Tampilkan postingan dengan label Dunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Desember 2010

Tokugawa Ieyasu


Dilahirkan dengan nama Matsudaira Takechiyo, Tokugawa Ieyasu kemudian dikenal sebagai salah seorang tokoh yang memunculkan faham kediktaktoran dalam kepemimpinan setelah lama tidak terjadi. Tokugawa Ieyasu sendiri dilahirkan pada tanggal 31 Januari 1543 sebagai keturunan dari pasangan Matsudaira Hirotada dan Odai no Kata.

Matsudaira Hirotada sendiri adalah seorang daimyo yang menguasai Istana Okazaki di Mikawa, sedang sang ibu, Odai no Kata adalah anak perempuan dari seorang Samurai, Mizuno Tadamasa. Setelah kelahiran Tokugawa Ieyasu, kedua orang tuanya pun berpisah cukup lama meski pada akhirnya mereka kembali rujuk. Mereka berpisah setelah sekitar 2 tahun setelah kelahiran anaknya. Sedang masing-masing umur keduanya saat kelahiran Tokugawa Ieyasu adalah 17 tahun untuk Matsudaira Hirotada dan 15 tahun untuk Odai no Kata.

Meski keluarga Matsudaira merupakan salah satu keluarga yang diperhitungkan, dalam internal keluarganya sendiri, keluarga Matsudaira banyak terlibat pertikaian di dalamnya. Puncaknya ketika sekitar tahun 1550, dimana dalam keluarga Matsudaira terdapat dua kubu yang masing-masing ingin menjadi pengikut dari Klan Oda maupun Klan Imagawa. Dan yang menjadi tragisnya, dengan ketidak sepakatan dalam internal, kakek dari Tokugawa Ieyasu, Matsudaira Kiyoyasu pun harus membayarnya dengan nyawa.[1]

Menginjak tahun 1548, Klan Oda yang melihat keistimewaan di daerah Mikawa pun sgera mencoba melakukan invasi. Namun, rencana trsebut pun kemudian terdengar oleh Matsudaira Hirotada dan segera mungkin meminta bantuan kepada Klan Imagawa untuk dapat membantunya. Hanya saja, meski Klan Imagawa menyetujui untuk melindungi Matsudaira Hirotada, Imagawa Yoshimoto pun meminta jaminan dengan menunjuk Tokugawa Ieyasu sebagai sandera. Lantaran dianggap perlu, Matsudaira Hirotada pun menyetujui permintaan kepala Klan Imagawa tersebut.

Lantaran tidak menginginkan usahanya gagal, Oda Nobuhide yang mengetahui perihal dukungan Klan Imagawa pun kemudian merencanakan untuk melakukan penculikan. Dan berhasil, Oda Nobuhide pun kemudian menculik Tokugawa Ieyasu yang masih berumur 6 tahun tersebut dari pasukan pengiringnya.[2] Setelah aksi penculikan terhadap Tokugawa Ieyasu berhasil, Oda Nobuhide pun kemudian mengancap kepada Matsudaira Hirotada untuk segera memutuskan hubungannya dengan Klan Imagawa atau Tokugawa Ieyasu akan dibunuh. Namun di balik itu semua, demi menunjukkan bukti kesetiaannya kepada Klan Imagawa, Matsudaira Hirotada pun membiarkan Tokugawa Ieyasu terbunuh.

Mendengar penolakan ancaman tersebut, Oda Nobuhide pun menjadi terkejut. Meski Oda Nobuhide sudah mengancam untuk membunuh Tokugawa Ieyasu, Oda Nobuhide ternyata tidak membunuh Tokugawa Ieyasu. Oda Nobuhide malah melindungi Tokugawa Ieyasu sebagai sanderanya di kuil Manshoji di Nagoya.

Menginjak tahun 1549, tepat diusianya yang ke-7 tahun, Tokuigawa Ieyasu mendapatkan kematian sang ayah. Dan di tahun yang sama pula, dengan adanya penyakit yang meliputi tubuh Oda Nobuhide, dirinya pun menemui ajalnya. Dan secara langsung, Oda Nobuhiro yang menjadi anak pertama Oda Nobuhide pun menjadi kepala klan yang baru. Mendengar kabar adanya transisi kepemimpinan, Klan Imagawa yang dipimpin Imagawa Sessai pun segera melancarkan serangan untuk menjatuhkan kekuatan Klan Oda.

Dalam penyerangan tersebut, ternyata Oda Nobuhiro pun tidak mampu mempertahankan istananya hingga keadaan semakin terpuruk. Hingga tahun 1549, 2 tahun setelah kematian Oda Nobuhide, Imagawa Sessai yang hampir menjatuhkan Klan Oda seluruhnya pun mencoba membuat kesepakatan dengan Oda Nobunaga, adik dari Oda Nobuhiro. Dalam kesepakatan tersebut, Imagawa Sessai memberikan opsi tentang keadaan klannya. Jika Oda Nobunaga setuju untuk tunduk kepada Klan Imagawa, maka tali keturunan Klan Oda akan dibiarkan, tapi jika tidak, Klan Oda pun terpaksa dihabisi.

Dengan melihat kesempatan emas tersebut, Oda Nobunaga pun kemudian menyetujui persyaratan Imagawa Sessai untuk menyerah. Hal ini tentu saja bertolak dengan kakaknya yang menginginkan untuk tetap bertahan. Karena perbedaan tersebutlah, tidak diketahui bagaimana selanjutnya, Oda Nobunaga pun kemudian menyerahkan Tokugawa Ieyasu kepada Imagawa Sessai untuk dijadikan sandera di usianya yang ke-9 tahun di Sumpu.

Dan dengan menjadinya Tokugawa Ieyasu sebagai sandera Klan Imagawa, secara tidak langsung, Tokugawa Ieyasu pun berangsur menjadi pengikut setia Klan Imagawa. Hingga memasuki tahun 1556, saat usia Tokugawa Ieyasu beranjak 15 tahun, Tokugawa Ieyasu yang sebelumnya masih menggunakan nama keluarganya, Matsudaira Takechiyo pun mengganti namanya menjadi Matsudaira Jirōsaburō Motonobu. Dan setahun selanjutnya, Tokugawa Ieyasu pun kmbali mengganti namanya menjadi Matsudaira Kurandonosuke Motoyasu setelah menikahi istri pertamanya.

Sebagai pengikut Klan Imagawa, setelah dinilai mencukupi umur, Tokugawa Ieyasu pun kemudian mendapatkan perintah untuk segera menyerang Klan Oda. Dan dalam penyerangannya tersebut, Tokugawa Ieyasu pun kemudian memenangkan pertempurannya di Terabe.

Melihat kekalahan yang menyedihkan pada Klan Oda, pada tahun 1560, Oda Nobunaga pun kemudian menjadikan dirinya sebagai kepala klan setelah Oda Nobuhiro meninggal. Dengan adanya pengangkatan Oda Nobunaga sebagai kepala klan baru, Oda Nobunaga pun kemudian membuat kesepakatan dengan Tokugawa Ieyasu.

Tidak diketahui dengan jelas memang bagaimana bentuk kesepakatan tersebut. Hanya saja, ketika Yoshimoto diangkat sebagai panglima tertinggi dari Klan Imagawa untuk menyerang kembali Klan Oda, Tokugawa Ieyasu enggan untuk membantu hingga menyebabkan kematian Yoshimoto itu sendiri di Pertempuran Okehazama.

Pembelotan Tokugawa Ieyasu tersebut diduga dengan adanya penyanderaan istri dan anaknya yang bernama Matsudaira (Tokugawa) Nobuyasu oleh Klan Imagawa. Itu sebab, setelah Yoshimoto menemui ajalnya, Tokugawa Ieyasu pun kemudian memecahkan diri dengan Klan Imagawa dan segera menduduki Kaminojo dan membangun istananya sendiri. Dan merasa mampu menjadi pemimpin, Tokugawa Ieyasu pun kemudian mrombak seluruh kepengurusan klannya dan menjadikannya sebagai kepala klan yang baru serta memposisikan beberapa panglim aperang yang disebarkan di tanah kelahirannya, Mikawa. Beberapa yang mnjadi manusia pilihannya meliputi Honda Tadakatsu, Ishikawa Kazumasa, Koriki Kiyonaga, Hattori Hanzō, Sakai Tadatsugu, dan Sakakibara Yasumasa.

Karir Tokugawa Ieyasu memang terbilang sangat mengesankan. Bahkan keajaiban pun kerap menemaninya. Bahkan dalam penguasaan tanah kelahirannya pun, Tokugawa Ieyasu yang sempat bersiteru dengan pasukan Mikawa Monto dan hampir menyebabkan kematiannya. Namun demikian, Tokugawa Ieyasu pun tidak kunjung mati.[3]

Memasuki tahun 1567, nama Tokugawa Ieyasu itu sendiri pun digunakannya secar resmi setelah sebelumnya menggunakan nama Matsudaira Kurandonosuke Motoyasu. Dan pada tahun berikutnya (1568), setelah Tokugawa Ieyasu berhasil memiliki wilayah kekuasannya sendiri, dirinya bersama Takeda Shingen pun sepakat untuk menggulingkan kekuasaan Klan Imagawa. Dan dengan adanya kesepakatan tersebut, keduanya pun berhasil menguasai wilayah kekuasaan Klan Imagawa, masing-masing diantaanya adalah Takeda Shingen yang menguasai provinsi Saruga dan Tokugawa Ieyasu sendiri berhasil menguasai provinsi Tōtōmi.

Merasa memiliki wilayah kekuasaan yang semakin luas, Tokugawa Ieyasu pun kemudian memutuskan untuk tidak kembali bekerjasama dengan Takeda Shingen. Mendengar kabar tidak mengenakkan tersebut, Takeda Shingen pun kemudian merangkul Klan Hōjō. Dan menginjak bulan Oktober 1571, Takeda Shingen bersama Klan Hōjō pun sepakat untuk menundukkan provinsi Tōtōmi.

Mendengar kemarahan dari pihak Klan Takeda, Tokugawa Ieyasu pun kemudian segera meminta bantuan kepada Klan Oda untuk mengirimkan pasukannya. Dan dengan dikirimnya bantuan dari Klan Oda, Tokugawa Ieyasu pun akhirnya menyepakati pertempurannya dengan Takeda Shingen pada tahun 1573. Dengan adanya pertempuran mereka yang disebut dengan Pertempuran Mikatagahara, Tokugawa Ieyasu akhirnya menemui kekalahannya yang sangat besar. Namun demikian, Tokugawa Ieyasu yang kembali selamat pun kembali membangun kekuatannya.

Sebuah keberuntungan kembali memihak kepada Tokugawa Ieyasu yang kemudian mendapatkan berita kematian Takeda Shingen di tahun bersamaan jatuhnya Tokugawa Ieyasu. Dan dengan kembali meminta bantuan Klan Oda, Tokugawa Ieyasu pun kembali merebut kekuasaannya yang pernah jatuh.

Dengan kematian Takeda Shingen, Klan Takeda pun kemudian dilanjutkan oleh anaknya, Takeda Katsuyori. Dan dengan peralihan kekuasaan tersebut, ternyata tidak mampu menjaga kekuatannya sebelumnya yang mampu mengusir Tokugawa Ieyasu dari provinsi Tōtōmi. Dan tepat pada tahun 1575, dengan bantuan tentara dari Klan Oda yang mencapai 30.000 pasukan, Tokugawa Ieyasu akhirnya mampu menundukkan wilayahnya kembali dengan mengusir Takeda Katsuyori kembali ke provinsi Kai pada tanggal 28 Juni 1575.

Meski Takeda Katsuyori telah kalah dalam pertempurannya, Takeda Katsuyori ternyata kembali mengatur rencananya untuk membalas dendam. Dalam pembalsan dendam tersebut, istri dan anak Tokugawa Ieyasu yang masih dijadikan sandera pun ditugasi untuk membunuh Oda Nobunaga karena telah melakukan kesalahan dengan membantu Tokugawa Ieyasu. Tepat pada tahun 1579, setelah Tokugawa Ieyasu mengetahui rencana Takeda Katsuyori yang menggunakan istri dan anaknya pun tidak ambil diam. Istrinya pun kemudian dihukum mati oleh Tokugawa Ieyasu itu sendiri dan sedang Matsudaira Nobuyasu, anaknya pun disuruh untuk melakukan seppuku.

Setelah urusan internal keluarganya usai, Tokugawa Ieyasu bersama pasukan Klan Oda pun kemudian menyerang pusat kekuatan Klan Takeda yang berada di provinsi Kai. Dan dalam Pertempuran Temmokuan itulah Takeda Katsuyori dan anaknya, Takeda Nobukatsu pun mengalami kekalahan dan kematiannya di tahun 1582.

Kematian Oda Nobunaga pada tahun 1582, menyebabkan dendam tersendiri bagi Tokugawa Ieyasu. Dengan dirinya yang berada di Osaka, Tokugawa Ieyasu pun mencoba untuk mengejar Akechi Mitsuhide, seorang yang telah membunuh Oda Nobunaga. Hanya sajka, usahanya tersebut pun sia-sia lantaran Toyotomi Hideyoshi ternyata lebih dahulu mengalahkan Akechi Mitsuhide dalam Pertempuran Yamazaki. Namun demikian, setelah Tokugawa Ieyasu mengetahui keterlibatan salah satu penguasa besar di provinsi Kai, Tokugawa Ieyasu pun mencoba mengisolasi provinsi tersebut dengan mengerahkan seluruh kekuatannya.

Di sisi lain, Hōjō Ujimasa, pemimpin tertinggi bagi Klan Hōjō pun juga mengerahkan pasukan besarnya untuk menghadang gerakan Tokugawa Ieyasu. Hanya saja, keduanya akhirnya sepakat untuk tidak mengangkat senjatanya masing-masing setelah terjadi pertemuan diantara keduanya. Dalam kesepakatan tersebut, Tokugawa Ieyasu berhak mengatur dan mengambil alih kekuasaan di seluruh wilayah provinsi Kai dan Shinano, sedang Hōjō Ujimasa mendapatkan wilayah provinsi Kazusa. Dan di tahun yang bersamaan, tahun 1583, Toyotomi Hideyoshi pun kemudian menjadi seorang daimyo yang berkuasa sebagai pengganti kekuasaan Oda Nobunaga setelah mengalahkan Shibata Katsuie.

Sebagai dua individu yang sama-sama ingin menguasai Jepang secara utuh, Tokugawa Ieyasu dan Toyotomi Hideyoshi pun akhirnya terlibat dalam pertikaian. Dengan dikirimnya pasukan Tokugawa Ieyasu untuk menundukkan provinsi Owari, Toyotomi Hideyoshi pun melakukan hal yang serupa untuk menantang kekuatan Tokugawa Ieyasu. Hanya saja, dalam kesempatan kali pertama tersebut, pasukan Toyotomi Hideyoshi ternyata tidak mempu membendung kekuatan Tokugawa Ieyasu. Namun demikian, setelah beberapa waktu kemudian, Toyotomi Hideyoshi pun akhirnya melakukan negosiasi dengan lawannya tersebut. Dan dalam kesepakatannya, Toyotomi Hideyoshi pun memebrikan keamanan kepada Oda Nobuo dan membiarkan Tokugawa Ieyasu kembali dengan urusannya. Dan sebagai jaminannya, O Gi Maru atau yang kemudian dikenal dengan Yūki (Matsudaira) Hideyasu, anak kedua Tokugawa Ieyasu pun harus dijadikan sandera dan anak angkat dari Toyotomi Hideyoshi.

Meski keduanya akhirnya memilih jalan perdamaian, ketika Toyotomi Hideyoshi yang sedang melakukan penyerangan di Shikoku dan Kyushu pun tidak mendapatkan bantuan dari Tokugawa Ieyasu itu sendiri.

Di tahun 1590, Toyotomi Hideyashi pun kemudian terlibat bentrok dengan Klan Hōjō. Dalam bentrokan tersebut, Toyotomi Hideyoshi meminta kepada Hōjō Ujimasa, seorang penguasa dari Klan Hōjō yang menguasai 8 provinsi di Kantō untuk segera tunduk kepadanya. Namun usulan tersebut pun kemudian ditolak Hōjō Ujimasa. Merasa ditolak, Toyotomi Hideyoshi pun segera melancarkan serangannya. Sedang di sisi lain, Hōjō Ujimasa yang sebelumnya menjadi rekan Tokugawa Ieyasu pun segera meminta bantuan.

Dalam pertempuran tersebut, Toyotomi Hideyoshi pun kemudain dihadapkan dengan pasukan gabungan Hōjō Ujimasa-Tokugawa Ieyasu yang sebesar 60.000 Samurai yang terlatih. Namun haltersebut tentu tidak sepadan dengan pasukan Toyotomi Hideyoshi itu sendiri yang mencapai 160.000 pasukan. Dan selama pertempuran berlangsung di Istana Odawara, Toyotomi Hideyoshi yang mengetahui keterlibatan Tokugawa Ieyasu yang membantu Hōjō Ujimasa pun kemudian mencoba membuat kesepakatan. Dalam kesepakatan tersebut, Toyotomi Hideyoshi yang menginginkan wilayah Klan Hōjō pun memberikan 5 dari 8 provinsi kekuasaan Hōjō Ujimasa kepada Tokugawa Ieyasu jika dirinya mau berdiri di belakang (tunduk) Toyotomi Hideyoshi.

Merasa ingin memiliki daerah kekuasaan yang lebih luas, Tokugawa Ieyasu pun kemudian menerima kesepakatan tersebut dan menghianati Hōjō Ujimasa. Dalam pertempuran tersebut, Tokugawa Ieyasu bersama Toyotomi Hideyoshi pun akhirnya mampu mengalahkan Hōjō Ujimasa. Dan sesuai perjanjiannya, Tokugawa Ieyasu pun kemudian mendapatkan 5 provinsinya dan tunduk kepada Toyotomi Hideyoshi. 5 provinsi yang dikuasainya kemudian meliputi Mikawa itu sendiri, Tōtōmi, Suruga, Shinano, dan Kai.

Dalam pengaruh kekuasaannya yang baru, Tokugawa Ieyasu pun kemudain mengerahkan seluruh pasukannya ke selkuruh wilayah kekuasaannya tersebut dan mendirikan Istana Edo di Kantō. D\Sedang dalam pergerakan internalnya, Tokugawa Ieyasu yang akhirnya menguasai wilayah Klan Hōjō pun mengambil alih seluruh pasukannya yang tersisa. Bukan hanya itu saja, Tokugawa Ieyasu ternyata juga merombang seluruh tatanan Kantō. Tokugawa Ieyasu kemudian mengisolasi dari seluruh peradaban Jepang yang sedang kalut dan mengatur segi keekonomiannya berdasarkan aturan Toyotomi Hideyoshi. Bahkan ketika Toyotomi Hideyoshi sedang melakukan invasinya ke Joseon, Tokugawa Ieyasu pun tidak mengambil peran. Lantaran kekuatan Tokugawa Ieyasu semakin besar, dirinya pun kemudian dikenal sebagai daimyo kedua yang berpengaruh saat itu. Hingga akhirnya Tokugawa Ieyasu sendiri menjadi seorang yang paling dimusuhi dikalangan pengikut keluarga Toyotomi saat Toyotomi Hideyoshi menemui ajalnya.

Setelah kematian Toyotomi Hideyoshi tersebut, Tokugawa Ieyasu yang kemudian bentrok dengan Ishida Mitsunari pun akhirnya mampu menguasai keseluruhan Jepang dengan diangkatnya dirinya mejadi Sei I Tai Shogun oleh Kaisar Goyōzei pada tahun 1603 setelah menang dari Pertempuran Sekigahara (15 September 1600).
2 tahun setelah dirinya menjadi Shogun, Tokugawa Ieyasu pun kemudian menyerahkan jabatannya kepada sang anak, Tokugawa Hidetada pada tahu 1605. Hanya saja, Tokugawa Ieyasu yang kemudian menempati Istana Sunpu pun masih mendikte kekuasaan anaknya hingga kematiannya sendiri. Dan dalam pendikteannya, Tokugawa Ieyasu yang menjabat sebagai Ōgosho (pensiunan Shogun) pun melanjutkan pembangunan Istana Edo[4] yang belum kelar.

Di akhir hayatnya, Tokugawa Ieyasu yang sedang mengidap penyakit kanker (sebagian data menyebuitkan penyakitnya adalah syphilis) akhirnya meninggal pada usianya yang ke-73 tahun pada tanggal 1 Juni 1616. Dan kematiannya sendiri pada awlanya di percaya di kuburkan di makam Gongen yang dibangun dengan besar dan indah di Kunōzan (Kunōzan Tōshōgū). Dan setahun kemudian, setelah perayaan kematiannya, makam Tokugawa Ieyasu pun dipindahkan ke kuil Nikkō (Nikkō Tōshōgū).
Kematiannya tersebut, Tokugawa Ieyasu akhirnya meninggalkan 19 istri (dan selir/dayang/simpanan) beserta 11 putra dan 5 putri serta cucu. Kesebelas putranya tersebut adalah Matsudaira Nobuyasu, Yūki Hideyasu, Tokugawa Hidetada, Matsudaira Tadayoshi, Takeda Nobuyoshi, Matsudaira Tadateru, Matsuchiyo, Senchiyo, Tokugawa Yoshinao, Tokugawa Yorinobu, dan Tokugawa Yorifusa. Dan kelima putrinya adalah Kame Hime, Toku Hime, Furi Hime, Matsu Hime, Eishōin Hime, dan Ichi Hime. Sedang cucu yang ditinggalkankannya yang dilahirkan semasa Tokugawa Ieyasu masih hidup adalah Tokugawa Yorinobu (daimyo provinsi Kii), Tokugawa Yoshinao (daimyo provinsi Owari), dan Tokugawa Yorifusa (daimyo provinsi Mito).[5]


[1] Sang ayah, Matsudaira Hirotada menginginkan untuk menjadi pengikut Klan Imagawa, sedang sang kakek, Matsudaira Kiyiyasu menginginkan menjadi pengikut Klan Oda.
[2] Timon Screech dalam “Secret Memoirs of the Shoguns: Isaac Titsingh and Japan, 1779-1882” (2006), hal. 85
[3] Mikawa Monto adalah sebuah daerah yang berada di provinsi Mikawa itu sendiri. Namun dalam kebijakannya, Mikawa Monto lebih cendeung mengikuti provinsi Kaga. Dalam wilayahnya tersebut, Mikawa Monto terkenal dengan bayaknya kuil-kuil. Dan perihal pertikaian yang terjadi antara Tokugawa Ieyasu dengan pasukan Mikawa Monto disebabkan oleh penolakan terhadap Tokugawa Ieyasu yang ingin kemnguasai wilayah Mikawa seluruhnya.
[4] Istana Edo kemudian dikenal sebagai istana terbesar diseluruh kawasan Jepang. Dan istana tersebut akan digunakan Tokugawa Ieyasu sebagai tempat peristirahatannya yang terakhir.
[5] http://en.wikipedia.org/wiki/tokugawa_ieyasu

Rabu, 10 November 2010

Hari Pahlawan - Surabaya Setelah Pendudukan Jepang 10 Nopember 1945


Di Indonesia, tanggal 10 Nopember selalu diperingati sebagai Hari Pahlawan. Tentu saja ini sangat menarik bagi pembacfa untuk mengetahui bagaimana dan mengapa tanggal 10 Nopember diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Dimulai dengan adanya proklamasi kemerdekaan Indonesia atas Jepang pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia rupanya tidak benar-benar merdeka. Meski tanggal 17 Agustus 1945 dinyatakan sebagai Hari Kemerdekaan Indonesia, Jepang yang merupakan negara anggota dari Aliansi Axis pun masih meninggalkan ‘warisan’ kepada tentara sekutu.
Seperti yang diketahuui, Amerika yang setelah peristiwa Pengeboman Pearl Harbor pada 7 Desember 1941 pun kemudian menyatakan resmi memasuki PD II pada keesokan harinya. Hal tersebut berarti menandakan bahwa Amerika dengan pasti bergabung dengan Inggris dan Negara-negara anti-Jerman pun kemudian mendeklarasikan diri sebagai kelompok sekutu. Diantara empat Negara terbesarnya dalah Amerika itu sendiri, Inggris, Rusia, dan China.
Pada masa sebelumnya, Jepang yang semula hendak menjalin kerjasama dengan Amerika tentang perdamaian kedua Negara tersebut akhirnya tidak mendapatkan jalan keluar. Itu sebab, bersamaan dengan penyerangannya di Pearl Harbor, Jepang pun kemudian mulai menginvasi kawasan Indochina, termasuk Indonesia.
Invasi Jepang terhadap Indonesia rupanya mampu menjadikan Negara Sakura tersebut dengan cepat mengalahkan Belanda –yang menjadi bagian dari negara sekut di Indonesia. Namun dengan adanya ultimatum yang dikeluarkan oleh Amerika setelah menggelar Konferensi Postdam pada 17 Juli 1945 yang kemudian menghasilkan Deklarasi Postdam pada 26 Juli 1945, menyatakan bahwa Jepang harus menyerah tanpa syarat.
Meski kekuatan Aliansi Axis telah mengalami kekalahan mutlak setelah Italia mengkudeta Benito Mussolini dan beralih ke pihak sekutu, Jerman yang menyatakan menyerah setelah Adolf Hitler diumumkan telah bunuh diri, Jepang tidak kunjung menyatakan menyerah kepada sekutu. Namun demikian, Jepang mewacanakan tentang perundingan perdamaian dengan Amerika. Sedang di sisi lain, negara sekutu sudah tidak lagi membutuhkan pembicaran yang menyebabkan keuntungan untuk Jepang. Dengan atas nama Amerika dan sekutu, pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, sebuah bom atom pun dijatuhkan di masing-masing wilayah Hiroshima dan Nagasaki. Dan pada   tanggal 9 Agustus 1945 itu pula, Jerman pun kemudian menginvasi tentara Jepang yang berada di Manchukuo.
Dengan adanya peristiwa pengeboman tersebut, Amerika pun kemudian kembali mengultimatum Jepang untuk menyerah atau akan dibumi-hanguskan. Mendengar hal tersebut, Jepang yang dipimpin oleh Kaisar Hirohito pun kemudian mengumumkan negaranya menerima Deklarasi Postdam untuk menyerah tanpa syarat pada tanggal 15 Agustus 1945.
Secara terpisah, di Indonesia, pada tanggal 10 Agustus 1945, Sutan Syahrir –yang kemudian menjadi Perdana Menteri Indonesia pertama pun mendapatkan kabar bahwa Jepang juga akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia pada tanggal 10 Agustus 1945. Namun demikian hingga tanggal 12 Agustus 1945, Sutan Syahrir yang masih melayat ke Vietnam pun tidak kunjung menerima kabar bahwa Jepang telah menyerah. Namun, Marsekal Hisaichi Terauchi, pemimpin pasukan Angkatan Darat Jepang untuk Asia yang telah melarikan diri ke Vietnam pun memberikan informasi kepada Sutan Syahrir bahwa negaranya akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia secepatnya.
Dan dua hari setelahnya, Sutan Syahrir pun kemudian meminta Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaannya. Meski pada awalnya internal pejabat Indonesia terlibat konflik antara segera memproklamasikan kemerdekaannya dan tidak terburu-buru, Indonesia pada 17 Agustus 1945 pun kemudian meprklamirkan diri merdeka dari Jepang. Sebagai catatan penting, Indonesia memang tidak pernah merdeka dari Belanda Karena dengan adanya kedatangan Jepang di Indonesia pada 1 Maret 1942, satu minggu setelahnya, tanggal 8 Maret 1942, Belanda menyatakan menyerah tanpa syarat ke Jepang. Itu berarti, Indonesia resmi telah diduduki oleh Jepang.
Dengan adanyanya Jepang yang menyerah kepada sekutu, Inggris yang juga menjadi bagain dari anggota sekutu pun kemudian mendarat di Indonesia 15 September 1945 di Indonesia di Jakarta. Sedang di Surabaya, Inggris yang sebelumnya telah menjalin hubungan kerjasama dengan Belanda pun mengirimkan pasukan tentaranya pada tanggal 25 Oktober 1942. Kedatangan Inggris yang bertugas untuk melucuti senjata Jepang rupanya juga memiliki niatan lainnya, yaitu ingin mengembalikan fungsi administrasinya kembali ke Belanda.
Indonesia yang tela memproklamiran diri dari kemerdekaannya pun pada tanggal 31 Agustus 1945 mengeluarkan kabijaksanaan untuk mengibarkan bendera negaranya (Sang Saka Merah Putih) mulai pada keesokan harinya tanggal 1 September 1945. Hanya saja, pada tanggal 18 September 1945 di Surabaya, di bawah komando W.V.Ch Ploegman mengibarkan bendera Belanda tanpa persetujuan pemerintah Indonesia di Surabaya di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato. Dan dengan adanya kejadian tersebut, para pemuda Surabaya yang melihatnya pun menjadi marah karena menganggap Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia.
Mengetahui adanya massa yang kelewat banyak, Residen Sudirman, pejuang dan diplomat yang saat itu menjabat sebagai Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) yang masih diakui pemerintah Dai Nippon Surabaya Syu, sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI pun mencoba melakukan perundingan dengan dikawal Sidik dan Hariyono. Namun demikian, dari hasil perundingannya dengan W.V.Ch Ploegman tidak menemukan hasil terang karena W.V.Ch Ploegman menolak untuk menurunkan bendera Belanda dan menolak untuk mengakui kedaulatan Indonesia. Dengan adanya jawab yang diberikan oleh pihak Belanda, situasi pun kemudian memanas hingga W.V.Ch Ploegman mengeluarkan pistol dan terjadi perkelahian hingga menewaskan W.V.Ch Ploegman ditangan Sidik, sementara Sudirman dan Hariyono melarikan diri ke luar Hotel Yamato.
Dengan adanya insiden tersebut, pada tanggal 27 Oktober 1945 antara Indonesia dan  Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI atau tentara gabungan Inggris-India dan Hindia-Belanda) pun terlibat pertempuran kecil yang kemudian membesar. Meski pada akhirnya Inggris yang diwakili Jenderal D.C. Hawthorn meminta bantuan Presiden Sukarno untuk meredakan situasi dan mengadakan gencatan senjata, rupanya tidak membuahkan hasil malah menyebabkan kematian Brigadir Jenderal (Brigjen) Aubertin Mallaby, pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur.
Kematian Brigjen Aubertin Mallaby pada 30 Oktober 1945 tersebut rupanya membawa dampak yang lebih buruk. Inggris yang kemudian marah pun kemudian mengutus Mayor Jenderal (Mayjen) Eric Carden Robert Mansergh untuk menggantikan posisi Brigjen Aubertin Mallaby. Dan dengan menjadinya Mayjen Eric Carden Robert Mansergh sebagai pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur, dia pun kemudian mengultimatum warga Surabaya untuk segera meletakkan senjatanya hingga batas akhir pada tanggal 10 Nopember 1945 pukul 6 (enam) pagi.
Meski Inggris telah memberikan ultimatum, rupanya warga Surabaya atau yang kemudian dikenal dengan “Arek-arek Suroboyo” tersebut tidak mengindahkannya. Dan mengetahui hal tersebut, Surabaya yang kemudian dianggap membangkang pun mendapatkan serangan yang hebat dari Inggris dengan menggunakan pesawat tempur, tank, hingga bom. Dengan adanya pertempuran yang tidak terkendali tersebut, Indonesia secara keseluruhan pun kemudian terlibat pertempuran melawan tentara gabungan Inggris, Belanda, dan India (Hindia-Belanda). Meski pada akhirnya Indonesia dapat ditaklukkan, dengan adanya tekanan internasional, pada tanggal 27 Desember 1949, Belanda pun kemudian menyerahkan kemerdekaan Indonesia sepenuhnya dan membangun Republik Indonesia Serikat. Namun demikian, pada tanggal 17 Agustus 1950, Presiden Sukarno pun kemudian kembali memproklamasikan Indonesia sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dan untuk memperingati perjuangan Surabaya dalam melawan “jajahan” Belanda pada tanggal 10 Nopember 1945, pada tanggal tersebut, oleh pemerintahan Indonesia pu dijadikan sebagai Hari Pahlawan.

Rabu, 21 Juli 2010

GINZA –Distrik Termahal Dunia


Sudah tidak dapat dipungkiri, Jepang yang dulu sempat menjadi mati akibat ledakan di Hiroshima dan Nagasaki pada 15 Agustus 1945 silam, secara pesat menunjukkan kemajuannya. Dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya, Jepang memang sudah pantas dikatakan sebagai negara yang maju dan mandiri. Hal ini tentu dikarenakan hampir seluruh bidang telah dikuasainya, terlebih lagi informatika dan teknologinya. Sudah banyak merk-merk ternama yang telah dinikmatai banyak kalangan, baik produk televisi, sepeda motor, mobil, hingga kerajinan-kerajinan kecil lainnya. Dengan wilayah seluas 377,944 km2, negara yang kerap disebut sebagai Negara Sakura ini seolah tidak pernah menyerah dalam mengembangkan negaranya.

Meski Jepang berhasil menjadi negara “product monster”, Jepang tidak pernah lupa dengan daratan. Di tengah kemudahan seseorang menggunakan alat-alat modern buatan negaranya sendiri, Jepang rupanya masih menjunjung tinggi nilai-nilai keluhuran. Seperti yang diajarkan dalam aliran kepercayaannya, Shinto, yang kemudian dijadikan agama rasmi negara, warga Jepang diajarkan untuk selalu menghormati arwah nenek moyang. Dan karena ajaran Shinto selalu kembali ke masa lalu, tentu saja Jepang pun tidak mencampurnya dengan hal-hal yang telah dimodernisasikan.

Sebagai negara kebudayaan, Jepang yang seolah memiliki jadwal rutin tiap bulannya untuk melakukan upacara keagamaan dan atau keadatan pun “melepaskan semua baju” yang dinilai modern. Tentang keefisiensian melakukan ritual dan kemodernan media, semuanya telah ditinggalkan. Ginza misalnya, sebuah wilayah berkelas yang berada di kawasan Chūō, Tokyo ini memiliki banyak keunikan.

Wilayah yang terletak di sebelah selatan Yaesu dan Kyōbashi, barat Tsukiji, timur Yūrakuchō dan Uchisaiwaichō, serta utara Shinbashi ini dikenal sebagai wilayah kelas atas. Bahkan di wilayah ini, kopi seharga 10 USD. Ini berarti, jika $ 1 dikisarkan mencapai ¥ 87 (sesuai dengan pertukaran mata uang per tanggal 21 Juli 2010), tentu untuk meminum kopi saja, seseorang harus mengeluarkan ¥ 870 atau setara dengan Rp 89.610 (¥ 1 = Rp 103,7714).

Sebagai wilayah berkelas, Ginza tentu menyediakan banyak tempat hiburan yang super mahal. Namun dibalik itu semua, rupanya Ginza tidak melulu menyediakan hal-hal yang modern, tapi juga cukup banyak kegiatan dan atau tempat yang super tradisional. Namanya Kabukiza, bangunan yang berdiri sebelum tahun 1990an ini dianggap menjadi salah satu bangunan yang wajib didatangi.

Bangunan yang lebih tepatnya dibangun pada tahun 1889 ini merupakan peninggalan sejarah dari kaln Hosokawa dari Kumamoto atau klan Matsudaira dari Izu. Bangunan yang menampilkan acara drama klasik Jepang, Kabuki ini rupanya telah mengalami ronovasi selama tiga kali, yaitu tahun 1921 oleh Tashichi Kashiwagi, 1924 oleh Shinivhiro Okata, dan 1950 oleh Isoya Yoshida.

Namun karena bangunan ini sering mengalami kehancuran, maka pada musim semi tahun 2010, bangunan ini akan direncanakan direnovasi kembali dengan kekuatan anti gempa. Seperti diketahui, Kabukiza memiliki catatan buruk dlaam perenovasiannya. Di tahun 1921, Kabukiza terpaksa dihancurkan karena ditemukan kebocoran aliran listrik yang bakalan menyebabkan kebakaran dan segera direnovasi pada tahun berikutnya. Namun belum kelar renovasi usai, pada tahun 1923 terjadi gemba bumi di Kanto yang menyebabkan bangunan Kabukiza ini turut rusak parah dan direnovasi pada tahun berikutnya. Dan yang terakhir, saat masa-masa Perang Dunia II berlangsung, bangunan ini pun kembali terpaksa mengalami kerusakan fatal akibat serangan-serangan sekutu dan kembali direnovasi kembali.

Meski bangunan Kabukiza mengalami tiga kali perombakan, namun bangunan ini masih mempertahankan bentuk klasik pertama dibangun. Itu sebab, bangunan yang terletak di sudut Showa dan Harumi Dori ini memang pantas untuk didatangi. Selain bangunannya yang terlihat masih asli, dengan ¥ 1000 para pengunjungnya pun akan disuguhkan permainan drama klasik yang hingga sekarang masih dipertahankan, yaitu drama Kabuki.

Selain Kabukiza, Ginza rupanya juga memiliki bangunan sisa-sisa periode Meiji dan menjadi bangunan yang difungsikan sebagai gedung penjualan barang bergaya barat pertama. Gedung yang dinamakan Mittsukoshi Department Store berada di daerah Harumi Dori di antara persimpangan Sukibayashi dan Tsukiji dan Harumi.

Selain dua gedung di atas yang dianggap sebagai gedung tua bersejarah, rupanya Ginza masih memiliki banyak gedung tua yang hingga kini menjadi tujuan para wisatawan asing. Seperti Wako Ginza misalnya, bangunan yang didirikan sejak tahun 1881 ini memiliki catatan sejarah tersendiri. Dengan letaknya yang berada di jantung kota, Wako Ginza pernah digunakan sebagai maskas sekutu Amerika pada saat Perang Dunia II. Tempat yang semula didirikan oleh Kintarō Hattori sebagai toko arloji dan perhiasan buatannya sendiri. Namun dengan berjalannya waktu, merk dagang yang semula menggunakan namanya sendiri itu pun berangsur diubah, yaitu dari K. Hattori menjadi Seiko Holding Corporation seperti yang hingga kini terdengar. Selain Wako Ginza, rupanya Sony dan Apple pun memiliki gedung yang besar di wilayah ini.

Meski Ginza dikelilingi gedung-gedung tinggi, populasi kepadatan penduduk yang bergengsi pun mengharuskan mereka hidup serba berkecukupan. Namun, ada hal yang sangat unik bagi wilayah ini, yaitu pelarangan penggunaan kendaraan bermotor pada hari Minggu.

Pelarangan penggunaan kendaraan bermotor pada akhir pekan ini rupanya menjadi daya terik tersendiri bagi masyarakat setempat. Dengan adanya pemblokadean lalu-lintas diseluruh jalan, sebagian warga mulai menyemarakkan dengan kegiatan tradisional. Seperti beberapa kegiatan hari yang terkhir, diketahui warganya tengah mengenakan pakaian ala Geisha yang sedang menaiki becak tarik tempo dulu.



Referensi:
Jawa Pos Selasa 20 Juli 2010
http://en.wikipedia.org/wiki/Ginza
http://en.wikipedia.org/wiki/Kabuki-za
http://en.wikipedia.org/wiki/Wako_(retailer)
http://www.japaneselifestyle.com.au/tokyo/ginza.htm

Minggu, 11 Juli 2010

Partai Demokrat Kehilangan Kursi



Tanggal 11 Juli 2010, Tokyo-Jepang sedang melakukan pemilihan umum (pemilu) untuk memilih anggota majelis tinggi parlemen. Selain itu, pemilu ini dilaksanakan untuk menentukan masa depan Jepang itu sendiri.

Diketahui, Jepang akhir-akhir ini telah banyak mengeluarkan anggaran negaranya. Itu sebab, pemilu yang dilakukan untuk menguji kebijakan Perdana Menteri barunya, Naoto Kan, dan pemerintah koalisi kiri-tengahnya yang berusia 10 (sepuluh) bulan.

Sejumlah survei di Jepang memprediksikan bahwa Naoto Kan bakalan kehilangan banyak kursi di parlemen. Kursi yang diprediksikan hilang hingga 242 kursi tersebut disebabkan karena adanya kebijakan Naoto Kan yang menyatakan akan menaikkan pajak penjualan untuk beberapa tahun ke depan.

Meski demikian, pemilu yang dilakukan tersebut, rupanya tidak dapat mempengaruhi kekuasaan Naoto Kan dan Partai Demokratnya.

Sekedar untuk diketahui, Naoto Kan, di bawah Partai Demokrat Jepang memenangkan kursi Perdana Menteri setelah mengalahkan Partai Konservativ pada bulan Agustus ini rupanya bukan calon pertama dari partainya. Yukio Hatoyama, yang sebelumnya menjabat sebagai Perdana Menteri pada tanggal 16 September 2009 ini adalah calon pertama yang diusungkan. Namun pada 2 Juni 2010, Yukio Hatoyama yang tidak mampu menepati janji politiknya untuk memindahkan pangkalan militer AS di Okinawa, pria kelahiran Tokyo, 11 Pebruari 1947 ini pun kemudian memilih mengundurkan diri. Selain itu, pengunduran dirinya tersebut juga disebabkan adanya isu skandal pembiayaan politiknya.

Dengan adanya pengunduran diri Yukio Hatoyama, Naoto Kan yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri (16/9/2009) dan Menteri Keuangan (Januari 2010) ini akhirnya resmi mengganti posisi rekannya tersebut.

Tentang profil Naoto Kan itu sendiri, pria kelahiran Ube, 10 Oktober 1946 ini adalah rekan seperjuangan Yukio Hatoyama pada pendirian Partai Demokrat Jepang pada tahun 1998. Dan pada tahun tersebut, Yukio Hatoyama pun dipercaya sebagai pemimpinnya. Namun pada 2003, Naoto Kan menjadi pimpinan dari partai tersebut.




Referensi:

Jawa Pos, Senin 12 Juli 2010 (hal. 7)
http://id.wikipedia.org/wiki/Naoto_Kan
http://id.wikipedia.org/wiki/Yukio_Hatoyama

Kamis, 08 Juli 2010

Garuda di Sakura



Hubungan Indonesia-Jepang rupanya masih akan terus berlanjut. Terlebih lagi masalah ekspor-impor.
Hal yang dimaksud sebenarnya bukan masalah pengiriman barang-barang buatan Indonesia yang dikirim ke Jepang ataupun sebaliknya. Tapi lebih dengan adanya penerbangan Garuda Indonesia yang mengangkut barang-barang.
Japan Airlines (JAL), menurut rencananya, mulai bulan Oktober 2010 memberhentikan penerbangannya untuk mengangkut kargo. Dan tentu saja, hal ini sangat diperhatikan oleh Indonesia (terutama Garuda Indonesia) untuk mengambil kesempatan emas tersebut.
Jika tidak mengalami kemunduran jadwal, maskapai penerbangan BUMN ini akan segera merintis outbond trucking service pada Agustus mendatang. Dan itu berarti, Garuda Indonesia yang semula hanya memiliki jadwal kargo domestik pun akan merambat menuju kelas yang lebih tinggi.
“Karena itu, kami pada Agustus nanti bekerjasama dengan perusahaan trucking mengirimkan barang berat di atas 250 kg dan berukuran besar tujuan luar negeri via Denpasar dan Jakarta yang tidak bisa diangkut dengan penerbangan domestik.” Ujar Erina Damayanti, Public Relation Garuda untuk Indonesia.
Untuk diketahui, saat ini JAL rata-rata mengangkut 476 ton per bulan dengan rincian 176 ton untuk ekspor dan 200-300 ton untuk impor.
Namun sayang, rupanya Garuda Indonesia tidak mampu mengambil kesempatan tersebut sepenuhnya, “kami mengincar 25-50% dari jumlah tersebut.” Erina Damayanti menambahkan.


Jawa Pos, Kamis 6 Juli 2010 (hal. 6 – Ekonomi Bisnis)

Rabu, 30 Juni 2010

Ninja Perempuan Pertama

Dalam catatan sejarah, sedikit banyak memang yang mengatahui bagaimana ninja pertama kali dikenalkan. Namun demikian, rupanya para ahli sejarah pun sepakat jika ninja pertama kali diperkenalkan dengan adanya seno Nonuse yang kemudian berkembang menjadi NInjutsu.
Dalam hal pola pertempurannya, Ninja rupanya lebih sedikit dikenal ketimbang Samurai. Namun begitu, dengan adanya gerakan yang mampu membantu para Daimyo ini pun kemudian secara perlahan, gerakan yang mengandalakan bawah tanah ini pun kemudian lebih cepat dikenal.
Namanya Gamon Doshi. Dikenal sebagai seorang biksu petarung China yang mulanya pergi ke Jepang untuk bertemu dengan Jendral Ikai yang juga berasal dari China ini pun kemudian berlatih di bawah naungan Jendral Ikai tentang strategi perang, teknologi militer, dan ilmu Koshi Jutsu (ilmu menotok otot dan titik lemah di tubuh) dan Hityo no Kakuregata (kamuflase di dalam kegelapan).
Dengan menetapnya dirinya di Jepang, Gamon Doshi pun kemudian merubah namanya dengan nama Fujiwara Tikata. Bukan hanya itu saja, biksu yang menghabiskan masa hidupnya pada sekitar tahun 1030 hingga 1100 ini pun akhirnya dianggap sebagai bapak dari ilmu Ninjutsu atas sumbangannya terhadap peningkatan ilmu dalam aliran Ninjutsu yang telah ada.
Bagaimana dengan Kunoichi?
Sebagain orang mengatakan bahwa Mochizuki Chiyome adalah Kunoichi pertama di Jepang. Namun pendapat tersebut adalah salah. Karena jauh sebelum Mochizuki Chiyome dikenal, rupanya ada seorang wanita keturunan China yang menjadi Kunoichi pertama.

Mochizuki Chiyome
Mochizuki Chiyome (1540-1580) adalah istri Mochizuki Moritoki, pemimpin istana Mochizuki di Provinsi Shinani yang juga menjadi keponakan Takeda Shingen. Dan karena kematian Mochizuki Moritoki menjadi kesedihan bagi Mochizuki Chiyome, Takeda Shingen, yang saat itu ingin mempergunakan kemampuan Mochizuki Chiyome pun kemudian membujuknya untuk dapat membentuk kelompok Ninja wanita untuk dijadikan mata-mata dan pembawa pesan.
Meski Mochizuki Chiyome ragu pada awalnya, setelah mengingat akan dendamnya, dia pun kemudian membentuk pasukannya di desa Nazu provinsi Shinani dan mulai mencari kandidat untuk mencari calon Kunoichi.
Setelah mengumpulkan dan melatih para Kunoichi, Chiyome menempatkan mereka di kuil sebagai Miko untuk menyamar. Dalam pelatihannya, Chiyome menitikberatkan pada penyerangan titik lemah lawan dengan menggunakan senjata yang umum digunakan wanita sebagai penghias, seperti kuncir rambut.

Cho Gyokko (885–945)
Seorang putri dari China yang menjadi Kunoichi pertama di Jepang ini memiliki nama lain Yo Gyokko atau Yao Yu Hu atau Koto Oh.
Semasa dinasti T’ang, Yao Yu Hu dikenal berhubungan langsung dengan kekaisaran China. Hanya saja, Yao Yu Hu pun akhirnya melarikan diri ke jepang bersama keluarga kerajaan lainnya saat dinasti T’ang mengalami kehancuran pada tahun 907.
Gelar Koto Oh disandang Yao Yu Hu setelah mengalahkan dan membunuh macan dengan sekali pukul saat masih di China. Meski memiliki kekuatan yang luar biasa, ternyata Yao Yu Hu sangat mahir menari.
Ketika di Jepang, Yao Yu Hu pun mengganti namanya menjadi Cho Gyokko dan mengembangkan gaya dan kemampuan bela dirinya. Selain itu, Cho Gyokko juga menemukan inti atau awal dari ilmu Ninjutsu aliran Gyokku Ryu. Meski begitu, Gyokko tidak mendapatkan kehormatan karena telah mengembangkan aliran Ninjutsu ini, tetapi dia dianggap sebagai pemrakarsa awal digunakannya Kempo China dan memodifikasinya untuk digunakan dalam Ilmu Ninjutsu tersebut. Inti dari aliran ini adalah menyerang titik vital dari lawan agar lawan dengan mudah dilumpuhkan.

Kunoichi

Dalam kehidupan Jepang kuno, negara yang dikenal dengan bunga sakuranya ini rupanya juga tidak dapat luput dari samurai dan ninja. Meski keduanya (samurai dan ninja) menjadi pasukan bertempur di Jepang, rupanya kelas samurai lebih jauh dikenal oleh kalangan luas karena perbedaan jam terbang mereka yang mencolok.
Jika samurai lebih terang-terangan dalam penyerangannya, ninja lebih memilih jalur bawah tanah sebagai lahannya. Secara bahasanya, kata ninja terbentuk dari dua suku kata yaitu Nin yang berarti tersembunyi dan Sha berarti orang.
Menurut catatan sejarahnya, ninja mulai dikenal pada tahun 522 bersamaan dengan masuknya seni Nonuse (seni bertindak diam-diam) ke Jepang. Seni Nonuse sendiri adalah suatu praktek keagamaan yang dilakukan oleh para pendeta yang pada saat itu bertugas memberikan info kepada orang-orang di pemerintahan.
Dan demi keselamatan mereka sendiri, pada sekitar tahun 645, pendeta-pendeta tersebut pun kemudian menyempurnakan kemampuannya dengan bela diri dan mulai menggunakan pengetahuan mereka tentang Nonuse untuk melindungi diri dari intimidasi pemerintah pusat. Dan perpaduan antara Nonuse dengan bela diri inilah yang kemudian lebih dikenal dengan Ninjutsu.
Dengan adanya perkembangan waktu, rupanya Ninjutsu ini tidak hanya dimiliki oleh para pendeta saja. Dan seni ini pun mulai berkembang dengan pesat hingga wanita pun turut mempelajarinya.
Meski wanita sering dianggap lemah, rupanya ilmu Ninjutsu ini memang jauh lebih pantas digunakan oleh wanita. Karena selain ilmu bela diri, rupanya Ninjutsu lebih banyak bergerak pada ilmu merayu, memanipulasi, menyamar, dan intuisi.
Kemampuan yang dimiliki oleh para wanita yang kemudian dikenal dengan Kunoichi ini memberikan mereka kemudahan dalam menyusup ke pikiran pemimpin perang, bisnis bahkan politik sekalipun. Dan ini pula yang kemudian menjadikan Kunoichi jauh semakin meluas ketimbang ninja itu sendiri. Selain lebih efisien, jatuh kontak korban pun tidak selayaknya samurai yang sering gugur tanpa hasil.
Dalam pelaksanaannya sebagai Kunoichi, kebanyakan dari mereka menyamar sebagai Geisha, Miko (pembantu kuil), atau bahkan pelacur itu sendiri. Selain itu, tidak sedikit Kunoichi yang dengan mudah masuk ke dalam istana baik sebagai tamu, dayang, dan atau isteri simpanan. Hal ini dikarenakan Kunoichi dilatih juga untuk mempermainkan emosi lelaki, tetapi juga harus bisa mengontrol emosi diri sendiri.
Dalam perekrutan anggota kunoichi, merke lebih senang merekrutnya dari kalangan wanita yang sudah yatim piatu sejak kecil atau yang sudah dijual oleh keluarganya baik sebagai pelayan maupun penjaja seks.
Dengan lebih mementingkan cara bertarung menggunakan kecepatan dan memukul titik vital lawan agar cepat lumpuh dibandingkan dengan kekuatan tubuh. Rupanya mereka dilatih oleh Kunoichi yang lebih tua dan menjadikan mereka sebagai senjata bagi tuannya.
Berikut adalah kemampuan yang sering digunakan oleh Kunoichi:
1. Boryaku: merencanakan strategi dalam menyamar maupun menyusup dalam daerah lawan
2. Intonjutsu: menyamar, menipu dan membuat ricuh daerah lawan dengan menyebarkan isu-isu negatif di kalangan masyarakat
3. Kayakujutsu: membuat dan menggunakan bahan peledak dalam pertempuran ataupun dalam penyusupan sebagai umpan maupun untuk perlindungan diri
4. Shinobi Iri: ilmu untuk memasuki daerah lawan, menyusup secara diam-diam ke daerah lawan
5. Shuriken Jutsu: melemparkan Senjata rahasia
6. Tanto Jutsu: ilmu menggunakan senjata berupa pisau
7. Yagen: ilmu menggunakan racun

Minggu, 06 September 2009

Konsepsi Tuhan dalam Islam

Konsepsi Tuhan dalam Islam



Sesungguhnya Allah tidak memandang rupa dan harta kalian, akan tetapi Dia hanya memandang hati dan amal perbuatan kalian. (HR. Muslim VIII/11)1

Hal tersebut di atas sudah selayaknya menjadi tanggung jawab masing-masing individu dalam berlomba menjalin kebaikan. Islam pun menerapkan hal demikian. Allah Swt., yang merupakan Tuhan bagi umat Islam tidak menginginkan kesempurnaan wujud maupun melimpahnya harta manusia. Hal ini disebabkan lantaran semuanya adalah kehendak Allah. Dan jika Allah menginginkan, maka dengan sekejap pun Allah dapat merubah seseorang dengan kehendaknya; baik-buruk, miskin-kaya, laki-perempuan, dan sebagainya.

Konsep ketuhanan yang ditawarkan dalam Islam berbeda dengan agama-agama besar dunia lainnya. Hal ini sudah nampak berbeda dengan sifat Tuhan sendiri yang menciptakan. Namun demikian, banyak diantara mereka yang meragukan keesaan Tuhan dalam Islam. Sedang beberapa konsep ketuhanan dalam agama lainnya adalah cenderung bukan Esa2. Dalam rukun Islam pun disebutkan sebagai rukun wajib yang pertama, yaitu dengan menyebut dua kalimat sahadat, itu menandakan pengakuan Islam akan satu Tuhan, dan Muhammad (hanya) sebagai rasul-Nya.

Jika demikian kebenarannya, layakkah sebuah agama mengadakan Tuhannya lebih dari satu? Dan jika benar demikian, diantara mereka, siapa yang lebih berkuasa?

Sebut saja Hindhu; dalam agama ini, Hindhu mengenalkan “Tuhan”nya dengan berbagai wujud dalam Dewanya. Meski mereka hanya mengakui satu Dewa Agung (Brahman), mereka masih saja memuja banyak Dewa. Itu sebab banyak kalangan menyebut Hindhu sebagai Politheisme. Hal serupa juga terjadi dalam Budha; mereka mentuhankan Budha sendiri. Padahal sudah diketahui bahwa Budha sendiri adalah manusia (yang meskipun dianggapnya sebagai manusia suci) yang sebelumnya telah beristri dan memiliki anak, dan jika benar Tuhan dapat menjalin kasih, itu menandakan Tuhan baginya adlah memiliki nafsu, sedang Tuhan sendiri tidak memiliki nafsu. Juga hal yang paling mencolok adalah konsep ketuhanan dalam Kristen yang menawarkan konsep Trinitas3. Hal ini tentu saja membuat kebingungan sendiri bagi mereka dalam membagi peran Tuhannya yang juga merupakan seorang anak bagi-Nya. Mereka mengajarkan (meski tidak secara langsung) bahwa Tuhan mereka memiliki anak melalui Maria (dalam Islam disebut Maryam) yang kemudian disebut dengan Anak Tuhan. Dan uniknya, yang telah disebutkan sebagai anak Tuhan, dianggap pula bagi mereka sebagai Tuhan. Sedang di sisi lain, jika benar Anak Tuhan tersebut dijadikan pula sebagai Tuhan mereka, tentu saja menjadi sah bagi manusia lainnya menjadi Tuhan. Hal ini tentu sudah diketahui dengan jelas bahwa Tuhan mereka ini dilahirkan dari Manusia yang sebenarnya diciptakan oleh Tuhannya. Tentu saja ini menjadi kompleksitas tersendiri bagi agama mereka dan agama yang lainnya.

Dan mereka berkata, “Tuhan yang maha pengasih itu mempunyai anak!” Sesungguhnya kamu (dengan sebab perkataanmu itu), telah memperbuat kemungkaran besar. Hampir saja langit menjadi runtuh, bumi terbelah dan gunung-gunung berguguran porak poranda. Karena mereka mendakwakan ‘Tuhan yang maha pengasih mempunyai anak’ itu. Padahal tidak seyogyanya bila Tuhan yang maha pengasih mempunyai anak. (QS. Maryam: 88-92)


Bahwasanya, maha tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak pula beranak. (QS. Al Jin: 3)4

Berbeda dengan Islam, Tuhan hanya satu, kekal dan tiada kematian bagi-Nya. Hal ini tentu saja sudah sangat jelas bagi manusia awam yang mengakui akan kekuasaan tunggal. Namun demikian, Tuhan dalam Islam ini pun kemudian sulit diterima oleh manusia awam. Hal ini dikarenakan mereka yang tidak dapat melihat langsung wujud Allah Swt, Tuhan dalam Islam. Sudah menjadi kebenaran bagi-Nya bahwa memang sifat-Nya yang tidak berwujud dan dapat mewujudkan, yaitu tidak diciptakan namun dapat menciptakan. Itu sebabnya dalam Islam, Allah Swt. ada dan tidak dapat ditiadakan5.

Allah, tidak ada Tuhan hanya Dia. Yang maha hidup dan maha penata. (QS. Ali ‘Imran: 2)


Allah, tidak ada Tuhan hanya Dia. Yang maha hidup dan maha penata, yang tidak pernah mengantuk dan tidak pernah tidur. Segala yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Siapakah yang dapat memberikan pembelaan di hadapan Tuhan tanpa izin-Nya? Dia mengetahui apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi, sedang mereka tidak ada yang mengetahui sedikitpun seperti ilmu Tuhan itu, kecuali apa yang dikehendaki-Nya. Kekuasaan-Nya meliputi langit dan bumi. Dan dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dia maha tinggi dan besar. (QS. Al Baqarah: 255)

Dalam sifat-Nya yang maha hidup inilah kemudian Allah menciptakan berbagai zat yang kemudian ditugasinya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Beberapa diantara zat tersebut adalah Malaikat, Setan, Jin, Manusia, dan beberapa diantaranya yaitu Ruang Angkasa, Langit, dan Bumi itu sendiri beserta isi-isinya. Namun meski hal ini sudah menjadi benar hukumnya, banyak diantara mereka yang enggan mengakui kebenaran keberadaan Allah Swt.

(Tantanglah mereka) dengan mengatakan, “Coba terangkan kepadaku, andaikata Allah menjadikan malam itu untukmu berkepanjangan (tanpa adanya siang) smapi hari kiamat, Tuhan manakah selain daripada Allah yang mampu mendatangkan cahaya siang? Apakah kalian tidak pernah mendengar (bahwa Allahlah yang kuasa berbuat demikian)?” Lalu (tantang pulalah) dengan mengatakan (sebaliknya), “Coba (pula) terangkan kepadaku, andaikata Allah menjadikan siang itu untuk kalian berketerusan sampai hari kiamat, Tuhan manakah selain daripada Allah yang sanggup mendatangkan malam, pada mana kalian dapat beristirahat? Apakah hal itu tidak kalian perhatikan?” (QS. Al Qashash: 71-72)

Berikut adalah dalil-dalil perihal kekuasaan Allah akan penciptaan zat-zat yang lainnya.

Ingatlah, ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat: “Sesungguhnya Aku akan mengangkat Adam menjadi khalifah di muka bumi.” Para Malaikat bertanya: “Mengapa Engkau hendak menempatkan di permukaan bumi orang yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah, sedang kami senantiasa bertasbih memuji dan menyucikan-Mu?” Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa-apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al Baqarah: 30)


Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, setelah mana kami perintahkan kepada Malaikat, “Sujudlah kalian kepada Adam!” Merekapun bersujud kecuali Iblis. Dia tidak termasuk (dalam golongan) mereka yang bersujud. (Allah) berfirman, “Apakah keberatanmu untuk bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?” (Iblis) menjawab, “Saya lebih baik daripadanya, Engkau menciptakan saya dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah!” (QS. Al A’raaf: 11-12)


Dia menciptakanmu dari ‘satu diri’, lalu dijadikan-Nya istrinya daripadanya juga. Dan Dia menurunkan untukmu delapan ekor binatang ternak6 yang telah berpasangan. Dia menciptakanmu di dalam rahim ibumu, cipta demi cipta dalam tiga selubung gelap7. Itulah Allah! Tuhanmu yang mempunyai kekuasaan mutlak Tidak ada Tuhan selain Dia. Mengapa kamu dapat juga dipalingkan? (QS. Az Zumar: 6)8


Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa9 lalu Dia bersemayam di atas arasy.10 Ditutup-Nya malam dengan siang yang mengiringi (peredaran) dengan cepat. Dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan, dan bintang-bintang. Masing-masing tunduk di bawah pengaturan-Nya. Ingatlah bahwa mencipta dan menata adalah wewenang Tuhan. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al A’raaf: 54)


Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan segala yang ada diantara keduanya dalam enam rangkaian masa, lalu Dia bertahta di atas Singgasana (Kekuasaan). Tiada pelindung, tiada pula pembela bagimu kecuali Dia. Apakah kamu tidak dapat menarik suatu pelajaran (daripadanya)?Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi, lalu semua urusan (dunia) naik kepada-Nya dalam jangka waktu 1000 tahun menurut ukuranmu.11 (QS. As Sajdah: 4-5)


Dia menciptakan langit tanpa penopang sebagaimana engkau lihat. Dia pun memancangkan gunung-gunung (sebagai pengaman dan penyeimbang) di permukaan bumi ini agar kamu tidak mengalami bahaya, lalu dikembangkan biakkannya bermacam-macam jenis makhluk bergerak dan diturunkan-Nya hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan di muka bumi ini segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik. (QS. Luqman: 10)


Dia menancapkan gunung-gunung yang menjulang tinggi di atasnya (sebagai pengaman dan penyeimbang), serta diberi-Nya berkah12, lalu diatur-Nya pula pengadaan bahan pangan penghuninya pada (penghujung) empat rangkaian waktu, sesuai dengan keperluan (penghuni-penghuni) yang membutuhkannya. Selanjutnya13 Dia menuju penciptaan langit, ketika itu masih merupakan gas seperti asap. Lalu Tuhan berfirman kepadanya dan kepada bumi sekaligus, “Datanglah kalian keduanya menjelma, baik dengan jalan patuh maupun dengan jalan paksa!” Keduanya menjawab, “Kami segera menjelma dengan patuh.” Lalu diselesaikan-Nya penciptaannya menjadi tujuh langit dalam dua rangkaian waktu (pula). Kepada setiap langit diwahyukan tentang jalan (perkembangan) masing-masing selanjutnya. Pada langit yang terdekat, Kami hiasi dengan Bintang-bintang Siarat14 yang merupakan lentera-lentera kawal-sambang15 yang berkelip-kelip. Demikianlah penataan Yang maha kuasa dan mengetahui. (QS. Fush Shilat: 10-12)16

Begitulah kuasa Allah akan penciptaan alam semesta ini, bukan hanya tentang penciptaan dalam wujud manusia saja melainkan mencakup seluruh yang pernah ditemukan manusia dalam wujud maupun yang belum diketemukan, dari yang besar hingga tidak tampak oleh mata. Selain dari kekuasaan tersebut, banyak sifat-sifat Allah yang patut diketahui. Sifat-sifat yang hingga mencapai 99 sifat ini kemudian dikenal dengan Asmaul Husna. Dengan mengenal sifat Allah Swt., maka sudah selayaknyalah manusia tidak mudah untuk mengatakan dirinya sebagai Tuhan dan mentuhankan yang lainnya. Karena selain tidak dapat disamakan dengan sifat mulia Allah, mereka (yang mengaku sebagai Tuhan dan yang dituhankan) juga merupakan ciptaan Allah itu sendiri. Berikut adalah sifat-sifat Allah Swt.

Katakanlah, “Dia adalah Tuhan Allah yang maha esa. Tuhan Allah tempat meminta. Dia tidak beranak, dan tidak pula dilahirkan sebagai anak. Dan tiada sesuatu apapun yang ada persamaannya dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas: 1-4)


Allah mempunyai asmaul husna (nama-nama yang Agung). Bermohonlah (kepada-Nya) dengan nama-nama-Nya yang Agung itu. Biarkan sajalah orang-orang yang menyelewengkan nama Allah itu. (Biar) mereka nanti mendapat balsan menurut imbangan perbuatannya. (QS. Al A’raaf: 180)17

Asmaul husna secara harfiah ialah nama-nama, sebutan, gelar Allah yang baik dan agung sesuai dengan sifat-sifat-Nya. Nama-nama Allah yang agung dan mulia itu merupakan suatu kesatuan yang menyatu dalam kebesaran dan kehebatan milik Allah. Dalam agama Islam, asmaul husna adalah nama-nama Allah yang indah dan baik. Asma berarti nama dan husna berarti yang baik atau yang indah jadi Asmaul Husna adalah nama nama milik Allah yang baik lagi indah.


1 Dikutip secara langsung dari Ibrahim bin Fathi bin Abd Al Muqtadir dalam “Wanita Berjilbab vs Wanita Pesolek”, h. 251.

2 Dzat tunggal; tidak diciptakan dan dimatikan, tidak beranak dan dianakkan, tidak beristri dan diperistri, tidak berkelamin, dsb.

3 Allah (Bapa), Maria (Bunda), dan Yesus (Anak Allah). Dalam konsep Kristen, Yesus (yang merupakan anak Allah atau anak Tuhan) merupakan Tuhan pula bagi mereka.

4 Lihat pula; QS. Al Isra: 111.

5 Bandingkan dengan konsep Kristen yang menganggap Yesus sebagai Tuhannya dan telah mengalami kematian baginya; Islam tidak menawarkan kematian bagi Tuhannya, Allah Swt.

6 Kambing dan domba, jumlah masing-masing dari jenis hewan ternak tersebut adalah dua ekor, begitu pula pasangannya. Perhatikan perhitungannya; 2 ekor pejantan kambing & 2 ekor betina kambing = 4 ekor kambing dan 2 ekor pejantan domba & 2 ekor betina domba = 4 ekor domba, sehingga total dari keseluruhannya adalah 8 ekor hewan ternak. Lihat pula; QS. Al An’aam ayat 143.

7 Tiga lapisan kandungan meliputi 1. lapisan luar, yaitu selaput perut (peritoneum/perimetrium); 2. lapisan tengah yang tebal, yaitu lapisan otot-otot dan jaringan penigkat (myometrium); dan 3. lapisan dalam, yaitu lapisan selaput lender (endometrium). Lihat pula; Dr. S.A. Goelam dalam “Ilmu kebidanan; Jilid I”, h. 33.

8 Lihat pula; QS. At Taghabun: 14, Al Insaan: 1-3, Yunus: 34, dan Al Hajj:5-6.

9 Dalam “Terjemahan & Tafsir Alqur’an Huruf Arab & Latin” mencoba menyebutkan dengan hitungan 1 hari Tuhan = 1000 tahun bagi manusia. Sedang bilangan ‘1000’ adalah bukan sebuah bilangan yang pasti, Bilangan tersebut hanya disesuaikan dengan perhitungan manusia yang diambil dari kebiasaan orang Arab (pada waktu itu) dalam menunjukkan lamanya waktu. Sedang ‘masa’ yang ditentukan oleh Allah Swt. adalah sesuai dengan kehendak-Nya (tidak dapat diungkapkan selama apa dalam ‘masa’ bagi Allah –dalam hitungan hari-Nya).

10 Tuhan yang menciptakan langit dan bumi. Tuhan pula yang menguasai dan mengatur segala peredaran benda-benda angkasa itu. Hanya Tuhan yang mengetahui dimana Arasy itu berada.

11 Sesuai dengan ukuran (kebiasaan dalam mengukur lama) orang Arab pada waktu itu. Sedang surat ini sendiri diturunkan di Mekah.

12 Tanah pertanian, sungai, dan hasil alam lainnya.

13 Adalah tidak dapat diartikan sebagai penciptaan yang kedua (tapi penciptaan bumi ‘didahulukan’ lantaran dalam ayat ini menekankan perihal penciptaan akan bumi, sedang mana yang terlebih dahulu diciptakan adalah kuasa Allah saja yang mengetahuinya).

14 Planet-planet yang ada dalam susunan ruang angkasa (misalnya merkurius, mars, venus, dan sebagainya).

15 Satelit-satelit yang mengitari matahari, Bintang, Bulan, dan Planet-planet lainnya yang dapat memancarkan cahaya untuk bumi dari matahari itu sendiri.

16 Lihat pula; QS. Yunus 5-6.

17 Lihat pula; QS. Al Isra: 110 dan Thaha: 8.

Selasa, 28 Juli 2009

Kelompok Islam Dunia

Golongan Islam Dunia


Indonesia tentu tidak dapat dipisahkan dengan Islam. Hal ini tentu sangat berhubungan dengan pejuang Islam yang berhasil mengembalikan manusianya mengenal Allah Swt. Namun demikian —dengan berkembangnya zaman— Islam di Indonesia kini kemudian menjadi terpecah. Dan celakanya, perpecahan ini pun tidak hanya terjadi di Indonesia saja, melainkan hampir di seluruh dunia. Itu sebab, dalam pembahasan ini akan mencoba mencatatkan kembali sejarah tentang bagaimana kondisi Islam pada awalnya.
Seluruh penganut Islam pasti setuju bahwa Nabi Muhammad adalah benar dalam menjalankan segala kebijakan pemerintahnya dan ajaran akan ketuhanannya. Itu sebab, Islam yang memiliki pemimpin mutlak dapat dengan mudah disatukan kekuatannya hingga Islam sendiri dengan mudah berkembang hampir di seluruh belahan dunia, baik melalui cara peperangan maupun perdamaian. Namun kekuatan dan kekuasaan yang besar ini tidak berlangsung lama setelah sepeninggal Nabi Muhammad.
Kekuatan yang sebelumnya utuh, kemudian menjadi retak karena beberapa faktor yang terjadi di internal masing-masing kelompoknya. Bahkan terpecahnya kekuatan Islam ini sebelumnya juga pernah disampaikan oleh Nabi Muhammad sendiri.
Nabi Muhammad berkata, “Umatku akan terpecah-pecah menjadi 73 golongan, semuanya akan di tempatkan di neraka, kecuali 1 golongan saja.” “Apa yang satu golongan itu?” Tanya seorang sahabat. Nabi Muhammad Saw. menjawab: “Kelompok Ahlussunah wal jamaah.” Sahabat bertanya lagi. “Siapakah mereka?” Nabi Muhammad Saw. menjawab: “Mereka yang taat pada sunnahku dan sunnah al Khulafa’ al Rasyidin.” (Prof. Dr. Jaih Mubarok, M.Ag. dalam “Sejarah Peradaban Islam”, h. 83-84)
Pemerintahan dalam bentuk Khilafah (sesudahku) akan berlangsung selama 30 tahun, setelah itu akan menjadi kerajaan. (Prof. Dr. Jaih Mubarok, M.Ag. dalam “Sejarah Peradaban Islam”, h. 84)
Dari Imam al Bazzar meriwayatkan dari Abu Ubaidah Ibn al Jarah yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Sesungguhnya fase awal agama kalian dimulai dengan fase kenabian dan rahmah, setelah itu fase Khilafah dan rahmah, tetapi kemudian menjadi kerajaan yang penuh dengan pemaksaan (atau tidak rahmah).” (Prof. Dr. Jaih Mubarok, M.Ag. dalam “Sejarah Peradaban Islam”, h. 84-85)
Meski kini Islam terpecah dalam berbagai kelompok, secara garis besar, Islam dapat digolongkan ke dalam enam golongan, yaitu Syiah, Sunni, Khawarij, Mutajiah, Murjiyah, dan Ibadi.

A. Syiah
Dalam hal berpandangan mengenai Syiah, banyak golongan yang menolaknya lantaran dinilai berbeda dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jamaah). Bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) sendiri menghimbau kepada umat Islam Indonesia yang bermazhab Sunni agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syiah.
Dalam Rapat Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404 H atau yang bertepatan pada bulan Maret 1984, MUI akhirnya berpandangan bahwa terjadi perbedaan antara Syiah dan Sunni yang menganut paham “Ahlus Sunnah Wal Jamaah”. Pertama, penolakan Syiah terhadap hadis yang tidak diriwayatkan oleh Ahlu Bait, sedangkan Sunni tidak membeda-bedakan asalkan hadis itu memenuhi syarat ilmu mustalah hadis. Kedua, Syiah memandang bahwa Imam itu termasuk orang suci, sedangkan Sunni hanya memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan). Ketiga, Syiah tidak mengakui Ijma’ tanpa adanya Imam, sedangkan Sunni mengakui Ijma’ tanpa mensyaratkan ikut sertanya Imam. Keempat, Syiah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama, sedangkan Sunni hanya memandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimamahan adalah untuk menjamin dan melindungi dakwah dan kepentingan ummat.
Pada dasarnya, Syiah hanya mengikuti Islam sesuai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad dan Ahlul Bait-nya. Itu sebab, Syiah menolak kepemimpinan dari tiga Khalifah Sunni pertama. Itu sebab, dilihat secara umum, Syiah tentu tidak mengakui keberadaan kekhalifahan Abu Bakar as Siddiq, Umar Ibnul Khattab, dan Utsman bin Affan. Hal ini tentu sudah sangat berbeda dengan Sunni yang mengakui keempat Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib).
Menurut etimologi bahasa Arab, Syiah memiliki arti “pembela dan pengikut seseorang”. Sedang “Syiah” sendiri adalah bentuk pendek dari kalimat “Syiah Ali”, yaitu “pengikut Ali”. Selain itu, Syiah juga dapat diartikan sebagai kaum yang berkumpul di atas suatu perkara. Dari pandangan lainnya, Syiah diartikan sebagai yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib sangat utama diantara para sahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau.
Syiah percaya bahwa keluarga dan keturunan Nabi Muhammad adalah sumber pengetahuan terbaik tentang Quran dan Islam, yaitu sebagai guru terbaik masalah Islam setelah Nabi Muhammad serta pembawa dan penjaga terpercaya tradisi Sunnah. Itu sebab, Syiah berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib, yaitu sepupu dan menantu Muhammad dan kepala keluarga Ahlul Bait adalah sah sebagai penerus kekhalifahan setelah Nabi Muhammad, bukan yang sebelumnya. Bahkan Syiah menyakini bahwa Ali dipilih melalui perintah langsung oleh Nabi Muhammad. Itu berarti, sebagai perintah Nabi adalah juga sebagai bagian wahyu dari Allah.
Meski Islam sendiri kemudian terpecah ke berbagai mazhab, hal ini pun kemudian terjadi pada diri Syiah. Dalam hal masalah imamah, Syiah pun kemudian terbagi ke berbagai golongan. Namun demikian, dengan tanpa memperhatikan perbedaannya, Syiah mengakui otoritas Imam Syiah (juga dikenal dengan Khalifah Illahi) sebagai pemegang otoritas agama, walaupun terdapat pandangan berbeda dari masing-masing golongan yang terdapat dalam Syiah perihal pengganti para Imam selanjutnya. Dalam keotoritasannya tersebut, Syiah sepakat menjalankan ushuluddin (pokok-pokok agama) dan furu’uddin (masalah penerapan agama) yang sama. Sedang dalam pelaksanaan pokok-pokok agama tersebut, Syiah kemudian menerapkannya ke dalam Tauhid (bahwa Allah Swt adalah Maha Esa), al ‘Adl (bahwa Allah Swt adalah Maha Adil), an Nubuwwah (bahwa kepercayaan Syiah pada keberadaan para nabi sama seperti muslimin lain), al Imamah (bahwa bagi Syiah berarti pemimpin urusan agama dan dunia, yaitu seorang yang bisa menggantikan peran Nabi Muhammad Saw. sebagai pemelihara syariah Islam, mewujudkan kebaikan dan ketenteraman umat), dan al Ma’ad (bahwa Syiah mempercayai kehidupan akhirat).
Sedang dalam perpecahan dalam tubuh Syiah sendiri kemudian dikenal dalam tiga golongan yang meliputi Dua Belas Imam, Ismailiyah, dan Zaidiyah.

1. Dua Belas Imam

Di dalam tubuh Syiah, hal yang paling menonjol adalah hal masalah kepemimpinan. Golongan ini merupakan golongan yang memiliki pengikut terbanyak. Lebih dikenal dengan Imamiah atau Itsna Asyariah (Dua Belas Imam), adalah golongannya yang meyakini 12 Imam yang dinilai sah dalam memimpin muslimin. Dimulai dari Imam Ali dan diakhiri oleh Imam Mahdi al Muntazhar, yaitu Imam Mahdi yang ditunggu. Dari paham dan keyakinan golongan inilah kemudian ada anggapan bahwa akan turun dikemudian hari (pada hari kiamat) Imam Mahdi yang sebagai juru selamat seluruh umat.
Pada dasarnya, pengikut ajaran Syiah Itsna Asyariah juga mendasarkan hukum mereka (Syariah) sama seperti Sunni, yaitu pada al Quran dan Sunnah Rasul. Hanya saja, Syiah Itsna Asyariah beranggapan bahwa Imam atau pemimpin umat tidaklah dapat dipilih secara demokrasi (pemilu), melainkan sebuah jabatan yang langsung diturunkan dari Allah Swt. Pengikut Itsna Asyariah mempercayai bahwa sistim kepemimpinan yang disebut imamah yang berasal dari Nabi Muhammad bertugas untuk memimpin umat Islam dengan petunjuk dari Allah Swt. Dan dalam prinsip ajarannya menyebutkan bahwa sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan umat Islam tanpa pemimpin. Itu sebab, dalam aliran ini mempercayai bahwa Imam terbebas dari dosa dan dianggap suci. Lantaran menganggap jabatan Imam adalah langsung dari ilham yang didatangkan oleh Allah, maka setiap Imam akan berwasiat dalam pemilihan Imam selanjutnya.
Selain permasalahan tersebut, hal yang lainnya adalah masalah pengambil hadis yang hanya dari Nabi Muhammad dan para Ahlul Bait dan penolakan hadis dan contoh yang diriwayatkan oleh Abu Bakar, Umar, dan Usman.
Berikut adalah yang dipercaya sebagai Imamnya setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw.
1. Ali Amirul Mukminin bin Abi Thalib (600–661)
2. Hasan al Mujtaba bin Ali (625–669)
3. Husain asy Syahid bin Ali (626–680)
4. Ali Zainal Abidin bin Husain (658–713)
5. Muhammad al Baqir bin Ali (676–743)
6. Jafar ash Shadiq bin Muhammad (703–765)
7. Musa al Kadzim bin Jafar (745–799)
8. Ali ar Ridha bin Musa (765–818)
9. Muhammad al Jawad at Taqi bin Ali (810–835)
10. Ali al-Hadi bin Muhammad (827–868)
11. Hasan al Asykari bin Ali (846–874)
12. Muhammad al Mahdi bin Hasan (868—)
Dalam penyebarannya, Itsna Asyariah kemudian meluas hingga wilayah Arab Saudi, Iran, Irak, Pakistan, India, Afganistan, Azerbaijan, Kuwait, Bahrain, Lebanon, Tajikistan, Turkmenistan, Uzbekistan, Kirgiztan, Kazakhstan, dan Rusia.

2. Ismailiyah
Setelah mazhab Dua Belas Imam (Itsna Asyariah), yang kemudian menjadi mazhab dengan jumlah penganut kedua terbesar dalam Syiah adalah Ismailiyah, yaitu golongan yang para pengikutnya mengakui keimaman Ismail bin Jafar sebagai penerus dari Jafar ash Shadiq. Hal ini tentu berbeda dengan mazhab Itsna Asyariah yang menerima Musa al Kadzim sebagai Imam mereka. Itu sebabnya, Ismailiyah kemudian dikenal dengan nama “Mazhab Tujuh Imam”, yaitu menerima keenam Imam Syiah terdahulu imam ketujuh ialah Ismail. Urutan imam mereka yaitu:
1. Ali Amirul Mukminin bin Abi Thalib (600–661)
2. Hasan al Mujtaba bin Ali (625–669)
3. Husain asy Syahid bin Ali (626–680)
4. Ali Zainal Abidin bin Husain (658–713)
5. Muhammad al Baqir bin Ali (676–743)
6. Jafar ash Shadiq bin Muhammad (703–765)
7. Ismail bin Jafar (721–755)
Meskipun terdapat beberapa kelompok pecahan dalam Ismailiyah, kaum penganut Ismailiyah umumnya dapat ditemukan di India, Pakistan, Suriah, Lebanon, Israel, Arab Saudi, Yaman, Tiongkok, Yordania, Uzbekistan, Tajikistan, Afghanistan, Afrika Timur, dan Afrika Selatan. Selain itu, Ismailiyah pun menyebar hingga ke Eropa, Australia, Selandia Baru, dan Amerika Utara.

3. Zaidiyah
Meski tergolong Syiah, Zaidiyah kemudian disebut juga Lima Imam lantaran merupakan pengikut Zaid bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib sebagai Imam kelima. Dalam penerimaan Imam, Zaidiyah dinilai lebih moderat lantaran dapat menerima Imam sebelum Ali. Di sisi lain, perbedaan dengan Syiah lainnya adalah bahwa lebih menerima Zaid bin Ali sebagai Imam kelima ketimbang saudaranya Muhammad al Baqir. Berikut adalah urutan Imamnya
1. Ali Amirul Mukminin bin Abi Thalib (600–661)
2. Hasan al Mujtaba bin Ali (625–669)
3. Husain asy Syahid bin Ali (626–680)
4. Ali Zainal Abidin bin Husain (658–713)
5. Zaid bin Ali (658–740)

B. Sunni
Pada dasarnya, hubungan antara Sunni dan Syiah banyak terdapat perbedaan sejak masa awal terpecahnya secara politis dan ideologis antara para pengikut Bani Umayyah dan para pengikut Ali bin Abi Thalib. Sebagian Sunni menganggap Syiah tumbuh dimulai ketika seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba yang menyatakan dirinya masuk Islam mulai mendakwakan kecintaan dan terlalu memuja-muji Ali bin Abi Thalib. Abdullah bin Saba kemudian menganggap bahwa Ali yang berhak menjadi Khalifah selanjutnya.
Penggunaan nama Sunni diambil dari nama Ahl al Sunnah wa al Jamaah atau Ahlus Sunnah wal Jamaah yang kemudian lebih sering disingkat Ahlul Sunnah. Sunni sendiri merupakan mazhab yang memiliki banyak penganut, yaitu mencapai 90% dari umat Islam di dunia dan ±10% adalah penganut Syiah
Seperti yang disebutkan sebelumnya, perpecahan antara Syiah dan Sunni berinti dari pemimpin Islam setelah kematian Nabi Muhammad. Setelah Nabi Muhammad Saw. wafat, banyak percekcokan yang melibatkan banyak golongan yang kemudian terbaggi dalam golongan Muhajirin dan Anshar. Melihat permasalahan yang tidak kunjung mendapatkan jalan tengah, para sahabat pun kemudian menjadi ketakutan akan menjadi perpecahan dalam Islam dan mengakibatkan perang saudara antar Muhajirin dan Anshar. Setelah melalui beberapa fase, kemudian disepakati Abu Bakar sebagai Khalifah.
Dalam perkembangannya, perpecahan dalam tubuh Islam pun kemudian mulai tercium, terlebih lagi permasalahan ini mengakibatkan terbunuhnya Utsman bin Affan oleh kelompok Abdullah bin Saba yang menghendaki Ali sebagai Khalifah selanjutnya. Telah diketahui sebelumnya bahwa Abdullah bin Saba dalam menjaring agamanya mulai menjadi kewalahan yang melihat Islam semakin membesar. Itu sebab, Abdullah bin Saba kemudian memutuskan diri untuk menjadi Islam. Abdullah bin Saba pun kemudian dinilai telah berhasil membangun pemahaman yang sesat untuk mengadu domba umat Islam untuk menghancurkan Islam dari dalam.
Segera setelah kematian Utsman, Ali pun kemudian diangkat menjadi penerusnya dan mendapatkan tugas berat dalam menanggapi kematian Utsman. Melihat kejadian tersebut, Ali yang ketika itu sudah menjabat sebagai Khalifah mencoba mencari jalan yang lebih damai ketimbang saling membangun kekuatan dan berperang sesama Islam. Hanya saja, pengikut setia Utsman, terutama Bani Umayyah pun terus menuntut Ali agar segera menghukum para pembunuh Utsman. Dari perbedaan pandangan tersebut, Bani Umayyah yang saat itu dipimpin oleh Muawiyah pun kemudian memilih keluar dari kekuasaan Khalifah Ali.
Awal dari perpecahan ini kemudian banyak melibatkan para pejuang Islam semenjak Abu Bakar hingga Utsman. Bahkan perpecahan ini pun kemudian menjadi perang saudara yang pertama terjadi di antara para pengikut setia Nabi Muhammad. Terlebih lagi, Aisyah, Thalhah, dan Zubair pun kemudian terlibat peperangan dengan Ali yang kemudian dikenal dengan sebutan Perang Jamal atau Perang Unta.
Dalam rangkaian waktu yaitu setelah kematian Ali di tangan Bani Khawarij, Sunni pada masa kekuasaan Bani Umayyah pun masih dalam keadaan mencari bentuk. Itu sebab, dalam Sunni pun kemudian mengikuti empat mazhab yang berlatar belakang berbeda. Diantaranya adalah Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hambali. Meski terdapat empat mazhab yang berbeda, perbedaan tersebut tidak bersifat fundamental. Perbedaan ini tentu tidak mencakup permasalahan pokok keimanan tapi lebih pada tata cara ibadah.

1. Hanafi

Mazhab ini didirikan oleh Imam Hanafi (Abu Hanifah) yang dikenal sebagai mazhab yang paling terbuka untuk masalah pemikiran modern. Didirikan oleh Imam Abu Hanifah, Mazhab Hanafi kemudian menjadi paling dominan di dunia Islam, yaitu hingga 45%. Sedang yang menjadi penganutnya banyak terdapat di Asia Selatan (Pakistan, India, Bangladesh, Sri Lanka, dan Maladewa), Mesir bagian Utara, Bagdad, separuh Irak, Syria, Libanon dan Palestina (campuran Syafii dan Hanafi), Kaukasia (Chechnya, Dagestan).
Nama asli Abu Hanifah sendiri adalah An Nu’man bin Tsabit bin Nu’man Zuwatho yang dilahir di Kufah, Iraq pada tahun 80 Hijriah, yaitu 70 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad. Abu Hanifah sendiri berasal dari keturunan bangsa Persia yang diyakini mengalami dua masa khilafah (Bani Umaiyah dan Bani Abbasiyah). Sedang tahun kemtiannya sendiri adalah pada tahun 150 Hijriah.
Meski Abu Hanifah adalah ahli fiqih dari penduduk Irak, Abu Hanifah pun berprofesi sebagai pedagang kain di Kufah. Itu sebab, sebagai ahli dalam ilmu fiqh, Abu Hanifah kemudian dipercaya sebagai seorang yang pertama menyusun ilmu fiqh hingga seperti yang kini diajarkan atau dengan gelarnya “Wadi’ ilmu fiqh”.

2. Maliki
Mazhab yang didirikan oleh Imam Malik ini diyakini telah diikuti oleh sekitar 15%-20% muslim di seluruh dunia. Mazhab ini dominan di negara-negara Afrika Barat dan Utara, meliputi pula Tunisia, Maroko, al Jazair, dan Mesir Atas. Mazhab ini memiliki keunikan dengan menyodorkan tatacara hidup penduduk madinah sebagai sumber hukum karena Nabi Muhammad hijrah, hidup dan meninggal di sana dan terkadang kedudukannya dianggap lebih tinggi dari Hadis. Dalam hal menjalankan Islam, selain meniru gaya Madinah, mazhab ini juga berpegang pada Al Quran, Hadis Rasul, Ijma’ ahlul Madinah, Qiyas, dan Istilah.
Mazhab ini pada dasarnya diikuti dari pendahulunya, yaitu Malik bin Anas bin Malik bin ‘Amr al Imam atau juga dikenal dengan nama Abu ‘Abdullah al Humyari al Asbahi al Madani. Kelahirannya sendiri diperkirakan di Madinah pada tahun 93 Hijriah dan meninggal pada tahun 179 Hijriah.
Dengan berkembangnya fiqh Islam dari Malik bin Anas, menyebabkan mazhabnya pun kemudian banyak menyebar dan mempengaruhi kawasan Hijaz. Itu sebab, Malik bin Anas pun kemudian mendapatkan julukan “pemimpin ahli fiqh di seluruh daerah Hijaz” atau “Sayyid Fuqaha al Hijaz”.

3. Syafii
Sunni dianggap sebagian umum sebagai golongan yang bertindak fleksibel. Namun demikian, meski fleksibel tentu tidak menjadikan Islam keluar dari Quran dan Hadis. Hal ini tentu menjadi sangat rumit terlebih Sunni juga kemudian tergolong kembali ke dalam berbagai mazhab. Seperti halnya mazhab-mazhab sebelumnya, Mazhab Syafii mulai dikenalkan oleh Imamnya, yaitu Imam Syafii yang kemudian menjadi sebagian dari golongan Islam Sunni. Pemikiran mazhab ini diawali oleh Imam Syafii, yang hidup di zaman pertentangan antara aliran Ahlul Hadis dan Ahlur Ra’yi.
Pada dasarnya, mazhab ini adalah mazhab yang berada di antara kedua kelompok antara Abu Hanifah (Mazhab Hanafi) dan Imam Malik (Mazhab Maliki). Dan dengan sikapnya tersebut, Mazhab Syafii kemudian tersebar hingga Turki, Irak, Syria, Iran, Mesir, Somalia, Yaman, Indonesia, Thailand, Singapura, Filipina, Sri Lanka, dan dijadikan mazhab resmi negara Malaysia dan Brunei.
Dalam pelaksanaan dasar-dasar mazhab ini, Syafii masih berpegang pada al Quran, Sunnah Rasul, Ijma’ atau kesepakatan para Sahabat Nabi yang bukan kesepakatan seluruh mujtahid pada masa tertentu terhadap suatu hukum, dan Qiyas.
Penyebarluasan pemikiran Mazhab Syafii berbeda dengan Mazhab Hanafi dan Mazhab Maliki yang banyak dipengaruhi oleh kekuasaan kekhalifahan. Sedang pokok pikiran dan prinsip dasar Mazhab Syafii disebarluaskan dan dikembangkan oleh para muridnya. Itu sebab banyak tokoh yang kemudian pula dikenal kalangan luas yang turut menyebarkan mazhab ini. Diantaranya adalah Yusuf bin Yahya al Buwaiti, Abi Ibrahim Ismail bin Yahya al Muzani, Ar Rabi bin Sulaiman al Marawi, Imam Abu al Hasan al Asy’ari, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Nasai, Imam Baihaqi, Imam Turmudzi, Imam Ibnu Majah, Imam Tabari, Imam Ibnu Hajar al Asqalani, Imam Abu Daud, Imam Nawawi, Imam as Suyuti, Imam Ibnu Katsir, Imam adz Dzahabi, Imam al Hakim, dan lainnya.
Mazhab Syafii pada umumnya dianggap sebagai mazhab yang paling konservatif di antara mazhab-mazhab fiqh Sunni lainnya. Dari mazhab ini berbagai ilmu keislaman telah bersemi berkat dorongan metodologi hukum Islam yang dikembangkan para pendukungnya. Karena metodologinya yang sistimatis dan tingginya tingkat ketelitian yang dituntut oleh Mazhab Syafii, terdapat banyak sekali ulama dan penguasa di dunia Islam yang menjadi pendukung setia mazhab ini. Di antara mereka bahkan ada pula yang menjadi pakar terhadap keseluruhan mazhab-mazhab Sunni di bidang mereka masing-masing.
Perihal kelahiran pembawa mazhab ini, banyak para ahli sejarah berpendapat bahwa Imam Syafii lahir di Gaza, Palestina, dan ada pula yang menyatakan bahwa Imam Syafii lahir di Asqalan, yaitu sebuah kota yang berjarak sekitar tiga farsakh dari Gaza. Sedang pendapat lainnya menyatakan bahwa Imam Syafii di lahirkan di Khuzzah. Imam Syafii atau Muhammad bin Idris asy Syafii dilahir pada tahun 150 Hijriah yang bertepatan dengan tahun wafatnya Imam Abu Hanifah. Sedang Imam Syafii sendiri merupakan keturunan dari al Muththalib (Bani Muththalib).
Dalam hal pengajaran Islamnya, Imam Syafii kemudian dikenal dengan ajaran “pendapat yang lama” atau Qaul Qadim dan “pendapat yang baru” atau Qaul Jadid. Perihal Qaul Qadim dan Qaul Jadid ini diperoleh dari dua tempat yang berbeda, yaitu sebagai Qaul Qadim ketika Imam Syafii berada di Bagdad dan Qaul Jadid ketika berada di Mesir.
Imam Syafii yang telah banyak menyebar di berbagai kalangan ini kemudian meninggal di Fusthat-Mesir pada tahun 204 Hijriah atau bertepatan dengan tahun 819 Masehi.


4. Hambali
Dalam hal penyebaran Islamnya, mazhab yang dimulai oleh Imam Hambali ini merupakan mazhab yang saat ini banyak dianut di Saudi Arabia. Selain itu, mazhab ini juga dianut kebanyakan penduduk Hijaz, di pedalaman Oman dan beberapa tempat sepanjang Teluk Persia dan dibeberapa kota Asia Tengah. Sedang yang menjadi dasar-dasarnya yang pokok ialah berpegang pada Al Quran, Hadis Mursal, Hadis Marfu’, Fatwa sahabat dan mereka yang lebih dekat pada al Quran dan hadis, dan Qiyas.
Pembawa mazhab ini, Imam Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal bin Asad al Marwazi al Baghdadi dilahirkan di Marw (saat ini bernama Mary di Turkmenistan, utara Afghanistan dan utara Iran) pada 781 dan wafat pada tahun 241 Hijrah di kota Baghdad, Irak. Pada awal mula Menuntut Ilmu, Imam Hambali pertama kali menguasai al Quran dan sudah hafal pada usia 15 tahun. Diusia yang sama, Imam Hambali mulai mempelajari Hadis hingga ke Syam (Syiria), Hijaz, Yaman dan negara-negara lainnya.
Imam Hambali dalam kehidupannya kemudian menikah pada umurnya yang ke-40 tahun dan mendapatkan keberkahan yang melimpah. Beliau melahirkan dari istri-istrinya anak-anak yang shalih, yang mewarisi ilmunya, seperti Abdullah dan Shalih. Bahkan keduanya sangat banyak meriwayatkan ilmu dari bapaknya.
Dalam kehidupannya, setelah sepeninggal gurunya, yaitu Imam Syafii hijrah ke Mesir, Imam Syafii pun kemudian berkata “Saya keluar dari Baghdad, tidak saya tinggalkan di sana seorang yang lebih takwa, lebih wara’, dan lebih alim selain Ahmad bin Hambal, yang sungguh banyak menghafal hadis.” Sedang Imam Hambali pun kemudian wafat pada 12 Rabiul Awwal 241 Hijirah dan bertepatan dengan hari Jumat.

C. Khawarij
Pada masa pemerintahan Ali, Islam semakin banyak terpecah. Salah satunya adalah Khawarij. Berasal dari kata “kharaja” yang berarti keluar, Khawarij kemudian diartikan pula sebagai kelompok yang keluar dari kelompok dasar (kelompok Ali) dan membentuk kelompok baru. adalah sebuah golongan yang berasal dari pengikut Ali Ibn Abi Thalib yang meninggalkan jamaah karena tidak setuju dengan keputusan Ali yang menerima penyelesaian masalah peperangan melawan Muawiyah dengan cara berdamai dalam perang Siffin. Mereka dikenal juga dengan sebutan golongan al Muhakkimah. Sebutan ini didasari pada semboyannya; la hukma illah li Allah (tiada hukum kecuali hukum Allah) dan la hukama illa Allah (tidak ada pembuat hukum kecuali Allah). Dengan semboyan ini mereka menilai Ali dan Muawiyah telah mengambil keputusan di luar hukum Allah, karenanya mereka telah melakukan kesalahan, yakni melakukan arbitrase. Arbitrase, dalam pandangan Khawarij tidak memiliki landasan yang kuat dalam al Quran. Itu berarti kedua pemimpin Islam ini telah melakukan dosa besar yakni menghukum bukan dengan hukum Allah.
Mengingat tidak sepaham dengan pandangan Khawarij, Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah ibn Abi Sufyan pun kemudian dianggap telah menjadi kafir dan mereka wajib dibunuh. Sebab dalam padangan Khawarij, setiap orang yang melakukan dosa besar adalah kafir. Berdasarkan keyakinan ini maka mereka merencakan pembunuhan terhadap kedua pemimpin Islam tersebut. Namun dalam kenyataannya mereka hanya berhasil membunuh Ali bin Abi Thalib, yang dilakukan oleh Abdur Rahman bin Muljam. Sedang dalam aksi percobaan pembunuhan terhadap Muawiyah dapat digagalkan lantaran Abu Sufyan mendapatkan pengawalan yang sangat ketat.
Mendengar berita kematian Ali, Muawiyah segera memproklamirkan dirinya sebagai Khalifah selanjutnya. Melihat kegigihan dan kecakapan Muawiyah dalam bersosialisasi, Muawiyah pun kemudian mendapatkan banyak pengakuan. Namun tidak bagi Khawarij. Kelompok ini selalu menyerang dan memerangi perintah yang telah diperintah oleh Muawiyah. Meskipun semakin lama jumlah mereka semakin sedikit, namun itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk memerangi pemerintah, sebab dalam pandangan mereka pemerintah saat itu telah menyeleweng dan tidak menjalankan hukum Allah dengan benar.
Terlepas dari permasalahan tersebut, Khawarij juga memiliki doktrin yang lain, yakni masalah iman dan kekhalifahan. Iman dalam pandangan kaum khawarij tidak boleh hanya dengan ucapan lisan semata, namun harus pula diiringi dengan amal saleh. Sedangkan masalah khalifah kaum Khawarij mengatakan bahwa khalifah untuk umat Islam harus dipilih oleh semua umat Islam di berbagai daerah. Calon yang akan menjadi khalifah tidak hanya dari golong Quraish atau Arab saja. Semua umat berhak menjadi khalifah tanpa batasan suku bangsa. Selama memiliki kapasitas untuk memimpin, maka memiliki hak intuk memimpin dan dipilih. Khalifah yang terpilih wajib ditaati oleh seluruh umat Islam selama berlaku adil dan menjalankan hukum Allah. Namun jika dianggap telah menyeleweng, maka hukumannya pun wajib dibunuh. Dalam pandangan Khawarij, Utsman ibn Affan pun kemudian dianggap sebagai kafir lantaran dinilai gagal dalam menjalankan pemerintahan yang banyak melakukan penyimpangan. Dan hal serupa ditujukan kepada Talhah, Zubeir, dan Aisyah yang memerangi kekhalifahan yang sah, yaitu menyatakan perang terhadap Ali.
Dalam hal pelaksanaan hukum Islam, Khawarij sangat keras. Doktrin Khawarij mengenai dosa besar semakin meluas yaitu meliputi setiap pelaku dosa besar yang lain juga kafir, seperti berzina, mabuk, mencuri, dan membunuh merupakan dosa yang tidak dapat diampuni dan dianggap murtad, yaitu keluar dari Islam. Namun di sisi lain, perihal pandangan ini, Khawarij pun mulai menaruh beda pandangan, yaitu sebagian mengatakan bahwa pelaku dosa ini wajib di bunuh dan sebagian lagi tidak wajib untuk dibunuh. Perbedaan pendapat tentang kafir dan tidak kafir ini menjadikan khawarij terbagi dalam beberapa kelompok, setiap kelompok mengklaim kelompoknya yang paling benar dan kelompok lain salah.
Dalam masalah keagamaan, Khawarij menjalankan al Quran sebagaimana yang ada dalam al Quran itu sendiri. Mereka sangat disiplin dengan aturan, sehingga sedikit saja melenceng dan “berkhianat” akan dihukum. Prinsip ekstrim dan fundamental Khawarij seperti tersebut di atas masih ada dan berkembang dalam masyarakat Islam saat ini. Beberapa organisasi Islam memandang mereka sebagai kelompok yang paling benar dan “mengkafirkan” golongan lain. Mereka menuduh setiap golongan yang berbeda dengan golongan mereka sebagai kaum yang tidak menjalankan ajaran Islam dengan sempurna. Seharusnya semua orang sama dengan kelompok mereka, sebab hanya dengan begitu umat Islam akan maju dan berkembang. Pandangan ini menyebabkan timbulnya pertentangan antar kelompok yang kemudian menjadikan perpecahan di kalangan umat Islam itu sendiri sheingga membuat daya tawar umat Islam lemah.
Seperti kelompok yang pernah ada sebelumnya, lantaran perbedaan pendapat tentang kafir-tidaknya seseorang, Khawarij pun mulai terpecah dalam beberapa kelompok. Diantaranya adalah Al Muhakkimah, Al Azariqah, Al Najdat, Al ‘Ajaridah, dan Al ‘Ibadiyah.

1. Al Muhakkimah

Pada dasarnya, kelompok ini adalah sebuah kelompok pertama dari terbentuknya Khawarij. Al Muhakkimah merupakan kelompok pertama yang keluar dari barisan Ali setelah perang Siffin. Mereka menganggap Ali dan Muawiyah sebagai kafir yang menjadi wajib untuk dibunuh. Hanya saja, al Muhakkimah kemudian kembali keluar dan membentuk barisannya sendiri. Keluarnya al Muhakkimah didasari oleh perbedaan pendapatnya tentang sikap Khawarij yang juga menganggap kafir yang wajib dibunuh bagi pelaku dosa besar. Al Muhakkimah memiliki pandangan yang lainnya bahwa para pelaku dosa besar ini tidak wajib dibunuh.

2. Al Azariqah
Melihat perpecahan dalam tubuh Khawarij, terlebih dengan adanya al Muhakkimah yang menyatakan keluar dari Khawarij, sebuah gerakan menentang al Muhakkimah pun kemudian juga didirikan dari dalam tubuh Khawarij dan memeranginya. Sebuah gerakan baru ini kemudian dikenal dengan Al Azariqah. Kelompok baru inilah yang kemudian menjadikan al Muhakkimah sebagai musuh internalnya yang tidak meyakini bahwa setiap pelaku dosa besar adalah syirik, dan syirik lebih berat dosanya dari kafir. Al Azariqah kemudian menjadi kelompok yang sangat keras, yaitu memandang semua orang Islam yang tidak sefaham dengannya adalah musyrik. Bahkan orang al Azariqah sendiri yang tidak mau pindah ke daerah kekuasaan mereka juga Musyrik.

3. Al Najdat
Merasa tertekan dengan keberadaan al Azariqah yang meyakini bahwa yang tidak sefaham dengannya adalah kafir dan kekal dalam neraka, maka sebagian kelompok Khawarij pun kemudian mendirikan kelompok al Najdat yang difungsikan sebagai kelompok perlawanan terhadap al Zariqah. Hal yang paling mendasari dalam pendirian kelompok al Najdat ini adalah sikap ketimpangan dalam tubuh al Zariqah, yaitu hanya menyiksa pengikutnya sendiri jika mengerjakan dosa besar yang kemudian dijanjikan akan dimasukkan dalam surga. Hal ini tentu saja menjadi tidak wajar ketika telah jelas dinyatakan bahwa pelaku dosa besar adalah kafir yang wajib dibunuh, namun hukum tersebut bertolak bagi kelompoknya sendiri. Itu sebab, al Najdat kemudian beranggapan bahwa sekecil apapun dosa, akan menjadi dosa besar apabila hanya dibiarkan, sedang pelakunya hanya akan sebagai sebagian musyrik saja.

4. Al ‘Ajaridah
Seperti al Najdat, al ‘Ajaridah pun didirikan lantaran menjawab tantangan al Azariqah yang pula menganggap seseorang yang tidak ikut dalam kekuasaannya adalah seorang kafir. Al ‘Ajaridah didirikan tentu dengan alasan sebaliknya dari al Azariqah, yaitu memperbolehkan tinggal di daerah lain selain daerah kekuasaannya. Al ‘Ajaridah juga melarang membunuh anak-anak sebab mereka tidak mewarisi dosa bapaknya. Dan hal yang menjadi menarik dalam golongan ini adalah penolakannya terhadap QS. Yusuf dan menganggap sebagai bukan sebagian dari al Quran. Al ‘Ajaridah menganggap QS Yusuf tersebut tidak lebih dari sebuah cerita romantisme percintaan.

5. Al Sufriyah
Dalam hal doktrin ajaran golongan ini, al Sufriyah mendekati dengan ajaran al ‘Ajaridah, yaitu membolehkan seseorang tinggal di luar wilayah kekuasaannya. Anak-anak pun dilarang untuk dibunuh. Hanya saja, dalam penghakiman dari dosa besar lainnya (seperti mencuri, membunuh, dan berzina), pelaku dosa tersebut mendapatkan pula hukuman di dunia sebelum di akhirat. Seseorang dianggap kafir apabila mereka meninggalkan ibadah mahdah.

6. Al ‘Ibadiyah
Salah satu kelompok ynag memecahkan diri dari berbagai pecahan Khawarij, al ‘Ibadiyah menjadikan golongan yang memiliki pemikiran dasar dari Khawarij, yaitu Islam yang tidak sefaham dengan mereka digolongkan sebagai kafir. Hanya saja, pada al ‘Ibadiyah diperbolehkan melakukan aktivitas dalam hal dagang, perkawinan, dan waris. Itu sebab, Islam yang berada di luar jalur mereka hanya wajib diperangi untuk pusat pemerintahan saja dan bukan per individu.
Meski Khawarij terpecah dalam berbagai golongan, dengan semakin berkembangnya globalisasi, hampir keseluruh golongan Khawarij tersebut sudah punah. Selain tidak dikembangkan oleh keturunannya, peperangan antar golongan dan permusuhan dengan golongan di luarnya membuat mereka terisolir dan tidak berkembang lagi. Hanya saja, hal ini tidak berlaku bagi al ‘Ibadiyah. Golongan ini masih dapat ditemui di daerah Afrika Utara dan Arabia Selatan. Bertahannya kelompok ini dikarenakan diperbolehkannya bagi individu yang tergabung di dalamnya melakukan aktivitas dalam hal dagang, perkawinan, dan waris.


D. Murji’ah
Dengan adanya kelompok Khawarij yang terbilang ekstrem, Murji’ah terlahir sebagai kelompok aliran Islam yang muncul dari golongan yang tidak sepaham dengan Khawarij. Murji’ah dalam ketidak sepahaman dengan Khawarij adalah masalh pengkafiran seseorang. Murji’ah menganggap bahwa hukuman atas perbuatan seseorang akan dilakukan di pengadilan Allah Swt. Itu sebab, Islam yang telah melakukan dosa besar pun tidak dapat dianggap sebagai kafir yang mempunyai harapan untuk bertobat dan memperbaikinya. Sebab yang berhak menjatuhkan hukuman terhadap seorang pelaku dosa hanyalah Allah Swt. dan bukan sebagian kelompok tertentu.
Dalam hal peribadatan, Murji’ah menjadikan kelompok yang jauh lebih ringan ketimbang yang lainnya, yaitu iman cukup hanya dalam hati. Dengan adanya keyakinan seperti ini, Murji’ah tidak dituntut membuktikan keimanan dalam perbuatan sehari-hari. Selama meyakini 2 kalimah syahadat, seorang Muslim yang berdosa besar tak dihukum kafir. Dalam hal keyakinan ini, banyak kalangan yang tidak dapat menerimanya lantaran dalam pelaksanaan iman pun perlu adanya perbuatan, terlebih lagi dalam hal menjalankan kewajiban beribadah terhadap Allah Swt.

E. Mu’taziliyah
Pada sekitar abad ke-2 Hijriah, Mu’taziliyah kemudian didirikan di Basra, Irak setelah Wasil bin Atha’ (700-750 M) salah satu tokoh pendirinya mulai berpisah dengan gurunya, yaitu Imam Hasan al Bashri lantaran memiliki pandangan keimanan yang berbeda. Imam Hasan al Bashri berpendapat bahwa Islam yang melakukan dosa besar masih dikatakan mukmin. Sedang Wasil bin Atha’ berpendapat bahwa Islam yang berdosa besar dikatakan sebagai fasik, yaitu bukan mukmin dan bukan pula kafir. Wasil bin Atha’ kemudian merumuskan pendapatnya dalam dua kelompok yang melibatkan janji dan ancaman. Sedang yang menjadi janji dan ancaman yang dilontarkan oleh pendiri Mu’taziliyah tersebut berkaitan dengan pendapatnya akan Allah yang tidak pernah ingkar dengan memberi pahala pada muslimin yang baik dan memberi siksa pada muslimin yang jahat. Dan dalam hal masalah pengajaran Islam yang lainnya, Mu’taziliyah memiliki pandangan terhadap Tauhid yang meliputi tidak pengakuannya terhadap sifat Allah Swt., al Quran adalah makhluk, dan Allah di alam akhirat kelak tidak dapat kembali dilihat oleh mata manusia.

F. IBADI
Ibadi adalah golongan Muslim yang bersumber pada Al-Quran dan hadits dengan fokus utama menjadi hamba Allah dengan sederhana. Golongan ini tersebar di berbagai golongan umat Islam baik Sunni maupun Syi’ah dengan berbagai mahzabnya. Aliran ini merupakan aliran yang dominan di Oman. Keyakinan kaum Ibadi adalah bahwa setiap Muslim bersaudara dan hanya Allah yang akan menjadi hakim bagi umat manusia.
Kaum Ibadi mementingkan ukhuwah islamiyyah daripada bermusuh-musuhan hanya karena berbeda mahzab atau aliran. Cukuplah keyakinan mereka mengharapkan disebut hamba-hamba Allah yang dipanggil untuk masuk ke dalam surga-Nya.