglima perang dan hakim peradilan negara. Dengan adanya jabatan yang diperolehnya tersebut, maka dengan mudah berdakwah di kalangan kaum penguasa dan priyayi Jawa. Diantara yang pernah menjadi muridnya, ialah Sultan Prawoto (penguasa Demak) dan Arya Penangsang (adipati Jipang Panolan).
Dalam hal kesultanan, Jakfar Shadiq adalah seorang yang berhasil menumbangkan kadipaten Pengging yang juga merupakan kekuasaan kesultanan Demak. Disebutkan bahwa kadipaten ini telah dikuasai seorang murid dari Syekh Siti Djenar yang dianggap bias. Dalam perlawanan terhadap kadipaten Pengging, Jakfar Shadiq tidak terlalu banyak mengalami kesulitan lantaran pimpinan kadipaten Pengging, Ki Ageng Penggeng sendiri telah menyerahkan nyawanya. Hingga akhirnya, kadipaten Pengging pun kemudian kembali pada kesultanan Demak.
Selain hal tersebut, Islam di tangan Jakfar Shadiq terbilang sangat mudah lantaran Jakfar Shadiq sendiri seorang yang selalu menghargai masyarakat dan budayanya. Salah satu peninggalannya yang terkenal ialah Mesjid Menara Kudus yang arsitekturnya bergaya campuran antara Hindu dan Islam. Sehingga masyarakat hindhu saat itupun tidak merasa ditindas dan mengenal Islam yang saling menghormati. Selain itu, keunikan yang terjadi pun pada saat Hari Raya Kurban, yaitu pengalihan hewan kurban dari sapi ke kerbau. Hal ini tentu saja dilakukan lantaran menjaga ketersinggungan Hindhu yang menganggap sapi adalah hewan suci.
Pada tahun 1530, Jakfar Shadiq mendirikan sebuah mesjid di desa Kerjasan, Kudus Kulon, yang kini terkenal dengan nama Masjid Agung Kudus dan masih bertahan hingga sekarang. Sekarang Masjid Agung Kudus berada di alun-alun kota Kudus, Jawa Tengah. Masjid yang dibangun oelh Jakfar Shadiq ini di dasari oleh batu yang sengaja diambil dari Baitul Maqdis setelah berhasil menyelesaikan masalah yang menimpa kawasan Baitul Maqdis.

7. Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)
Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar 1450, namun ada juga yang mengatakan bahwa beliau lahir pada sekitar 1448. Nama Syarif Hidayatullah sebenarnya adalah Syarif Hidayatullah al Khan bin Sayyid ‘Umadtuddin Abdullah al Khan bin Sayyid ‘Ali Nuruddin al Khan (Ali Nuralam Akbar) bin Jamaluddin Akbar al-Husain (Maulana Akbar) bin Ahmad Syah Jalal bin Abdullah (al-Azhamat) Khan bin Abdul Malik (Ahmad Khan) bin Alwi Ammi al Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi ats Tsani bin Muhammad Sahibus Saumiah bin Alwi Awwal bin Ubaidullah bin Ahmad al Muhajir bin Isa ar Rummi bin Muhammad al Naqib bin Ali al Uraidhi bin Ja’far ash Shadiq bin Muhammad al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib.
Dalam hal silsilah keluarganya, Syarif Hidayatullah bukan seorang yang biasa, lantaran dari keturunan bapaknya manjadikan sebagai salah seorang juga keturunan Nabi Muhammad, Syarif Hidayatullah juga merupakan keturunan kesultanan Sunda yang berasal dari ibunya. Yaitu Rara Santang (Syarifah Muda’im) binti Raden Pamanah Rasa (Prabu Jaya Dewata atau Prabu Siliwangi II) bin Prabu Dewa Niskala (Raja Galuh/Kawali) bin Niskala Wastu Kancana (Prabu Siliwangi I) bin Prabu Linggabuana (Prabu Wangi).
Memasuki usia dewasa sekitar diantara tahun 1470-1480, beliau menikahi adik dari bupati Banten yang bernama Nyai Kawunganten. Dari pernikahan ini beliau mendapatkan seorang putri yaitu Ratu Wulung Ayu dan Mawlana Hasanuddin yang kelak menjadi Sultan Banten I.
Syarif Hidayatullah sangat erat hubungannya dengan berdirinya kesultanan Cirebon. Yaitu sebagai pendiri kesultanan Cirebon setelah kesultanan Demak mengalami perpecahan dari masing-masing daerah yang ditaklukkannya. Sedang dalam hubungannya dengan kesultanan Demak, Syarif Hidayatullah adalah seorang tata Negara yang ahli di bidangnya, itu sebab, Patih Unus kemudian mengirim Syarif hidayatullah ke wilayah Cirebon untul mengatasi masalah yang ada setelah kembali dari kesultanan Pasai.
Dalam hal perluasan wilayah kesultanan Cirebon, Syarif Hidayatullah banyak dibantu oleh Tubagus Pasai yang kemudian dapat mengambil alih kekuasaan di Sunda Kelapa yang sebelumnya dikuasai oleh kerajaan Hindhu (Pakuan) dan protugis.

8. Raden Said (Sunan Kalijaga)
Wayang yang kini dikenal masyarakat adalah salah satu peninggalan sejarah dari Sunan Kalijaga atau Raden Said. Raden Said adalah putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur. Dalam hal belajar Raden Said menjadi murid dari Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang).
Raden Said diperkirakan lahir pada tahun 1450, sedang sebutan lain dari Raden Said antara lain dikenal dengana Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman. Ketika wafat, beliau dimakamkan di Desa Kadilangu, dekat kota Demak (Bintara). Makam ini hingga sekarang masih ramai diziarahi orang.
Masa hidup Raden Said diperkirakan mencapai hingga lebih dari 100 tahun. Ini berarti bahwa masa-masanya melalui masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Sedang yang kemudian menjadi istri Raden Said adalah Dewi Saroh binti Maulana Ishaq, yang kemudian mempunyai tiga putra: Raden Umar Said (Sunan Muria), Dewi Rakayuh, dan Dewi Sofiah.
Raden Said sendiri pada awalnya dikenal sebagai perampok dan pencuri dari orang-orang yang kaya, salah satunya tidak luput adalah gudang milik keluarganya yang hendak dikirimkan kepada kerajaan Majapahit. Tentu saja ini membuat kadipatenan geram atas ulahnya, terlebih lagi setelah mendapatkan berita bahwa Raden Said terlibat pemerkosaan. Pada kasus tersebut, Raden Said adalah seorang yang telah berada di tempat dan waktu yang salah, yaitu pencuri lainnya yang hendak meniru perbuatan Raden Said dengan tanpa diketahui perbuatannya. Sedang Raden Said dalam hal perampokan adalah agar rakyatnya tidak terbelenggu kemiskinan.
Meski demikian, dengan adanya bukti kesalahan terhadap Raden Said, dia kemdudian diusir oleh kadipaten. Dengan pengusiran tersebut, Raden said kemudian bertemu dengan Raden Makdum Ibrahim. Tentu saja niatan untuk membantu rakyatnya masih ada, yaitu hendak pula meminta tongkat pada Raden Makdum Ibrahim guna diberikan kepada yang lebih membutuhkan. Melihat keinginan Raden Said yang mulia, membuat Raden Makdum Ibrahim kecewa akan sikapnya, yaitu meski mulia namun cara tersebut adalah salah dalam Islam. Setelah mengetahui keutamaan Raden Makdum Ibrahim, Raden Said pun kemudian ingin menimba ilmu padanya. Hanya saja, Raden Makdum Ibrahim yang saat itu ingin menguji kesetiaan Raden Said, meminta kepada Raden Said agar menjaga tongkatnya hingga sekembalinya.
Raden Makdum Ibrahim lupa akan janjinya untuk kembali kepada Raden Said yang menjaga tongkatnya. Di sisi lain, Raden Said setia menunggu Raden Makdum Ibrahim di tepi sungai. Itu sebab, Raden Said kemudian juga dikenal sebagai Sunan Kalijaga yang dalam bahasa Jawa berarti sunan yang menjaga kali.
Dalam hal berdakwah, Raden Said memiliki kesamaan dengan guru yang sekaligus menjadi sahabat dekatnya, Raden Makdum Ibrahim. Sedang paham keagamaannya cenderung sufistik berbasis salaf, bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Raden Said menggunakan kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah, antara lain kesenian wayang kulit dan tembang suluk (Lir-ilir dan Gundul-Gundul Pacul dianggap sebagai hasil karyanya).
Raden Said sangat toleran pada hal kebudayaan setempat. Dengan jalan melalui seni dan kebudayaan, Raden Said berharap tidak membuat hal yang salah, sedang jalan tersebut dianggap sebagai jalan yang efisien. Raden Said berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama akan hilang. Tidak mengherankan, ajaran Raden Said terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dalam dunia perwayangan, Raden Said sering melakonkan carangan Layang Kalimasada dan Petruk Dadi Ratu (Petruk Jadi Raja). Selain hal tersebut, Raden Said juga menggagas adanya baju takwa, perayaan sekatenan, garebeg maulud.
Meski pada dasarnya jalan yang dilalui oleh Raden Said cenderung mendapat perlawanan dari para wali lainnya, metode dakwah tersebut malah sangat efektif. Hal ini terbukti dengan sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Raden Said, di antaranya adalah adipati Pandanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang. Dalam hal peninggalan yang lainnya, Raden Said terlibat pula dalam merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Sedang salah satu tiang dari Masjid Agung Demak sendiri terdapat tiang “tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.

9. Raden Umar Said (Sunan Muria)
Raden Umar Said atau yang sering dikenal sebagai Sunan Muria adalah putra Raden Said (Sunan Kalijaga) juga merupakan cucu dari Raden Usman Haji (Sunan Ngudung). Sedang daerah yang kemudian menjadi daerah penyebarannya adalah Gunung Muria.
Raden Umar Said, selain mendapatkan ajaran Islam dari bapaknya, juga berguru pada Ki Ageng Ngerang. Dalam usahanya mengajarkan Islam, Raden Umar Said tidak jauh berbeda dengan Raden Said yang juga menggunakan kesenian adat daerah. Salah satu peninggalannya dalam bidang kesenian adalah penciptaan gemelan gending sinom dan kinanti.
Diceritakan bahwa saat Ki Ageng Ngerang mengadakan acara, seluruh murid dan mantan muridnya kembali dikumpulkan, tidak luput juga Raden Umar Said dan Adipati Pathak Warak menghadiri acara tersebut. Pada acara tersebut, salah seorang putri Ki Ageng Ngerang, Dewi Roroyono pada akhirnya diculik oleh Adipati Pathak Warak yang tergoda akan kecantikannya. Lantaran dengan kejadian tersebut, membuat Raden Umar Said mencoba membantu gurunya tersebut sehingga pada akhirnya, Dewi Roroyono pun dapat diselamatkan. Setelah dapat diselamatkan, Dewi Roroyono pun kemudian dinikahkan oleh bapaknya kepada Raden Umar Said.

10. Kyai Bah Tong (Sunan Bentong)
Kyai Bah Tong, yang masih merupakan keturunan Tiongkok ini merupakan kakek dari Raden Patah. Dengan pelafalan dan logat masyarakat Jawa yang saat itu tidak begitu paham dengan pelafalan huruf China, membuat nama Bah Tong pun seperti “Bentong”, itu sebabnya namanya kemudian dikenal sebagai Sunan Bentong. Kyai Bah Tong masuk ke Jawa juga melakukan hal yang sama yaitu melalui perdagangan, dia pun juga menyebarkan agama Islam. Sedang daerah penyebaran Islamnya melalui Lasem.

11. Raden Burereh (Pangeran Majagung)
Sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa Raden Rahmad sebenarnya memiliki darah Tionghoa, yaitu berasal dari Tiongkok. Sedang nama Raden Rahmad menurut sejarah masuknya Islam dari Tionghoa adalah Bong Swi Hoo.
Saat Raden Rahmad datang ke Jawa, dia juga ditemani oleh sepupunya yang bernama Raden Burereh atau Abu Hurairah. Saat menyebarkan Islam, Raden Burereh kemudian bertempat di Majagung dan kemudian menjadi tokoh Islam besar di sana. Itu sebabnya, Raden Burereh juga dikenal sebagai Pangeran Majagung.

12. Raden Hasan/Raden Fatah (Pangeran Bintara)
Dalam susunan kerajaan Majapahit, Raden Hasan adalah seorang keturunan raja Majapahit dan raja Palembang, Arya Damar. Sedang dalam susunan kerajaan Majapahit, Raden Hasan merupakan putra dari Raden Alit (Prabu Brawijaya) bin Bra Tanjung bin Lembu Amisani bin Hayam Wuruk. Sedang dalam susunan kerajaan Palembang, Raden Hasan merupakan anak dari istri Raden Alit yang kedua (berasal dari China) yang kemudian diperistri Arya Damar sewaktu mengandung Raden Hasan. Singkatnya, Raden Hasan adalah anak tiri dari Arya Damar.
Dalam kisah percintaan Raden Alit, telah menikah dengan putri raja Champa (kakak dari istri Maulana Malik Ibrahim) dan putri China. Hanya saja, dalam pernikahan tersebut, putri raja Champa (istri pertama Raden Alit) pun merasa cemburu dan meminta Raden Alit untuk mengembalikannya ke asalnya, China. Meski menyanggupinya, Raden Alit ternyata lebih memilih Patih Gajah Mada untuk menyerahkan putri China tersebut kepada Arya Damar (sebelumnya bernama Jaka Dilah yang karena pengabdian pada Majapahit, Jaka Dilah diangkat kedudukannya menjadi raja di Palembang dengan gelar Arya Damar).
Dalam perjalanannya, Patih Gajah Mada bertemu dengan Arya Damar di Gresik. Dan saat pertemuan tersebut, Patih Gajah Mada kemudian menyampaikan maksudnya, yaitu melaksanakan perintah raja serta menyerahkan surat yang berisi tentang keadaan istri keduanya yang telah mengandung, namun Raden Alit meminta Arya Damar bersedia menerima putri China tersebut untuk diperistri, sedang putir China tersebut tidak boleh digauli sebelum bayi dalam kandungannya dilahirkan.
Dalam usianya yang terbilang dewasa, Raden Hasan atau Raden Fatah (al Fatah) diminta oleh ayah tirinya, Arya Damar guna menggantikan posisinya sebagai raja di Palembang, sedang di sisi lain, Raden Hasan dengan Raden Husen (anak kandung dari Arya Damar, seibu dengan Raden Hasan) memilih untuk meninggalkan Palembang dan menuju Jawa. Raden Hasan dan Raden Husen kemudian belajar agama pada Raden Rahmad (Sunan Ampel). Bahkan dalam pernikahannya pun, Raden Hasan Kemudian menikah dengan putri Raden Rahmad, Dewi Murthasimah.
Dalam menyebarkan Islam secara besar-besaran di tanah Jawa, Raden Rahmad kemudian membagi-bagi wilayah pada murid-muridnya, termasuk Raden Hasan dan Raden Husen. Raden Hasan kemudian ditempatkan di wilayah Lasem guna berdakwah menggantikan kakeknya, Syekh Bah Tong (Syekh Bentong). Sedang penyebaran Islamnya berpusat di Bintara. Itu sebabnya, Raden Hasan kemudian dikenal pula dengan sebutan Pangeran Bintara. Sedang Raden Husen di tempatkan di ibukota Majapahit. Oleh Prabu Brawijaya Kertabumi, Raden Husen kemudian dijadikan sebagai abdi kerajaan dan mendapat gelar Adipati Terung. Daerah Bintara inilah yang selanjutnya menjadi pusat pemerintahan Negara Islam Demak.
Raden Fatah berhasil merubah Bintara yang asalnya hutan belantara yang tumbuh pohon yang wangi sehingga dikenal dengan pedukuhan Glagahwangi Bintara menjadi kawasan yang ramai dan terkenal. Letaknya geografisnya yang sangat menguntungkan untuk perdagangan dan pertanian. Dari hutan belantara berubah menjadi gudang padi dan kota pelabuhan yang berdatangan kapal-kapal dagang yang berlayar lewat pantai utara Jawa menuju Maluku. Bintara Demak juga menjadi penghubung antara Jawa Tengah dengan Jawa Timur.
Dengan adanya penyebaran Islam oleh Raden Hasan, membuat Prabu Brawijaya Kertabumi menjadi senang akan adanya Raden Hasan dengan pengikutnya yang banyak, terlebih lagi merupakan saudara dari Raden Husen yang telah diangkatnya menjadi Adipati Terung. Itu sebab, Raden Hasan kemudian diangkat pula sebagai Adipati Bintara dan diakui pula sebagai anak dari Prabu Brawijaya Kertabumi. Selanjutnya Raden Fatah kembali ke pedukuhan Bintara yang selanjutnya dikenal pula dengan nama Demak dengan membawa satu laksa abdi (10.000 tentara), serta di beri gajah, kapal, tandu, dan pedati.

13. Raden Usman Haji (Sunan Ngudung)
Sunan Ngudung sering pula disebut-sebut sebagai anggota wali songo. Nama aslinya adalah Raden Usman Haji, putra dari Maulana Malik Ibrahim yang juga sebagai kakak dari Raden Rahmad. Dalam kehidupannya, Raden Usman Haji menikah dengan Siti Syariah (Syarifah) binti Raden Rahmad. Sedang dari perkawinan tersebut kemudian lahir Raden Amir Haji, yang kemudian juga dikenal dengan nama Jakfar Shadiq (Sunan Kudus).
Pada pemerintahan Sultan Trenggana, Raden Usman Haji diangkat sebagai imam Masjid Demak menggantikan Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang) pada tahun 1520. Selain tersebut, Raden Usman Haji juga dijadikan pula sebagai panglima perang di kesultanan Demak melawan kerajaan Majapahit.
Dalam peperangan tersebut, Raden Usman Haji menghadapi musuh yang dipimpin oleh Raden Husen (adipati Terung, sebuah wilayah yang terletak di dekat Krian, Sidoarjo). Saat memimpin perang, Raden Usman Haji mengenakan baju pusaka yang diperoleh dari Raden Qosim (Sunan Kalijaga) yang (menurut cerita) merupakan baju perang yang bernama Kyai Antakusuma (sekarang disebut Kyai Gondil) milik Nabi Muhammad. Namun demikian, Raden Usman kemudian menjadi lengah dan akhirnya kalah melawan Raden Kusen.

14. Syekh Suta Maharaja
Semasa Raden Rahmad menyebarkan Islam melalui murid-muridnya di seluruh pelosok Nusantara. Wilayah Islam di Nusantara (Indonesia) pun kemudian semakin meluas. Hanya saja, di wilayah Pajang tidak terjadi perubahan, sedang yang menempati wilayah tersebut adalah Syekh Suta Maharaja.

15. Raden Hamzah (Pangeran Tumapel)
Menurut cerita tradisi, Raden Hamzah juga merupakan keturunan dari Raden Rahmad (Sunan Ampel). Raden Hamzah kemudian menuju wilayah Tumapel setelah dipilih Raden Rahmad guna menyebarkan Islam. Di Tumapel, Raden Hamzah kemudian memiliki gelar baru yaitu Pangeran Tumapel. Selain terbilang muda, Raden Hamzah juga gigij dalam menyebarkan Islam. Itu sebab, Raden Hamzah juga dikenal sebagai anggota wali bersama para anggotanya yang bersamaan dikirim oleh Raden Rahmad ke berbagai wilayah di tanah Jawa.

16. Raden Mahmud (Pangeran Kahuripan)
Raden Mahmud (dalam cerita Babad disebut Syekh Mahmud) ditempatkan di sepanjang Kahuripan dengan gelar Pangeran Kahuripan.

17. Syekh Siti Djenar (Syekh Lemah Abang)
Pada dasarnya, Syekh Siti Djenar tidak dimasukkan dalam susunan Wali Songo lantaran sikapnya yang dinilai murtad oleh sebagai banyak wali yang ada di Indonesia. Namun demikian, dengan Syekh Siti Djenar adalah seorang yang juga mengamalkan Islam di Indonesia (Nusantara). Bahkan tidak sedikit pula yang mengatakan bahwa Syekh Siti Djenar adalah bukan sesat lantaran dianggap sebagai pembawa ajaran Sufi di Indonesia.
Syekh Siti Djenar yang juga dikenal sebagai Sitibrit atau Lemahbang atau Lemah Abang adalah seorang tokoh tidak ada yang mengetahui secara pasti asal-usulnya. Di masyarakat terdapat banyak varian cerita mengenai asal-usulnya. Sedang anggapan sesat pada diri Syekh Siti Djenar ini dengan menganggap ajarannya yaitu “Manunggaling Kawula Gusti”.
Dalam hal penyebaran Islam oleh Syekh Siti Djenar, adalah ketika kerajaan Demak dalam kejayaannya. Tentu saja Raden Patah yang ketika itu telah memeluk Islam, menjadikan para wali lainnya menganggap Syekh Siti Djenar adalah sesat. Meski pada dasarnya para pendukungnya berpendapat bahwa Syekh Siti Djenar tidak pernah menyebut dirinya sebagai Tuhan, ajaran ini lebih diartikan bahwa Sang Pencipta adalah tempat kembali semua makhluk dan bukan dianggap sebagai bercampurnya Tuhan dengan Makhluknya. Hanya saja, dengan kembali kepada Tuhannya, manusia telah menjadi sangat dekat dengan Tuhannya.
Bahkan Syekh Siti Djenar pun menganggap ajaran Syariat yang di bawa oleh para wali lainnya adalah tidak spenuhnya mengingat kepada Tuhannya lantaran dalam beribadah masih memikirkan hal keduniawian. Berbeda dengan ajaran Syekh Siti Djenar yang berdzikir dengan sepenuh hati yang yang dapat menghadirkan Allah Swt. Mengingat bahaya akan ajaran Syekh Siti Djenar, para wali pun kemudian merencanakan satu tindakan bagi Syekh Siti Djenar agar segera menghadap Demak Bintoro.
Perbedaan pendapat akan tata cara beribadah antara Syekh Siti Djenar dengan para wali lainnya adalah terlihat jelas dalam penyebutan nama Tuhan. Para wali yang mengajarkan Islam dengan Tuhannya yaitu Allah Swt., tidak demikian dengan Syekh Siti Djenar. Syekh Siti Djenar lebih menekankan adanya zikir dan wirid lebih utama ketimbang menyebut “Allah” hanya di bibir saja. Melihat ajaran Syekh Siti Djenar ini, para wali tidak menyalahkan, hanya saja para wali lebih menekankan agar ajaran ini tidak disampaikan terlebih dahulu lantaran takut akan penyelah tafsiran saja. Dalam ajaran Syekh Siti Djenar yang lainnya, memandang bahwa kehidupan manusia di dunia ini disebut sebagai kematian. Sebaliknya, yaitu apa yang disebut sebagai kematian adalah sebagai awal dari kehidupan yang hakiki dan abadi. Dengan ajaran ini, tentu saja manusia tidak dapat dikenai hukum yang bersifat keduniawian (hukum negara dan lainnnya). Lebih parahnya, Syekh Siti Djenar kemudian dijadikan sesat lantaran inti ajarannya adalah ketidak harusan manusia memenuhi rukun Islam. Baginya, syariah itu baru berlaku sesudah manusia menjalani kehidupan setelah kematiannya.
Mengingat kondisi manusia yang meski sebagai manusia sempurna, namun manusia sendiri juga dibatasi oleh kelemahan pemikiran. Dan apabial ilmu Syekh Siti Djenar diterapkan, kegilaan berlebihan terhadap Illa yang maha Agung atau Allah hanya akan menjadikan kufur saja. Para Wali dan pihak kerajaan sepakat untuk menjatuhkan hukuman mati bagi Syekh Siti Djenar dengan tuduhan telah membangkang kepada raja. Maka berangkatlah lima wali yang diusulkan oleh Syekh Maulana Maghribi ke Desa Krendhasawa. Kelima wali itu adalah Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Pangeran Modang, Sunan Kudus, dan Sunan Geseng.
Dalam hal penghakiman terhadap Syekh Siti Djenar menjadi sebuah kisah yang menarik, yaitu sebuah kisah yang menyebutkan bahwa ketika jenazah Syekh Siti Djenar disemayamkan di Masjid Demak, menjelang salat Isya, semerbak beribu bunga dan cahaya kilau kemilau memancar dari jenazah Syekh Siti Djenar. Sedang dalam hal makam Jenazah Syekh Siti Djenar sendiri mendapatkan berbagai versi. Salah satu pendapat mengatakan bahwa jenazah Syekh Siti Djenar dikuburkan di bawah Masjid Demak oleh para wali. Sedang pendapat lain mengatakan bahwa jenazah Syekh Siti Djenar dimakamkan di Masjid Mantingan Jepara. Hanya saja, di makamnya disebutkan dengan menggunakan nama makam orang lain.

Kerajaan Islam Indonesia

Kekuasaan Islam Indonesia


A. Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia
Pada awalnya, Indonesia adalah sebuah kepulauan yang banyak berdiri kerajaan-kerajaan yang kemudian menjadi satu wilayah yang kemudian dikenal dengan Nusantara. Adapun daerah ini meliputi Indonesia sendiri, Malaysia, dan Filipina. Sedang pengenalan awal tentang kawasan Nusantara ini sebenarnya tidak luput dari peranan pembesar Islam pada masa sebelum kemerdekaan dan kekuasaan Bani Umayyah sebagai Khalifah. Namun demikian, dengan merdekanya Indonesia telah menjadikan sebuah pekerjaan rutin perihal adanya masalah-masalah yang berhubungan dengan Islam. Beberapa diantaranya adalah banyak berdirinya organisasi-organisasi Islam yang memiliki tujuan agar Indonesia menjadi Negara Islam. Sedang di sisi lain, Indonesia dengan tegas menolak hal ini. Padahal, Nabi Muhammad sendiri tidak pernah menginginkan adanya Negara Islam, melainkan hanya mengislamkan kafir, sedang masalah Negara tersebut menjadi Negara Islam atau tidak, bukanlah sebuah masalah, hanya saja, dasar dari pemerintahan tersebut harus sesuai dengan ajaran Islam.
Mewujudkan masyarakat yang Islam adalah benar di jalan Allah Swt. Namun di sisi lain, banyak organisasi-organisasi Islam Indonesia ini kemudian menyalah artikan tentang konsep dasar Islam yang penuh dengan perdamaian. Mereka selalu saja membawa dalil tentang jihad dengan cara berperang. Itu sebabnya, Islam kemudian (pernah) disebut sebagai sarang terorisme.
Tentang kebenaran Islam sebagai sarang terorisme, tentu saja sangat salah, terlebih lagi Indonesia adalah Negara yang terbesar penganut Islamnya. Dan tentu saja, meski banyak organisasi Islam di Indonesia yang memiliki konsep berumah tangga yang berbeda, pada dasarnya mereka memiliki persamaan. Yaitu sesuai dengan rukun Islam yang lima.
Membahas Islam di Indonesia adalah hal yang sudah sering diangkat. Namun demikian, banyak kalangan yang salah tafsir dengan menyebutkan Wali Songo adalah penyebar Islam pertama kali pada abad ke-9 H atau lebih tepatnya sekitar tahun 920 H/1514 M. Sedang Islam sendiri telah dikenalkan di Indonesia sejak tahun 674 M.
Sejarah penyebaran Islam ini dimulai pada tahun 30 H/651 M, yaitu ketika Khalifah Utsman mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Islam. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Dan setelah masa kepemimpinan Utsman selesai, tepatnya tahun 674, masa kepemimpinan Bani Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang muslim terus berdatangan. Para pedagang tersebut membeli hasil bumi dari negeri ini sekaligus mengenalkan Islam dengan cara berdakwah. Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran.
Adapun Aceh adalah daerah yang pertama kali menerima Islam, daerah ini terletak paling barat dari Kepulauan Nusantara. Itu sebabnya, Aceh dipercaya sebagai kerajaan Islam pertama di Indonesia, tepatnya kerajaan Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 1292 M, diketahui bahwa telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, yaitu seorang pengembara muslim dari Maghribi (Maladewa, Samudera Hindia) ketika singgah di Aceh tahun 1345 M menyebutkan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi’i.
Sedang peninggalan tertua dari kaum muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat pula di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H/1082 M, yaitu bertepatan pada jaman Kerajaan Singasari. Sedang Gresik sendiri tidak dapat menjelaskan secara pasti perihal tahun kematian Fathimah binti Maimun ini. Hal ini dikarenakan biasnya J.P. Moquette dalam membaca 475 dengan sebutan angka 495 yang berarti, tahun 495 H adalah tahun 1102 pada tahun masehi. Sedang bukti lain yang terdapat pada Gresik adalah sebuah Prasti Batu Nisan Leran yang menanggalkan sama. Sebuah bukti lain lagi dihadirkan dengan keterangan dari Banun Mansur, seorang budayawan ahli Gresik yang menyebutkan bahwa Gresik merupakan kota perniagaan yang sarat akan lalu lintas perdagangan. Sedang seperti yang disebutkan sebelumnya, Utsman telah mengirim ekspedisinya untuk melakukan perdagangan pada tahun 674. Hal ini tentu saja tidak akan melewatkan Gresik. Sedang Gresik yang diyakini sebagai kota perniagaan dimulai runtuhnya kekuasaan Airlangga pada tahun 1049.
Meski Islam sendiri telah lama dikenalkan di Indonesia, yaitu antara tahun 674-1082, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal pada abad ke-9 H/14 M, yaitu bekisaran tahun 1514. Para pakar sejarah berpendapat bahwa Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 Masehi antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, yaitu tidak dengan pedang dan tidak pula dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai jalan perdamaian.

B. Kerajaan Islam Indonesia
Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus. Terutama di abad ke-17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis. Setiap kali para penjajah (terutama Belanda) menundukkan kerajaan Islam di Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Lantaran dengan peraturan yang demikian, maka terputuslah hubungan umat Islam Nusantara dengan umat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan umat Islam Nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi.
Berikut adalah daerah-daerah yang diyakini sebagai daerah tertua dalam penyebaran Islam di Indonesia.

1. Malaka
Seperti di Aceh, Malaka menjadi salah satu kerajaan Islam Indonesia tertua. Hanya saja, penyebaran saat itu melalui perdagangan tidak secara pasti antara Aceh atau Malaka, sedang perdagangan yang terjadi saat itu berada di utara Sumatera, yaitu pada tahun 674.
Malaka kemudian mengenal Islam dan memperkenalkan Islam pada saat pangeran Iskandar Syah menjadi Islam. Dalam pemerintahannya, Islam kemudian meluas hingga Semenanjung Melayu dan Sumatera itu sendiri. Sedang Islam yang dipeluknya sekitar tahun 1400. Hanya saja, perkembangan Islam di Malaka saat itu mulai runtuh lantaran daerahnya mulai dimasuki Portugis pada tahun 1511.

2. Aceh (Kerajaan Pasai)
Seperti yang disebutkan sebelumnya, pada dasarnya Aceh mengenal Islam sejak tahun 674. Hanya saja, penyebutan tahun 1514 sebagai perkenalan Islam pada awalnya yaitu dikarenakan pada masa inilah seorang sultan pertama Aceh, Ali Mughits Syah dengan jelas menentang Portugis.
Namun demikian, Islam kemudian dengan pesat menyebar hingga menyeluruh Sumatera pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607-1637). Beberapa penyebab mudahnya Islam menyebar pada daerah ini lantaran Sultan Iskandar Muda telah berhasil mengalahkan Portugis. Pada masa penklukan inilah, kemudian Islam juga diperkenalkan. Hanya saja, dengan banyaknya peperangan yang terjadi, keadaan ekonomi pun semakin menurun. Selain tersebut, kekuasaan setelah Sultan Iskandar Muda banyak di tangan seorang ratu yang dalam kepemimpinannya tidak seperti sultan-sultan sebelumnya. Itu sebabnya, penyebaran Islam pun tidak seperti sebelumnya yang sangat pesat, melainkan lebih cenderung disibukkan melawan musuh yang kemudian semakin banyak, diantaranya adalah masuknya Belanda di daerah ini.

3. Gresik
Gresik mungkin terkenal akan Islamnya dengan sunan Giri. Namun demikian, Gresik juga tidak dapat dipisahkan dengan perjalanan Islam lamanya, yaitu dengan penemuan makan Fathimah binti Maimun dan Prasasti Leran. Itu sebabnya, Gresik juga termasuk daerah tertua dalam penyebaran Islam di Indonesia. Sedang penetapan mulai tahun keberapanya, hingga kini masih dalam pencarian.
Sebuah penemuan baru tentang adanya Islam di Gresik menjadi lebih terang ketika diketahui tentang secuil kisah Fathimah binti Maimun. Meski dalam penafsiran kematiannya jauh berbeda, namun demikian, Fathimah binti Maimun juga dipercaya menjadi cucu dari Hibatullah. Sedang Hibatullah sendiri dipercaya sebagai penganut Islam, yaitu dengan tafsiran namanya yang diambil dari nama seorang di Arab. Dengan begitu, tafsiran dengan adanya Islam di Gresik, tentu jauh sebelum tahun kematian Fathimah binti Maimun itu sendiri. Burhanuddin Rasyid dalam bukunya mengatakan yaitu berkisaran tahun 1050.
Sedang Gresik sendiri banyak memperkenalkan sejarah Islam mulai Maulana Malik Ibrahim yang mulai masuk Gresik di daerah Leran pada tahun 1380. Namun, terdapat bukti lainnya yang menunjukkan kedatangan Maulana Malik Ibrahim pada tahun 1368. Sebuah sejarah menarik inilah kemudian menjadikan sebuah rantai bagi pejuang Islam Jawa yang kemudian dikenal dengan wali songo.

4. Demak
Demak semasa penyiaran Islam adalah sebuah kerajaan. Hanya saja, kerajaan ini dinilai sangat singkat. Namun, dengan kesingkatannya tersebut, Islam telah dijadikan sebuah agama yang benar dengan menghadirkan kepada raja-raja yang berkuasa lainnya yang beragama Hindu/Budha.
Pada kekuasaan dan peluasan daerahnya, Demak mulai menyebarkannya pada tahun 1512, yaitu semasa kepemimpinan Raden Patah. Sedang perkembangan Islam sendiri tidak luput dari jasa Patih Yunus atau Sabrang Lor. Pada masa inilah, kekuasaan kerajaan Demak mampu mengambil kekuasaan atas Portugis di Malaka. Adapun pasukan yang dikerahkan saat itu adalah 100 kapal perang dengan 12.000 pasukan.
Meski Islam telah dikenalkan oleh Demak sejak 1512, Islam mulai ramai dianut oleh masyarakat Demak setelah raja ketiganya, yaitu Raden Trenggono, yang juga merupakan putra Raden Patah mulai gencar menyiarkan Islam. Dalam hal penyiaran Islam kepada masyarakatnya, Raden Trenggono juga dibantu oleh Syarif Hidayatullah, seorang ulama Islam yang kedatangannya dari Aceh. Syarif Hidayatullah juga memberinya gelar kerajaan sebagai Sultan Trenggono. Dan dari tangan Syarif Hidayatullah inilah kemudian menjadikan dirinya sebagai salah seorang dari wali songo yang menetap di Cirebon.


5. Cirebon (Kerajaan Banten, Mataram, dan Padang)
Dalam kekuasaan kerajaan Demak, Cirebon adalah wilayah yang dinilai perlu mendapatkan pengajaran Islam. Itu sebab, Raden Trenggono kemudian mengirim Syarif Hidayatullah untuk mengajarkan Islam kepada Cirebon. Hal ini berarti, Cirebon telah menerima Islam semenjak sebelum tahun 1546 yang merupakan tahun kematian Raden Trenggono. Sedang tahun kedatangannya ke Cirebon yang memungkinkan adalah sebelum 1527, yaitu peristiwa takluknya Sunda Kelapa.
Pada masa penyebaran Islam oleh Syarif Hidayatullah inilah kemudian menyebar hingga Jakarta atau pada masa itu dikenal dengan sebutan Sunda Kelapa (yang kemudian menjadi Jayakarta) pada tahun 1527.
Dengan situasi yang tidak memungkinkan, terlebih Sultan Trenggono meninggal, sedang penggantinya (yaitu anaknya sendiri) yang bernama Sultan Prawoto tidak mampu menjaga keutuhan kerajaan Demak. Itu sebab, banyak daerah kekuasaan Demak menyatakan keluar dari kerajaan Demak. Sedang Cirebon masih dalam kekuasaan Syarif Hidayatullah. Mengingat usianya yang telah tua dan tidak mampu memerintah daerahnya, Syarif Hidayatullah pun kemudian menyerahkan tanggung jawabnya kepada putranya yang bernama Hasanuddin pada tahun 1552. Pada tahun inilah kemudian Hasanuddin mendirikan kerajaan baru yang kemudian dinamakan kerajaan Banten dengan gelar kerajaannya sebagai Sultan Hasanuddin.
Sedang kemelut yang terjadi di kerajaan Demak, juga mempengaruhi daerah-daerah yang lainnya, termasuk Kediri (kerajaan Mataram) dan Jepara (kerajaan Padang). Perpecahan daerah ini dimulai ketika pembunuhan besar-besaran terhadap Sultan Prawoto sebagai raja kerajaan Demak dan Bupati Jepara. Pada kasus percobaan pembunuhan besar-besaran terhadap abdi Demak ini, tidak luput pula para menantu dari kerajaan, yaitu Adiwijoyo yang kemudian dikenal sebagai Joko Tingkir. Dengan adanya perpecahan pada kerajaan Demak, Adiwijoyo pun kemudian menjadikan dirinya sebagai Raja Padang dengan daerah kekuasaannya yang tersisa. Sedang pendirian kerajaan Mataram dimulai ketika Kyai Gede Pemanahan berhasil membunuh Ario Penangsang, Adipati Jipang yang telah membunuh mertuanya (Sultan Prawoto) dan beberapa petingginya, termasuk Bupati Jepara. Sebagai balasannya, Adiwijoyo kemudian memberikan daerah kekuasaan kepadanya di Mataram yang kemudian dikenal sebagai Kediri.

6. Makasar (Kerajaan Gowa)
Salah satu daerah tertua dalam Islam Indonesia adalah Makasar. Meski daerah ini terbilang terlambat dalam ajaran Islamnya, namun Islam di Makasar-Sulawesi ini tidak seperti tanah Jawa yang rawan akan pemberontakan antara kerajaan Islam sendiri melawan kerajaan Hindu-Budha, sedang dalam Jawa inilah banyak kerajaan yang makmur. Makasar sendiri diyakini telah menyebarkan Islam semenjak tahun 1667, yaitu masa kesultanan Hasanuddin. Sedang kondisi kerajaan ini adalah melawan Belanda.