Kamis, 30 Desember 2010
Tokugawa Ieyasu
Rabu, 10 November 2010
Hari Pahlawan - Surabaya Setelah Pendudukan Jepang 10 Nopember 1945
Rabu, 21 Juli 2010
GINZA –Distrik Termahal Dunia

Referensi:
Jawa Pos Selasa 20 Juli 2010
http://en.wikipedia.org/wiki/Ginza
http://en.wikipedia.org/wiki/Kabuki-za
http://en.wikipedia.org/wiki/Wako_(retailer)
http://www.japaneselifestyle.com.au/tokyo/ginza.htm
Minggu, 11 Juli 2010
Partai Demokrat Kehilangan Kursi

Tanggal 11 Juli 2010, Tokyo-Jepang sedang melakukan pemilihan umum (pemilu) untuk memilih anggota majelis tinggi parlemen. Selain itu, pemilu ini dilaksanakan untuk menentukan masa depan Jepang itu sendiri.
Diketahui, Jepang akhir-akhir ini telah banyak mengeluarkan anggaran negaranya. Itu sebab, pemilu yang dilakukan untuk menguji kebijakan Perdana Menteri barunya, Naoto Kan, dan pemerintah koalisi kiri-tengahnya yang berusia 10 (sepuluh) bulan.
Sejumlah survei di Jepang memprediksikan bahwa Naoto Kan bakalan kehilangan banyak kursi di parlemen. Kursi yang diprediksikan hilang hingga 242 kursi tersebut disebabkan karena adanya kebijakan Naoto Kan yang menyatakan akan menaikkan pajak penjualan untuk beberapa tahun ke depan.
Meski demikian, pemilu yang dilakukan tersebut, rupanya tidak dapat mempengaruhi kekuasaan Naoto Kan dan Partai Demokratnya.
Sekedar untuk diketahui, Naoto Kan, di bawah Partai Demokrat Jepang memenangkan kursi Perdana Menteri setelah mengalahkan Partai Konservativ pada bulan Agustus ini rupanya bukan calon pertama dari partainya. Yukio Hatoyama, yang sebelumnya menjabat sebagai Perdana Menteri pada tanggal 16 September 2009 ini adalah calon pertama yang diusungkan. Namun pada 2 Juni 2010, Yukio Hatoyama yang tidak mampu menepati janji politiknya untuk memindahkan pangkalan militer AS di Okinawa, pria kelahiran Tokyo, 11 Pebruari 1947 ini pun kemudian memilih mengundurkan diri. Selain itu, pengunduran dirinya tersebut juga disebabkan adanya isu skandal pembiayaan politiknya.
Dengan adanya pengunduran diri Yukio Hatoyama, Naoto Kan yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri (16/9/2009) dan Menteri Keuangan (Januari 2010) ini akhirnya resmi mengganti posisi rekannya tersebut.
Tentang profil Naoto Kan itu sendiri, pria kelahiran Ube, 10 Oktober 1946 ini adalah rekan seperjuangan Yukio Hatoyama pada pendirian Partai Demokrat Jepang pada tahun 1998. Dan pada tahun tersebut, Yukio Hatoyama pun dipercaya sebagai pemimpinnya. Namun pada 2003, Naoto Kan menjadi pimpinan dari partai tersebut.
Referensi:
Jawa Pos, Senin 12 Juli 2010 (hal. 7)
http://id.wikipedia.org/wiki/Naoto_Kan
http://id.wikipedia.org/wiki/Yukio_Hatoyama
Kamis, 08 Juli 2010
Garuda di Sakura
Hubungan Indonesia-Jepang rupanya masih akan terus berlanjut. Terlebih lagi masalah ekspor-impor.
Hal yang dimaksud sebenarnya bukan masalah pengiriman barang-barang buatan Indonesia yang dikirim ke Jepang ataupun sebaliknya. Tapi lebih dengan adanya penerbangan Garuda Indonesia yang mengangkut barang-barang.
Japan Airlines (JAL), menurut rencananya, mulai bulan Oktober 2010 memberhentikan penerbangannya untuk mengangkut kargo. Dan tentu saja, hal ini sangat diperhatikan oleh Indonesia (terutama Garuda Indonesia) untuk mengambil kesempatan emas tersebut.
Jika tidak mengalami kemunduran jadwal, maskapai penerbangan BUMN ini akan segera merintis outbond trucking service pada Agustus mendatang. Dan itu berarti, Garuda Indonesia yang semula hanya memiliki jadwal kargo domestik pun akan merambat menuju kelas yang lebih tinggi.
“Karena itu, kami pada Agustus nanti bekerjasama dengan perusahaan trucking mengirimkan barang berat di atas 250 kg dan berukuran besar tujuan luar negeri via Denpasar dan Jakarta yang tidak bisa diangkut dengan penerbangan domestik.” Ujar Erina Damayanti, Public Relation Garuda untuk Indonesia.
Untuk diketahui, saat ini JAL rata-rata mengangkut 476 ton per bulan dengan rincian 176 ton untuk ekspor dan 200-300 ton untuk impor.
Namun sayang, rupanya Garuda Indonesia tidak mampu mengambil kesempatan tersebut sepenuhnya, “kami mengincar 25-50% dari jumlah tersebut.” Erina Damayanti menambahkan.
Jawa Pos, Kamis 6 Juli 2010 (hal. 6 – Ekonomi Bisnis)
Rabu, 30 Juni 2010
Ninja Perempuan Pertama
Dalam hal pola pertempurannya, Ninja rupanya lebih sedikit dikenal ketimbang Samurai. Namun begitu, dengan adanya gerakan yang mampu membantu para Daimyo ini pun kemudian secara perlahan, gerakan yang mengandalakan bawah tanah ini pun kemudian lebih cepat dikenal.
Namanya Gamon Doshi. Dikenal sebagai seorang biksu petarung China yang mulanya pergi ke Jepang untuk bertemu dengan Jendral Ikai yang juga berasal dari China ini pun kemudian berlatih di bawah naungan Jendral Ikai tentang strategi perang, teknologi militer, dan ilmu Koshi Jutsu (ilmu menotok otot dan titik lemah di tubuh) dan Hityo no Kakuregata (kamuflase di dalam kegelapan).
Dengan menetapnya dirinya di Jepang, Gamon Doshi pun kemudian merubah namanya dengan nama Fujiwara Tikata. Bukan hanya itu saja, biksu yang menghabiskan masa hidupnya pada sekitar tahun 1030 hingga 1100 ini pun akhirnya dianggap sebagai bapak dari ilmu Ninjutsu atas sumbangannya terhadap peningkatan ilmu dalam aliran Ninjutsu yang telah ada.
Bagaimana dengan Kunoichi?
Sebagain orang mengatakan bahwa Mochizuki Chiyome adalah Kunoichi pertama di Jepang. Namun pendapat tersebut adalah salah. Karena jauh sebelum Mochizuki Chiyome dikenal, rupanya ada seorang wanita keturunan China yang menjadi Kunoichi pertama.
Mochizuki Chiyome
Mochizuki Chiyome (1540-1580) adalah istri Mochizuki Moritoki, pemimpin istana Mochizuki di Provinsi Shinani yang juga menjadi keponakan Takeda Shingen. Dan karena kematian Mochizuki Moritoki menjadi kesedihan bagi Mochizuki Chiyome, Takeda Shingen, yang saat itu ingin mempergunakan kemampuan Mochizuki Chiyome pun kemudian membujuknya untuk dapat membentuk kelompok Ninja wanita untuk dijadikan mata-mata dan pembawa pesan.
Meski Mochizuki Chiyome ragu pada awalnya, setelah mengingat akan dendamnya, dia pun kemudian membentuk pasukannya di desa Nazu provinsi Shinani dan mulai mencari kandidat untuk mencari calon Kunoichi.
Setelah mengumpulkan dan melatih para Kunoichi, Chiyome menempatkan mereka di kuil sebagai Miko untuk menyamar. Dalam pelatihannya, Chiyome menitikberatkan pada penyerangan titik lemah lawan dengan menggunakan senjata yang umum digunakan wanita sebagai penghias, seperti kuncir rambut.
Cho Gyokko (885–945)
Seorang putri dari China yang menjadi Kunoichi pertama di Jepang ini memiliki nama lain Yo Gyokko atau Yao Yu Hu atau Koto Oh.
Semasa dinasti T’ang, Yao Yu Hu dikenal berhubungan langsung dengan kekaisaran China. Hanya saja, Yao Yu Hu pun akhirnya melarikan diri ke jepang bersama keluarga kerajaan lainnya saat dinasti T’ang mengalami kehancuran pada tahun 907.
Gelar Koto Oh disandang Yao Yu Hu setelah mengalahkan dan membunuh macan dengan sekali pukul saat masih di China. Meski memiliki kekuatan yang luar biasa, ternyata Yao Yu Hu sangat mahir menari.
Ketika di Jepang, Yao Yu Hu pun mengganti namanya menjadi Cho Gyokko dan mengembangkan gaya dan kemampuan bela dirinya. Selain itu, Cho Gyokko juga menemukan inti atau awal dari ilmu Ninjutsu aliran Gyokku Ryu. Meski begitu, Gyokko tidak mendapatkan kehormatan karena telah mengembangkan aliran Ninjutsu ini, tetapi dia dianggap sebagai pemrakarsa awal digunakannya Kempo China dan memodifikasinya untuk digunakan dalam Ilmu Ninjutsu tersebut. Inti dari aliran ini adalah menyerang titik vital dari lawan agar lawan dengan mudah dilumpuhkan.
Kunoichi
Jika samurai lebih terang-terangan dalam penyerangannya, ninja lebih memilih jalur bawah tanah sebagai lahannya. Secara bahasanya, kata ninja terbentuk dari dua suku kata yaitu Nin yang berarti tersembunyi dan Sha berarti orang.
Menurut catatan sejarahnya, ninja mulai dikenal pada tahun 522 bersamaan dengan masuknya seni Nonuse (seni bertindak diam-diam) ke Jepang. Seni Nonuse sendiri adalah suatu praktek keagamaan yang dilakukan oleh para pendeta yang pada saat itu bertugas memberikan info kepada orang-orang di pemerintahan.
Dan demi keselamatan mereka sendiri, pada sekitar tahun 645, pendeta-pendeta tersebut pun kemudian menyempurnakan kemampuannya dengan bela diri dan mulai menggunakan pengetahuan mereka tentang Nonuse untuk melindungi diri dari intimidasi pemerintah pusat. Dan perpaduan antara Nonuse dengan bela diri inilah yang kemudian lebih dikenal dengan Ninjutsu.
Dengan adanya perkembangan waktu, rupanya Ninjutsu ini tidak hanya dimiliki oleh para pendeta saja. Dan seni ini pun mulai berkembang dengan pesat hingga wanita pun turut mempelajarinya.
Meski wanita sering dianggap lemah, rupanya ilmu Ninjutsu ini memang jauh lebih pantas digunakan oleh wanita. Karena selain ilmu bela diri, rupanya Ninjutsu lebih banyak bergerak pada ilmu merayu, memanipulasi, menyamar, dan intuisi.
Kemampuan yang dimiliki oleh para wanita yang kemudian dikenal dengan Kunoichi ini memberikan mereka kemudahan dalam menyusup ke pikiran pemimpin perang, bisnis bahkan politik sekalipun. Dan ini pula yang kemudian menjadikan Kunoichi jauh semakin meluas ketimbang ninja itu sendiri. Selain lebih efisien, jatuh kontak korban pun tidak selayaknya samurai yang sering gugur tanpa hasil.
Dalam pelaksanaannya sebagai Kunoichi, kebanyakan dari mereka menyamar sebagai Geisha, Miko (pembantu kuil), atau bahkan pelacur itu sendiri. Selain itu, tidak sedikit Kunoichi yang dengan mudah masuk ke dalam istana baik sebagai tamu, dayang, dan atau isteri simpanan. Hal ini dikarenakan Kunoichi dilatih juga untuk mempermainkan emosi lelaki, tetapi juga harus bisa mengontrol emosi diri sendiri.
Dalam perekrutan anggota kunoichi, merke lebih senang merekrutnya dari kalangan wanita yang sudah yatim piatu sejak kecil atau yang sudah dijual oleh keluarganya baik sebagai pelayan maupun penjaja seks.
Dengan lebih mementingkan cara bertarung menggunakan kecepatan dan memukul titik vital lawan agar cepat lumpuh dibandingkan dengan kekuatan tubuh. Rupanya mereka dilatih oleh Kunoichi yang lebih tua dan menjadikan mereka sebagai senjata bagi tuannya.
Berikut adalah kemampuan yang sering digunakan oleh Kunoichi:
1. Boryaku: merencanakan strategi dalam menyamar maupun menyusup dalam daerah lawan
2. Intonjutsu: menyamar, menipu dan membuat ricuh daerah lawan dengan menyebarkan isu-isu negatif di kalangan masyarakat
3. Kayakujutsu: membuat dan menggunakan bahan peledak dalam pertempuran ataupun dalam penyusupan sebagai umpan maupun untuk perlindungan diri
4. Shinobi Iri: ilmu untuk memasuki daerah lawan, menyusup secara diam-diam ke daerah lawan
5. Shuriken Jutsu: melemparkan Senjata rahasia
6. Tanto Jutsu: ilmu menggunakan senjata berupa pisau
7. Yagen: ilmu menggunakan racun
Minggu, 06 September 2009
Konsepsi Tuhan dalam Islam
Konsepsi Tuhan dalam Islam
Sesungguhnya Allah tidak memandang rupa dan harta kalian, akan tetapi Dia hanya memandang hati dan amal perbuatan kalian. (HR. Muslim VIII/11)1
Hal tersebut di atas sudah selayaknya menjadi tanggung jawab masing-masing individu dalam berlomba menjalin kebaikan. Islam pun menerapkan hal demikian. Allah Swt., yang merupakan Tuhan bagi umat Islam tidak menginginkan kesempurnaan wujud maupun melimpahnya harta manusia. Hal ini disebabkan lantaran semuanya adalah kehendak Allah. Dan jika Allah menginginkan, maka dengan sekejap pun Allah dapat merubah seseorang dengan kehendaknya; baik-buruk, miskin-kaya, laki-perempuan, dan sebagainya.
Konsep ketuhanan yang ditawarkan dalam Islam berbeda dengan agama-agama besar dunia lainnya. Hal ini sudah nampak berbeda dengan sifat Tuhan sendiri yang menciptakan. Namun demikian, banyak diantara mereka yang meragukan keesaan Tuhan dalam Islam. Sedang beberapa konsep ketuhanan dalam agama lainnya adalah cenderung bukan Esa2. Dalam rukun Islam pun disebutkan sebagai rukun wajib yang pertama, yaitu dengan menyebut dua kalimat sahadat, itu menandakan pengakuan Islam akan satu Tuhan, dan Muhammad (hanya) sebagai rasul-Nya.
Jika demikian kebenarannya, layakkah sebuah agama mengadakan Tuhannya lebih dari satu? Dan jika benar demikian, diantara mereka, siapa yang lebih berkuasa?
Sebut saja Hindhu; dalam agama ini, Hindhu mengenalkan “Tuhan”nya dengan berbagai wujud dalam Dewanya. Meski mereka hanya mengakui satu Dewa Agung (Brahman), mereka masih saja memuja banyak Dewa. Itu sebab banyak kalangan menyebut Hindhu sebagai Politheisme. Hal serupa juga terjadi dalam Budha; mereka mentuhankan Budha sendiri. Padahal sudah diketahui bahwa Budha sendiri adalah manusia (yang meskipun dianggapnya sebagai manusia suci) yang sebelumnya telah beristri dan memiliki anak, dan jika benar Tuhan dapat menjalin kasih, itu menandakan Tuhan baginya adlah memiliki nafsu, sedang Tuhan sendiri tidak memiliki nafsu. Juga hal yang paling mencolok adalah konsep ketuhanan dalam Kristen yang menawarkan konsep Trinitas3. Hal ini tentu saja membuat kebingungan sendiri bagi mereka dalam membagi peran Tuhannya yang juga merupakan seorang anak bagi-Nya. Mereka mengajarkan (meski tidak secara langsung) bahwa Tuhan mereka memiliki anak melalui Maria (dalam Islam disebut Maryam) yang kemudian disebut dengan Anak Tuhan. Dan uniknya, yang telah disebutkan sebagai anak Tuhan, dianggap pula bagi mereka sebagai Tuhan. Sedang di sisi lain, jika benar Anak Tuhan tersebut dijadikan pula sebagai Tuhan mereka, tentu saja menjadi sah bagi manusia lainnya menjadi Tuhan. Hal ini tentu sudah diketahui dengan jelas bahwa Tuhan mereka ini dilahirkan dari Manusia yang sebenarnya diciptakan oleh Tuhannya. Tentu saja ini menjadi kompleksitas tersendiri bagi agama mereka dan agama yang lainnya.
Dan mereka berkata, “Tuhan yang maha pengasih itu mempunyai anak!” Sesungguhnya kamu (dengan sebab perkataanmu itu), telah memperbuat kemungkaran besar. Hampir saja langit menjadi runtuh, bumi terbelah dan gunung-gunung berguguran porak poranda. Karena mereka mendakwakan ‘Tuhan yang maha pengasih mempunyai anak’ itu. Padahal tidak seyogyanya bila Tuhan yang maha pengasih mempunyai anak. (QS. Maryam: 88-92)
Bahwasanya, maha tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak pula beranak. (QS. Al Jin: 3)4
Berbeda dengan Islam, Tuhan hanya satu, kekal dan tiada kematian bagi-Nya. Hal ini tentu saja sudah sangat jelas bagi manusia awam yang mengakui akan kekuasaan tunggal. Namun demikian, Tuhan dalam Islam ini pun kemudian sulit diterima oleh manusia awam. Hal ini dikarenakan mereka yang tidak dapat melihat langsung wujud Allah Swt, Tuhan dalam Islam. Sudah menjadi kebenaran bagi-Nya bahwa memang sifat-Nya yang tidak berwujud dan dapat mewujudkan, yaitu tidak diciptakan namun dapat menciptakan. Itu sebabnya dalam Islam, Allah Swt. ada dan tidak dapat ditiadakan5.
Allah, tidak ada Tuhan hanya Dia. Yang maha hidup dan maha penata. (QS. Ali ‘Imran: 2)
Allah, tidak ada Tuhan hanya Dia. Yang maha hidup dan maha penata, yang tidak pernah mengantuk dan tidak pernah tidur. Segala yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Siapakah yang dapat memberikan pembelaan di hadapan Tuhan tanpa izin-Nya? Dia mengetahui apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi, sedang mereka tidak ada yang mengetahui sedikitpun seperti ilmu Tuhan itu, kecuali apa yang dikehendaki-Nya. Kekuasaan-Nya meliputi langit dan bumi. Dan dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dia maha tinggi dan besar. (QS. Al Baqarah: 255)
Dalam sifat-Nya yang maha hidup inilah kemudian Allah menciptakan berbagai zat yang kemudian ditugasinya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Beberapa diantara zat tersebut adalah Malaikat, Setan, Jin, Manusia, dan beberapa diantaranya yaitu Ruang Angkasa, Langit, dan Bumi itu sendiri beserta isi-isinya. Namun meski hal ini sudah menjadi benar hukumnya, banyak diantara mereka yang enggan mengakui kebenaran keberadaan Allah Swt.
(Tantanglah mereka) dengan mengatakan, “Coba terangkan kepadaku, andaikata Allah menjadikan malam itu untukmu berkepanjangan (tanpa adanya siang) smapi hari kiamat, Tuhan manakah selain daripada Allah yang mampu mendatangkan cahaya siang? Apakah kalian tidak pernah mendengar (bahwa Allahlah yang kuasa berbuat demikian)?” Lalu (tantang pulalah) dengan mengatakan (sebaliknya), “Coba (pula) terangkan kepadaku, andaikata Allah menjadikan siang itu untuk kalian berketerusan sampai hari kiamat, Tuhan manakah selain daripada Allah yang sanggup mendatangkan malam, pada mana kalian dapat beristirahat? Apakah hal itu tidak kalian perhatikan?” (QS. Al Qashash: 71-72)
Berikut adalah dalil-dalil perihal kekuasaan Allah akan penciptaan zat-zat yang lainnya.
Ingatlah, ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat: “Sesungguhnya Aku akan mengangkat Adam menjadi khalifah di muka bumi.” Para Malaikat bertanya: “Mengapa Engkau hendak menempatkan di permukaan bumi orang yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah, sedang kami senantiasa bertasbih memuji dan menyucikan-Mu?” Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa-apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al Baqarah: 30)
Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, setelah mana kami perintahkan kepada Malaikat, “Sujudlah kalian kepada Adam!” Merekapun bersujud kecuali Iblis. Dia tidak termasuk (dalam golongan) mereka yang bersujud. (Allah) berfirman, “Apakah keberatanmu untuk bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?” (Iblis) menjawab, “Saya lebih baik daripadanya, Engkau menciptakan saya dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah!” (QS. Al A’raaf: 11-12)
Dia menciptakanmu dari ‘satu diri’, lalu dijadikan-Nya istrinya daripadanya juga. Dan Dia menurunkan untukmu delapan ekor binatang ternak6 yang telah berpasangan. Dia menciptakanmu di dalam rahim ibumu, cipta demi cipta dalam tiga selubung gelap7. Itulah Allah! Tuhanmu yang mempunyai kekuasaan mutlak Tidak ada Tuhan selain Dia. Mengapa kamu dapat juga dipalingkan? (QS. Az Zumar: 6)8
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa9 lalu Dia bersemayam di atas arasy.10 Ditutup-Nya malam dengan siang yang mengiringi (peredaran) dengan cepat. Dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan, dan bintang-bintang. Masing-masing tunduk di bawah pengaturan-Nya. Ingatlah bahwa mencipta dan menata adalah wewenang Tuhan. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al A’raaf: 54)
Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan segala yang ada diantara keduanya dalam enam rangkaian masa, lalu Dia bertahta di atas Singgasana (Kekuasaan). Tiada pelindung, tiada pula pembela bagimu kecuali Dia. Apakah kamu tidak dapat menarik suatu pelajaran (daripadanya)?Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi, lalu semua urusan (dunia) naik kepada-Nya dalam jangka waktu 1000 tahun menurut ukuranmu.11 (QS. As Sajdah: 4-5)
Dia menciptakan langit tanpa penopang sebagaimana engkau lihat. Dia pun memancangkan gunung-gunung (sebagai pengaman dan penyeimbang) di permukaan bumi ini agar kamu tidak mengalami bahaya, lalu dikembangkan biakkannya bermacam-macam jenis makhluk bergerak dan diturunkan-Nya hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan di muka bumi ini segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik. (QS. Luqman: 10)
Dia menancapkan gunung-gunung yang menjulang tinggi di atasnya (sebagai pengaman dan penyeimbang), serta diberi-Nya berkah12, lalu diatur-Nya pula pengadaan bahan pangan penghuninya pada (penghujung) empat rangkaian waktu, sesuai dengan keperluan (penghuni-penghuni) yang membutuhkannya. Selanjutnya13 Dia menuju penciptaan langit, ketika itu masih merupakan gas seperti asap. Lalu Tuhan berfirman kepadanya dan kepada bumi sekaligus, “Datanglah kalian keduanya menjelma, baik dengan jalan patuh maupun dengan jalan paksa!” Keduanya menjawab, “Kami segera menjelma dengan patuh.” Lalu diselesaikan-Nya penciptaannya menjadi tujuh langit dalam dua rangkaian waktu (pula). Kepada setiap langit diwahyukan tentang jalan (perkembangan) masing-masing selanjutnya. Pada langit yang terdekat, Kami hiasi dengan Bintang-bintang Siarat14 yang merupakan lentera-lentera kawal-sambang15 yang berkelip-kelip. Demikianlah penataan Yang maha kuasa dan mengetahui. (QS. Fush Shilat: 10-12)16
Begitulah kuasa Allah akan penciptaan alam semesta ini, bukan hanya tentang penciptaan dalam wujud manusia saja melainkan mencakup seluruh yang pernah ditemukan manusia dalam wujud maupun yang belum diketemukan, dari yang besar hingga tidak tampak oleh mata. Selain dari kekuasaan tersebut, banyak sifat-sifat Allah yang patut diketahui. Sifat-sifat yang hingga mencapai 99 sifat ini kemudian dikenal dengan Asmaul Husna. Dengan mengenal sifat Allah Swt., maka sudah selayaknyalah manusia tidak mudah untuk mengatakan dirinya sebagai Tuhan dan mentuhankan yang lainnya. Karena selain tidak dapat disamakan dengan sifat mulia Allah, mereka (yang mengaku sebagai Tuhan dan yang dituhankan) juga merupakan ciptaan Allah itu sendiri. Berikut adalah sifat-sifat Allah Swt.
Katakanlah, “Dia adalah Tuhan Allah yang maha esa. Tuhan Allah tempat meminta. Dia tidak beranak, dan tidak pula dilahirkan sebagai anak. Dan tiada sesuatu apapun yang ada persamaannya dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas: 1-4)
Allah mempunyai asmaul husna (nama-nama yang Agung). Bermohonlah (kepada-Nya) dengan nama-nama-Nya yang Agung itu. Biarkan sajalah orang-orang yang menyelewengkan nama Allah itu. (Biar) mereka nanti mendapat balsan menurut imbangan perbuatannya. (QS. Al A’raaf: 180)17
Asmaul husna secara harfiah ialah nama-nama, sebutan, gelar Allah yang baik dan agung sesuai dengan sifat-sifat-Nya. Nama-nama Allah yang agung dan mulia itu merupakan suatu kesatuan yang menyatu dalam kebesaran dan kehebatan milik Allah. Dalam agama Islam, asmaul husna adalah nama-nama Allah yang indah dan baik. Asma berarti nama dan husna berarti yang baik atau yang indah jadi Asmaul Husna adalah nama nama milik Allah yang baik lagi indah.
1 Dikutip secara langsung dari Ibrahim bin Fathi bin Abd Al Muqtadir dalam “Wanita Berjilbab vs Wanita Pesolek”, h. 251.
2 Dzat tunggal; tidak diciptakan dan dimatikan, tidak beranak dan dianakkan, tidak beristri dan diperistri, tidak berkelamin, dsb.
3 Allah (Bapa), Maria (Bunda), dan Yesus (Anak Allah). Dalam konsep Kristen, Yesus (yang merupakan anak Allah atau anak Tuhan) merupakan Tuhan pula bagi mereka.
4 Lihat pula; QS. Al Isra: 111.
5 Bandingkan dengan konsep Kristen yang menganggap Yesus sebagai Tuhannya dan telah mengalami kematian baginya; Islam tidak menawarkan kematian bagi Tuhannya, Allah Swt.
6 Kambing dan domba, jumlah masing-masing dari jenis hewan ternak tersebut adalah dua ekor, begitu pula pasangannya. Perhatikan perhitungannya; 2 ekor pejantan kambing & 2 ekor betina kambing = 4 ekor kambing dan 2 ekor pejantan domba & 2 ekor betina domba = 4 ekor domba, sehingga total dari keseluruhannya adalah 8 ekor hewan ternak. Lihat pula; QS. Al An’aam ayat 143.
7 Tiga lapisan kandungan meliputi 1. lapisan luar, yaitu selaput perut (peritoneum/perimetrium); 2. lapisan tengah yang tebal, yaitu lapisan otot-otot dan jaringan penigkat (myometrium); dan 3. lapisan dalam, yaitu lapisan selaput lender (endometrium). Lihat pula; Dr. S.A. Goelam dalam “Ilmu kebidanan; Jilid I”, h. 33.
8 Lihat pula; QS. At Taghabun: 14, Al Insaan: 1-3, Yunus: 34, dan Al Hajj:5-6.
9 Dalam “Terjemahan & Tafsir Alqur’an Huruf Arab & Latin” mencoba menyebutkan dengan hitungan 1 hari Tuhan = 1000 tahun bagi manusia. Sedang bilangan ‘1000’ adalah bukan sebuah bilangan yang pasti, Bilangan tersebut hanya disesuaikan dengan perhitungan manusia yang diambil dari kebiasaan orang Arab (pada waktu itu) dalam menunjukkan lamanya waktu. Sedang ‘masa’ yang ditentukan oleh Allah Swt. adalah sesuai dengan kehendak-Nya (tidak dapat diungkapkan selama apa dalam ‘masa’ bagi Allah –dalam hitungan hari-Nya).
10 Tuhan yang menciptakan langit dan bumi. Tuhan pula yang menguasai dan mengatur segala peredaran benda-benda angkasa itu. Hanya Tuhan yang mengetahui dimana Arasy itu berada.
11 Sesuai dengan ukuran (kebiasaan dalam mengukur lama) orang Arab pada waktu itu. Sedang surat ini sendiri diturunkan di Mekah.
12 Tanah pertanian, sungai, dan hasil alam lainnya.
13 Adalah tidak dapat diartikan sebagai penciptaan yang kedua (tapi penciptaan bumi ‘didahulukan’ lantaran dalam ayat ini menekankan perihal penciptaan akan bumi, sedang mana yang terlebih dahulu diciptakan adalah kuasa Allah saja yang mengetahuinya).
14 Planet-planet yang ada dalam susunan ruang angkasa (misalnya merkurius, mars, venus, dan sebagainya).
15 Satelit-satelit yang mengitari matahari, Bintang, Bulan, dan Planet-planet lainnya yang dapat memancarkan cahaya untuk bumi dari matahari itu sendiri.
16 Lihat pula; QS. Yunus 5-6.
17 Lihat pula; QS. Al Isra: 110 dan Thaha: 8.
Selasa, 28 Juli 2009
Kelompok Islam Dunia
Seluruh penganut Islam pasti setuju bahwa Nabi Muhammad adalah benar dalam menjalankan segala kebijakan pemerintahnya dan ajaran akan ketuhanannya. Itu sebab, Islam yang memiliki pemimpin mutlak dapat dengan mudah disatukan kekuatannya hingga Islam sendiri dengan mudah berkembang hampir di seluruh belahan dunia, baik melalui cara peperangan maupun perdamaian. Namun kekuatan dan kekuasaan yang besar ini tidak berlangsung lama setelah sepeninggal Nabi Muhammad.
Kekuatan yang sebelumnya utuh, kemudian menjadi retak karena beberapa faktor yang terjadi di internal masing-masing kelompoknya. Bahkan terpecahnya kekuatan Islam ini sebelumnya juga pernah disampaikan oleh Nabi Muhammad sendiri.
Nabi Muhammad berkata, “Umatku akan terpecah-pecah menjadi 73 golongan, semuanya akan di tempatkan di neraka, kecuali 1 golongan saja.” “Apa yang satu golongan itu?” Tanya seorang sahabat. Nabi Muhammad Saw. menjawab: “Kelompok Ahlussunah wal jamaah.” Sahabat bertanya lagi. “Siapakah mereka?” Nabi Muhammad Saw. menjawab: “Mereka yang taat pada sunnahku dan sunnah al Khulafa’ al Rasyidin.” (Prof. Dr. Jaih Mubarok, M.Ag. dalam “Sejarah Peradaban Islam”, h. 83-84)
Pemerintahan dalam bentuk Khilafah (sesudahku) akan berlangsung selama 30 tahun, setelah itu akan menjadi kerajaan. (Prof. Dr. Jaih Mubarok, M.Ag. dalam “Sejarah Peradaban Islam”, h. 84)
Dari Imam al Bazzar meriwayatkan dari Abu Ubaidah Ibn al Jarah yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Sesungguhnya fase awal agama kalian dimulai dengan fase kenabian dan rahmah, setelah itu fase Khilafah dan rahmah, tetapi kemudian menjadi kerajaan yang penuh dengan pemaksaan (atau tidak rahmah).” (Prof. Dr. Jaih Mubarok, M.Ag. dalam “Sejarah Peradaban Islam”, h. 84-85)
Meski kini Islam terpecah dalam berbagai kelompok, secara garis besar, Islam dapat digolongkan ke dalam enam golongan, yaitu Syiah, Sunni, Khawarij, Mutajiah, Murjiyah, dan Ibadi.
A. Syiah
Dalam Rapat Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404 H atau yang bertepatan pada bulan Maret 1984, MUI akhirnya berpandangan bahwa terjadi perbedaan antara Syiah dan Sunni yang menganut paham “Ahlus Sunnah Wal Jamaah”. Pertama, penolakan Syiah terhadap hadis yang tidak diriwayatkan oleh Ahlu Bait, sedangkan Sunni tidak membeda-bedakan asalkan hadis itu memenuhi syarat ilmu mustalah hadis. Kedua, Syiah memandang bahwa Imam itu termasuk orang suci, sedangkan Sunni hanya memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan). Ketiga, Syiah tidak mengakui Ijma’ tanpa adanya Imam, sedangkan Sunni mengakui Ijma’ tanpa mensyaratkan ikut sertanya Imam. Keempat, Syiah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama, sedangkan Sunni hanya memandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimamahan adalah untuk menjamin dan melindungi dakwah dan kepentingan ummat.
Pada dasarnya, Syiah hanya mengikuti Islam sesuai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad dan Ahlul Bait-nya. Itu sebab, Syiah menolak kepemimpinan dari tiga Khalifah Sunni pertama. Itu sebab, dilihat secara umum, Syiah tentu tidak mengakui keberadaan kekhalifahan Abu Bakar as Siddiq, Umar Ibnul Khattab, dan Utsman bin Affan. Hal ini tentu sudah sangat berbeda dengan Sunni yang mengakui keempat Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib).
Menurut etimologi bahasa Arab, Syiah memiliki arti “pembela dan pengikut seseorang”. Sedang “Syiah” sendiri adalah bentuk pendek dari kalimat “Syiah Ali”, yaitu “pengikut Ali”. Selain itu, Syiah juga dapat diartikan sebagai kaum yang berkumpul di atas suatu perkara. Dari pandangan lainnya, Syiah diartikan sebagai yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib sangat utama diantara para sahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau.
Syiah percaya bahwa keluarga dan keturunan Nabi Muhammad adalah sumber pengetahuan terbaik tentang Quran dan Islam, yaitu sebagai guru terbaik masalah Islam setelah Nabi Muhammad serta pembawa dan penjaga terpercaya tradisi Sunnah. Itu sebab, Syiah berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib, yaitu sepupu dan menantu Muhammad dan kepala keluarga Ahlul Bait adalah sah sebagai penerus kekhalifahan setelah Nabi Muhammad, bukan yang sebelumnya. Bahkan Syiah menyakini bahwa Ali dipilih melalui perintah langsung oleh Nabi Muhammad. Itu berarti, sebagai perintah Nabi adalah juga sebagai bagian wahyu dari Allah.
Meski Islam sendiri kemudian terpecah ke berbagai mazhab, hal ini pun kemudian terjadi pada diri Syiah. Dalam hal masalah imamah, Syiah pun kemudian terbagi ke berbagai golongan. Namun demikian, dengan tanpa memperhatikan perbedaannya, Syiah mengakui otoritas Imam Syiah (juga dikenal dengan Khalifah Illahi) sebagai pemegang otoritas agama, walaupun terdapat pandangan berbeda dari masing-masing golongan yang terdapat dalam Syiah perihal pengganti para Imam selanjutnya. Dalam keotoritasannya tersebut, Syiah sepakat menjalankan ushuluddin (pokok-pokok agama) dan furu’uddin (masalah penerapan agama) yang sama. Sedang dalam pelaksanaan pokok-pokok agama tersebut, Syiah kemudian menerapkannya ke dalam Tauhid (bahwa Allah Swt adalah Maha Esa), al ‘Adl (bahwa Allah Swt adalah Maha Adil), an Nubuwwah (bahwa kepercayaan Syiah pada keberadaan para nabi sama seperti muslimin lain), al Imamah (bahwa bagi Syiah berarti pemimpin urusan agama dan dunia, yaitu seorang yang bisa menggantikan peran Nabi Muhammad Saw. sebagai pemelihara syariah Islam, mewujudkan kebaikan dan ketenteraman umat), dan al Ma’ad (bahwa Syiah mempercayai kehidupan akhirat).
Sedang dalam perpecahan dalam tubuh Syiah sendiri kemudian dikenal dalam tiga golongan yang meliputi Dua Belas Imam, Ismailiyah, dan Zaidiyah.
1. Dua Belas Imam
Pada dasarnya, pengikut ajaran Syiah Itsna Asyariah juga mendasarkan hukum mereka (Syariah) sama seperti Sunni, yaitu pada al Quran dan Sunnah Rasul. Hanya saja, Syiah Itsna Asyariah beranggapan bahwa Imam atau pemimpin umat tidaklah dapat dipilih secara demokrasi (pemilu), melainkan sebuah jabatan yang langsung diturunkan dari Allah Swt. Pengikut Itsna Asyariah mempercayai bahwa sistim kepemimpinan yang disebut imamah yang berasal dari Nabi Muhammad bertugas untuk memimpin umat Islam dengan petunjuk dari Allah Swt. Dan dalam prinsip ajarannya menyebutkan bahwa sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan umat Islam tanpa pemimpin. Itu sebab, dalam aliran ini mempercayai bahwa Imam terbebas dari dosa dan dianggap suci. Lantaran menganggap jabatan Imam adalah langsung dari ilham yang didatangkan oleh Allah, maka setiap Imam akan berwasiat dalam pemilihan Imam selanjutnya.
Selain permasalahan tersebut, hal yang lainnya adalah masalah pengambil hadis yang hanya dari Nabi Muhammad dan para Ahlul Bait dan penolakan hadis dan contoh yang diriwayatkan oleh Abu Bakar, Umar, dan Usman.
Berikut adalah yang dipercaya sebagai Imamnya setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw.
1. Ali Amirul Mukminin bin Abi Thalib (600–661)
2. Hasan al Mujtaba bin Ali (625–669)
3. Husain asy Syahid bin Ali (626–680)
4. Ali Zainal Abidin bin Husain (658–713)
5. Muhammad al Baqir bin Ali (676–743)
6. Jafar ash Shadiq bin Muhammad (703–765)
7. Musa al Kadzim bin Jafar (745–799)
8. Ali ar Ridha bin Musa (765–818)
9. Muhammad al Jawad at Taqi bin Ali (810–835)
10. Ali al-Hadi bin Muhammad (827–868)
11. Hasan al Asykari bin Ali (846–874)
12. Muhammad al Mahdi bin Hasan (868—)
Dalam penyebarannya, Itsna Asyariah kemudian meluas hingga wilayah Arab Saudi, Iran, Irak, Pakistan, India, Afganistan, Azerbaijan, Kuwait, Bahrain, Lebanon, Tajikistan, Turkmenistan, Uzbekistan, Kirgiztan, Kazakhstan, dan Rusia.
2. Ismailiyah
1. Ali Amirul Mukminin bin Abi Thalib (600–661)
2. Hasan al Mujtaba bin Ali (625–669)
3. Husain asy Syahid bin Ali (626–680)
4. Ali Zainal Abidin bin Husain (658–713)
5. Muhammad al Baqir bin Ali (676–743)
6. Jafar ash Shadiq bin Muhammad (703–765)
7. Ismail bin Jafar (721–755)
Meskipun terdapat beberapa kelompok pecahan dalam Ismailiyah, kaum penganut Ismailiyah umumnya dapat ditemukan di India, Pakistan, Suriah, Lebanon, Israel, Arab Saudi, Yaman, Tiongkok, Yordania, Uzbekistan, Tajikistan, Afghanistan, Afrika Timur, dan Afrika Selatan. Selain itu, Ismailiyah pun menyebar hingga ke Eropa, Australia, Selandia Baru, dan Amerika Utara.
3. Zaidiyah
1. Ali Amirul Mukminin bin Abi Thalib (600–661)
2. Hasan al Mujtaba bin Ali (625–669)
3. Husain asy Syahid bin Ali (626–680)
4. Ali Zainal Abidin bin Husain (658–713)
5. Zaid bin Ali (658–740)
B. Sunni
Penggunaan nama Sunni diambil dari nama Ahl al Sunnah wa al Jamaah atau Ahlus Sunnah wal Jamaah yang kemudian lebih sering disingkat Ahlul Sunnah. Sunni sendiri merupakan mazhab yang memiliki banyak penganut, yaitu mencapai 90% dari umat Islam di dunia dan ±10% adalah penganut Syiah
Seperti yang disebutkan sebelumnya, perpecahan antara Syiah dan Sunni berinti dari pemimpin Islam setelah kematian Nabi Muhammad. Setelah Nabi Muhammad Saw. wafat, banyak percekcokan yang melibatkan banyak golongan yang kemudian terbaggi dalam golongan Muhajirin dan Anshar. Melihat permasalahan yang tidak kunjung mendapatkan jalan tengah, para sahabat pun kemudian menjadi ketakutan akan menjadi perpecahan dalam Islam dan mengakibatkan perang saudara antar Muhajirin dan Anshar. Setelah melalui beberapa fase, kemudian disepakati Abu Bakar sebagai Khalifah.
Dalam perkembangannya, perpecahan dalam tubuh Islam pun kemudian mulai tercium, terlebih lagi permasalahan ini mengakibatkan terbunuhnya Utsman bin Affan oleh kelompok Abdullah bin Saba yang menghendaki Ali sebagai Khalifah selanjutnya. Telah diketahui sebelumnya bahwa Abdullah bin Saba dalam menjaring agamanya mulai menjadi kewalahan yang melihat Islam semakin membesar. Itu sebab, Abdullah bin Saba kemudian memutuskan diri untuk menjadi Islam. Abdullah bin Saba pun kemudian dinilai telah berhasil membangun pemahaman yang sesat untuk mengadu domba umat Islam untuk menghancurkan Islam dari dalam.
Segera setelah kematian Utsman, Ali pun kemudian diangkat menjadi penerusnya dan mendapatkan tugas berat dalam menanggapi kematian Utsman. Melihat kejadian tersebut, Ali yang ketika itu sudah menjabat sebagai Khalifah mencoba mencari jalan yang lebih damai ketimbang saling membangun kekuatan dan berperang sesama Islam. Hanya saja, pengikut setia Utsman, terutama Bani Umayyah pun terus menuntut Ali agar segera menghukum para pembunuh Utsman. Dari perbedaan pandangan tersebut, Bani Umayyah yang saat itu dipimpin oleh Muawiyah pun kemudian memilih keluar dari kekuasaan Khalifah Ali.
Awal dari perpecahan ini kemudian banyak melibatkan para pejuang Islam semenjak Abu Bakar hingga Utsman. Bahkan perpecahan ini pun kemudian menjadi perang saudara yang pertama terjadi di antara para pengikut setia Nabi Muhammad. Terlebih lagi, Aisyah, Thalhah, dan Zubair pun kemudian terlibat peperangan dengan Ali yang kemudian dikenal dengan sebutan Perang Jamal atau Perang Unta.
Dalam rangkaian waktu yaitu setelah kematian Ali di tangan Bani Khawarij, Sunni pada masa kekuasaan Bani Umayyah pun masih dalam keadaan mencari bentuk. Itu sebab, dalam Sunni pun kemudian mengikuti empat mazhab yang berlatar belakang berbeda. Diantaranya adalah Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hambali. Meski terdapat empat mazhab yang berbeda, perbedaan tersebut tidak bersifat fundamental. Perbedaan ini tentu tidak mencakup permasalahan pokok keimanan tapi lebih pada tata cara ibadah.
1. Hanafi
Nama asli Abu Hanifah sendiri adalah An Nu’man bin Tsabit bin Nu’man Zuwatho yang dilahir di Kufah, Iraq pada tahun 80 Hijriah, yaitu 70 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad. Abu Hanifah sendiri berasal dari keturunan bangsa Persia yang diyakini mengalami dua masa khilafah (Bani Umaiyah dan Bani Abbasiyah). Sedang tahun kemtiannya sendiri adalah pada tahun 150 Hijriah.
Meski Abu Hanifah adalah ahli fiqih dari penduduk Irak, Abu Hanifah pun berprofesi sebagai pedagang kain di Kufah. Itu sebab, sebagai ahli dalam ilmu fiqh, Abu Hanifah kemudian dipercaya sebagai seorang yang pertama menyusun ilmu fiqh hingga seperti yang kini diajarkan atau dengan gelarnya “Wadi’ ilmu fiqh”.
2. Maliki
Mazhab ini pada dasarnya diikuti dari pendahulunya, yaitu Malik bin Anas bin Malik bin ‘Amr al Imam atau juga dikenal dengan nama Abu ‘Abdullah al Humyari al Asbahi al Madani. Kelahirannya sendiri diperkirakan di Madinah pada tahun 93 Hijriah dan meninggal pada tahun 179 Hijriah.
Dengan berkembangnya fiqh Islam dari Malik bin Anas, menyebabkan mazhabnya pun kemudian banyak menyebar dan mempengaruhi kawasan Hijaz. Itu sebab, Malik bin Anas pun kemudian mendapatkan julukan “pemimpin ahli fiqh di seluruh daerah Hijaz” atau “Sayyid Fuqaha al Hijaz”.
3. Syafii
Pada dasarnya, mazhab ini adalah mazhab yang berada di antara kedua kelompok antara Abu Hanifah (Mazhab Hanafi) dan Imam Malik (Mazhab Maliki). Dan dengan sikapnya tersebut, Mazhab Syafii kemudian tersebar hingga Turki, Irak, Syria, Iran, Mesir, Somalia, Yaman, Indonesia, Thailand, Singapura, Filipina, Sri Lanka, dan dijadikan mazhab resmi negara Malaysia dan Brunei.
Dalam pelaksanaan dasar-dasar mazhab ini, Syafii masih berpegang pada al Quran, Sunnah Rasul, Ijma’ atau kesepakatan para Sahabat Nabi yang bukan kesepakatan seluruh mujtahid pada masa tertentu terhadap suatu hukum, dan Qiyas.
Penyebarluasan pemikiran Mazhab Syafii berbeda dengan Mazhab Hanafi dan Mazhab Maliki yang banyak dipengaruhi oleh kekuasaan kekhalifahan. Sedang pokok pikiran dan prinsip dasar Mazhab Syafii disebarluaskan dan dikembangkan oleh para muridnya. Itu sebab banyak tokoh yang kemudian pula dikenal kalangan luas yang turut menyebarkan mazhab ini. Diantaranya adalah Yusuf bin Yahya al Buwaiti, Abi Ibrahim Ismail bin Yahya al Muzani, Ar Rabi bin Sulaiman al Marawi, Imam Abu al Hasan al Asy’ari, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Nasai, Imam Baihaqi, Imam Turmudzi, Imam Ibnu Majah, Imam Tabari, Imam Ibnu Hajar al Asqalani, Imam Abu Daud, Imam Nawawi, Imam as Suyuti, Imam Ibnu Katsir, Imam adz Dzahabi, Imam al Hakim, dan lainnya.
Mazhab Syafii pada umumnya dianggap sebagai mazhab yang paling konservatif di antara mazhab-mazhab fiqh Sunni lainnya. Dari mazhab ini berbagai ilmu keislaman telah bersemi berkat dorongan metodologi hukum Islam yang dikembangkan para pendukungnya. Karena metodologinya yang sistimatis dan tingginya tingkat ketelitian yang dituntut oleh Mazhab Syafii, terdapat banyak sekali ulama dan penguasa di dunia Islam yang menjadi pendukung setia mazhab ini. Di antara mereka bahkan ada pula yang menjadi pakar terhadap keseluruhan mazhab-mazhab Sunni di bidang mereka masing-masing.
Perihal kelahiran pembawa mazhab ini, banyak para ahli sejarah berpendapat bahwa Imam Syafii lahir di Gaza, Palestina, dan ada pula yang menyatakan bahwa Imam Syafii lahir di Asqalan, yaitu sebuah kota yang berjarak sekitar tiga farsakh dari Gaza. Sedang pendapat lainnya menyatakan bahwa Imam Syafii di lahirkan di Khuzzah. Imam Syafii atau Muhammad bin Idris asy Syafii dilahir pada tahun 150 Hijriah yang bertepatan dengan tahun wafatnya Imam Abu Hanifah. Sedang Imam Syafii sendiri merupakan keturunan dari al Muththalib (Bani Muththalib).
Dalam hal pengajaran Islamnya, Imam Syafii kemudian dikenal dengan ajaran “pendapat yang lama” atau Qaul Qadim dan “pendapat yang baru” atau Qaul Jadid. Perihal Qaul Qadim dan Qaul Jadid ini diperoleh dari dua tempat yang berbeda, yaitu sebagai Qaul Qadim ketika Imam Syafii berada di Bagdad dan Qaul Jadid ketika berada di Mesir.
Imam Syafii yang telah banyak menyebar di berbagai kalangan ini kemudian meninggal di Fusthat-Mesir pada tahun 204 Hijriah atau bertepatan dengan tahun 819 Masehi.
4. Hambali
Pembawa mazhab ini, Imam Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal bin Asad al Marwazi al Baghdadi dilahirkan di Marw (saat ini bernama Mary di Turkmenistan, utara Afghanistan dan utara Iran) pada 781 dan wafat pada tahun 241 Hijrah di kota Baghdad, Irak. Pada awal mula Menuntut Ilmu, Imam Hambali pertama kali menguasai al Quran dan sudah hafal pada usia 15 tahun. Diusia yang sama, Imam Hambali mulai mempelajari Hadis hingga ke Syam (Syiria), Hijaz, Yaman dan negara-negara lainnya.
Imam Hambali dalam kehidupannya kemudian menikah pada umurnya yang ke-40 tahun dan mendapatkan keberkahan yang melimpah. Beliau melahirkan dari istri-istrinya anak-anak yang shalih, yang mewarisi ilmunya, seperti Abdullah dan Shalih. Bahkan keduanya sangat banyak meriwayatkan ilmu dari bapaknya.
Dalam kehidupannya, setelah sepeninggal gurunya, yaitu Imam Syafii hijrah ke Mesir, Imam Syafii pun kemudian berkata “Saya keluar dari Baghdad, tidak saya tinggalkan di sana seorang yang lebih takwa, lebih wara’, dan lebih alim selain Ahmad bin Hambal, yang sungguh banyak menghafal hadis.” Sedang Imam Hambali pun kemudian wafat pada 12 Rabiul Awwal 241 Hijirah dan bertepatan dengan hari Jumat.
C. Khawarij
Mengingat tidak sepaham dengan pandangan Khawarij, Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah ibn Abi Sufyan pun kemudian dianggap telah menjadi kafir dan mereka wajib dibunuh. Sebab dalam padangan Khawarij, setiap orang yang melakukan dosa besar adalah kafir. Berdasarkan keyakinan ini maka mereka merencakan pembunuhan terhadap kedua pemimpin Islam tersebut. Namun dalam kenyataannya mereka hanya berhasil membunuh Ali bin Abi Thalib, yang dilakukan oleh Abdur Rahman bin Muljam. Sedang dalam aksi percobaan pembunuhan terhadap Muawiyah dapat digagalkan lantaran Abu Sufyan mendapatkan pengawalan yang sangat ketat.
Mendengar berita kematian Ali, Muawiyah segera memproklamirkan dirinya sebagai Khalifah selanjutnya. Melihat kegigihan dan kecakapan Muawiyah dalam bersosialisasi, Muawiyah pun kemudian mendapatkan banyak pengakuan. Namun tidak bagi Khawarij. Kelompok ini selalu menyerang dan memerangi perintah yang telah diperintah oleh Muawiyah. Meskipun semakin lama jumlah mereka semakin sedikit, namun itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk memerangi pemerintah, sebab dalam pandangan mereka pemerintah saat itu telah menyeleweng dan tidak menjalankan hukum Allah dengan benar.
Terlepas dari permasalahan tersebut, Khawarij juga memiliki doktrin yang lain, yakni masalah iman dan kekhalifahan. Iman dalam pandangan kaum khawarij tidak boleh hanya dengan ucapan lisan semata, namun harus pula diiringi dengan amal saleh. Sedangkan masalah khalifah kaum Khawarij mengatakan bahwa khalifah untuk umat Islam harus dipilih oleh semua umat Islam di berbagai daerah. Calon yang akan menjadi khalifah tidak hanya dari golong Quraish atau Arab saja. Semua umat berhak menjadi khalifah tanpa batasan suku bangsa. Selama memiliki kapasitas untuk memimpin, maka memiliki hak intuk memimpin dan dipilih. Khalifah yang terpilih wajib ditaati oleh seluruh umat Islam selama berlaku adil dan menjalankan hukum Allah. Namun jika dianggap telah menyeleweng, maka hukumannya pun wajib dibunuh. Dalam pandangan Khawarij, Utsman ibn Affan pun kemudian dianggap sebagai kafir lantaran dinilai gagal dalam menjalankan pemerintahan yang banyak melakukan penyimpangan. Dan hal serupa ditujukan kepada Talhah, Zubeir, dan Aisyah yang memerangi kekhalifahan yang sah, yaitu menyatakan perang terhadap Ali.
Dalam hal pelaksanaan hukum Islam, Khawarij sangat keras. Doktrin Khawarij mengenai dosa besar semakin meluas yaitu meliputi setiap pelaku dosa besar yang lain juga kafir, seperti berzina, mabuk, mencuri, dan membunuh merupakan dosa yang tidak dapat diampuni dan dianggap murtad, yaitu keluar dari Islam. Namun di sisi lain, perihal pandangan ini, Khawarij pun mulai menaruh beda pandangan, yaitu sebagian mengatakan bahwa pelaku dosa ini wajib di bunuh dan sebagian lagi tidak wajib untuk dibunuh. Perbedaan pendapat tentang kafir dan tidak kafir ini menjadikan khawarij terbagi dalam beberapa kelompok, setiap kelompok mengklaim kelompoknya yang paling benar dan kelompok lain salah.
Dalam masalah keagamaan, Khawarij menjalankan al Quran sebagaimana yang ada dalam al Quran itu sendiri. Mereka sangat disiplin dengan aturan, sehingga sedikit saja melenceng dan “berkhianat” akan dihukum. Prinsip ekstrim dan fundamental Khawarij seperti tersebut di atas masih ada dan berkembang dalam masyarakat Islam saat ini. Beberapa organisasi Islam memandang mereka sebagai kelompok yang paling benar dan “mengkafirkan” golongan lain. Mereka menuduh setiap golongan yang berbeda dengan golongan mereka sebagai kaum yang tidak menjalankan ajaran Islam dengan sempurna. Seharusnya semua orang sama dengan kelompok mereka, sebab hanya dengan begitu umat Islam akan maju dan berkembang. Pandangan ini menyebabkan timbulnya pertentangan antar kelompok yang kemudian menjadikan perpecahan di kalangan umat Islam itu sendiri sheingga membuat daya tawar umat Islam lemah.
Seperti kelompok yang pernah ada sebelumnya, lantaran perbedaan pendapat tentang kafir-tidaknya seseorang, Khawarij pun mulai terpecah dalam beberapa kelompok. Diantaranya adalah Al Muhakkimah, Al Azariqah, Al Najdat, Al ‘Ajaridah, dan Al ‘Ibadiyah.
1. Al Muhakkimah
2. Al Azariqah
3. Al Najdat
4. Al ‘Ajaridah
5. Al Sufriyah
6. Al ‘Ibadiyah
D. Murji’ah
Dengan adanya kelompok Khawarij yang terbilang ekstrem, Murji’ah terlahir sebagai kelompok aliran Islam yang muncul dari golongan yang tidak sepaham dengan Khawarij. Murji’ah dalam ketidak sepahaman dengan Khawarij adalah masalh pengkafiran seseorang. Murji’ah menganggap bahwa hukuman atas perbuatan seseorang akan dilakukan di pengadilan Allah Swt. Itu sebab, Islam yang telah melakukan dosa besar pun tidak dapat dianggap sebagai kafir yang mempunyai harapan untuk bertobat dan memperbaikinya. Sebab yang berhak menjatuhkan hukuman terhadap seorang pelaku dosa hanyalah Allah Swt. dan bukan sebagian kelompok tertentu.
E. Mu’taziliyah
F. IBADI
Kaum Ibadi mementingkan ukhuwah islamiyyah daripada bermusuh-musuhan hanya karena berbeda mahzab atau aliran. Cukuplah keyakinan mereka mengharapkan disebut hamba-hamba Allah yang dipanggil untuk masuk ke dalam surga-Nya.