Tampilkan postingan dengan label Sekigahara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekigahara. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Desember 2010

Tokugawa Ieyasu


Dilahirkan dengan nama Matsudaira Takechiyo, Tokugawa Ieyasu kemudian dikenal sebagai salah seorang tokoh yang memunculkan faham kediktaktoran dalam kepemimpinan setelah lama tidak terjadi. Tokugawa Ieyasu sendiri dilahirkan pada tanggal 31 Januari 1543 sebagai keturunan dari pasangan Matsudaira Hirotada dan Odai no Kata.

Matsudaira Hirotada sendiri adalah seorang daimyo yang menguasai Istana Okazaki di Mikawa, sedang sang ibu, Odai no Kata adalah anak perempuan dari seorang Samurai, Mizuno Tadamasa. Setelah kelahiran Tokugawa Ieyasu, kedua orang tuanya pun berpisah cukup lama meski pada akhirnya mereka kembali rujuk. Mereka berpisah setelah sekitar 2 tahun setelah kelahiran anaknya. Sedang masing-masing umur keduanya saat kelahiran Tokugawa Ieyasu adalah 17 tahun untuk Matsudaira Hirotada dan 15 tahun untuk Odai no Kata.

Meski keluarga Matsudaira merupakan salah satu keluarga yang diperhitungkan, dalam internal keluarganya sendiri, keluarga Matsudaira banyak terlibat pertikaian di dalamnya. Puncaknya ketika sekitar tahun 1550, dimana dalam keluarga Matsudaira terdapat dua kubu yang masing-masing ingin menjadi pengikut dari Klan Oda maupun Klan Imagawa. Dan yang menjadi tragisnya, dengan ketidak sepakatan dalam internal, kakek dari Tokugawa Ieyasu, Matsudaira Kiyoyasu pun harus membayarnya dengan nyawa.[1]

Menginjak tahun 1548, Klan Oda yang melihat keistimewaan di daerah Mikawa pun sgera mencoba melakukan invasi. Namun, rencana trsebut pun kemudian terdengar oleh Matsudaira Hirotada dan segera mungkin meminta bantuan kepada Klan Imagawa untuk dapat membantunya. Hanya saja, meski Klan Imagawa menyetujui untuk melindungi Matsudaira Hirotada, Imagawa Yoshimoto pun meminta jaminan dengan menunjuk Tokugawa Ieyasu sebagai sandera. Lantaran dianggap perlu, Matsudaira Hirotada pun menyetujui permintaan kepala Klan Imagawa tersebut.

Lantaran tidak menginginkan usahanya gagal, Oda Nobuhide yang mengetahui perihal dukungan Klan Imagawa pun kemudian merencanakan untuk melakukan penculikan. Dan berhasil, Oda Nobuhide pun kemudian menculik Tokugawa Ieyasu yang masih berumur 6 tahun tersebut dari pasukan pengiringnya.[2] Setelah aksi penculikan terhadap Tokugawa Ieyasu berhasil, Oda Nobuhide pun kemudian mengancap kepada Matsudaira Hirotada untuk segera memutuskan hubungannya dengan Klan Imagawa atau Tokugawa Ieyasu akan dibunuh. Namun di balik itu semua, demi menunjukkan bukti kesetiaannya kepada Klan Imagawa, Matsudaira Hirotada pun membiarkan Tokugawa Ieyasu terbunuh.

Mendengar penolakan ancaman tersebut, Oda Nobuhide pun menjadi terkejut. Meski Oda Nobuhide sudah mengancam untuk membunuh Tokugawa Ieyasu, Oda Nobuhide ternyata tidak membunuh Tokugawa Ieyasu. Oda Nobuhide malah melindungi Tokugawa Ieyasu sebagai sanderanya di kuil Manshoji di Nagoya.

Menginjak tahun 1549, tepat diusianya yang ke-7 tahun, Tokuigawa Ieyasu mendapatkan kematian sang ayah. Dan di tahun yang sama pula, dengan adanya penyakit yang meliputi tubuh Oda Nobuhide, dirinya pun menemui ajalnya. Dan secara langsung, Oda Nobuhiro yang menjadi anak pertama Oda Nobuhide pun menjadi kepala klan yang baru. Mendengar kabar adanya transisi kepemimpinan, Klan Imagawa yang dipimpin Imagawa Sessai pun segera melancarkan serangan untuk menjatuhkan kekuatan Klan Oda.

Dalam penyerangan tersebut, ternyata Oda Nobuhiro pun tidak mampu mempertahankan istananya hingga keadaan semakin terpuruk. Hingga tahun 1549, 2 tahun setelah kematian Oda Nobuhide, Imagawa Sessai yang hampir menjatuhkan Klan Oda seluruhnya pun mencoba membuat kesepakatan dengan Oda Nobunaga, adik dari Oda Nobuhiro. Dalam kesepakatan tersebut, Imagawa Sessai memberikan opsi tentang keadaan klannya. Jika Oda Nobunaga setuju untuk tunduk kepada Klan Imagawa, maka tali keturunan Klan Oda akan dibiarkan, tapi jika tidak, Klan Oda pun terpaksa dihabisi.

Dengan melihat kesempatan emas tersebut, Oda Nobunaga pun kemudian menyetujui persyaratan Imagawa Sessai untuk menyerah. Hal ini tentu saja bertolak dengan kakaknya yang menginginkan untuk tetap bertahan. Karena perbedaan tersebutlah, tidak diketahui bagaimana selanjutnya, Oda Nobunaga pun kemudian menyerahkan Tokugawa Ieyasu kepada Imagawa Sessai untuk dijadikan sandera di usianya yang ke-9 tahun di Sumpu.

Dan dengan menjadinya Tokugawa Ieyasu sebagai sandera Klan Imagawa, secara tidak langsung, Tokugawa Ieyasu pun berangsur menjadi pengikut setia Klan Imagawa. Hingga memasuki tahun 1556, saat usia Tokugawa Ieyasu beranjak 15 tahun, Tokugawa Ieyasu yang sebelumnya masih menggunakan nama keluarganya, Matsudaira Takechiyo pun mengganti namanya menjadi Matsudaira Jirōsaburō Motonobu. Dan setahun selanjutnya, Tokugawa Ieyasu pun kmbali mengganti namanya menjadi Matsudaira Kurandonosuke Motoyasu setelah menikahi istri pertamanya.

Sebagai pengikut Klan Imagawa, setelah dinilai mencukupi umur, Tokugawa Ieyasu pun kemudian mendapatkan perintah untuk segera menyerang Klan Oda. Dan dalam penyerangannya tersebut, Tokugawa Ieyasu pun kemudian memenangkan pertempurannya di Terabe.

Melihat kekalahan yang menyedihkan pada Klan Oda, pada tahun 1560, Oda Nobunaga pun kemudian menjadikan dirinya sebagai kepala klan setelah Oda Nobuhiro meninggal. Dengan adanya pengangkatan Oda Nobunaga sebagai kepala klan baru, Oda Nobunaga pun kemudian membuat kesepakatan dengan Tokugawa Ieyasu.

Tidak diketahui dengan jelas memang bagaimana bentuk kesepakatan tersebut. Hanya saja, ketika Yoshimoto diangkat sebagai panglima tertinggi dari Klan Imagawa untuk menyerang kembali Klan Oda, Tokugawa Ieyasu enggan untuk membantu hingga menyebabkan kematian Yoshimoto itu sendiri di Pertempuran Okehazama.

Pembelotan Tokugawa Ieyasu tersebut diduga dengan adanya penyanderaan istri dan anaknya yang bernama Matsudaira (Tokugawa) Nobuyasu oleh Klan Imagawa. Itu sebab, setelah Yoshimoto menemui ajalnya, Tokugawa Ieyasu pun kemudian memecahkan diri dengan Klan Imagawa dan segera menduduki Kaminojo dan membangun istananya sendiri. Dan merasa mampu menjadi pemimpin, Tokugawa Ieyasu pun kemudian mrombak seluruh kepengurusan klannya dan menjadikannya sebagai kepala klan yang baru serta memposisikan beberapa panglim aperang yang disebarkan di tanah kelahirannya, Mikawa. Beberapa yang mnjadi manusia pilihannya meliputi Honda Tadakatsu, Ishikawa Kazumasa, Koriki Kiyonaga, Hattori Hanzō, Sakai Tadatsugu, dan Sakakibara Yasumasa.

Karir Tokugawa Ieyasu memang terbilang sangat mengesankan. Bahkan keajaiban pun kerap menemaninya. Bahkan dalam penguasaan tanah kelahirannya pun, Tokugawa Ieyasu yang sempat bersiteru dengan pasukan Mikawa Monto dan hampir menyebabkan kematiannya. Namun demikian, Tokugawa Ieyasu pun tidak kunjung mati.[3]

Memasuki tahun 1567, nama Tokugawa Ieyasu itu sendiri pun digunakannya secar resmi setelah sebelumnya menggunakan nama Matsudaira Kurandonosuke Motoyasu. Dan pada tahun berikutnya (1568), setelah Tokugawa Ieyasu berhasil memiliki wilayah kekuasannya sendiri, dirinya bersama Takeda Shingen pun sepakat untuk menggulingkan kekuasaan Klan Imagawa. Dan dengan adanya kesepakatan tersebut, keduanya pun berhasil menguasai wilayah kekuasaan Klan Imagawa, masing-masing diantaanya adalah Takeda Shingen yang menguasai provinsi Saruga dan Tokugawa Ieyasu sendiri berhasil menguasai provinsi Tōtōmi.

Merasa memiliki wilayah kekuasaan yang semakin luas, Tokugawa Ieyasu pun kemudian memutuskan untuk tidak kembali bekerjasama dengan Takeda Shingen. Mendengar kabar tidak mengenakkan tersebut, Takeda Shingen pun kemudian merangkul Klan Hōjō. Dan menginjak bulan Oktober 1571, Takeda Shingen bersama Klan Hōjō pun sepakat untuk menundukkan provinsi Tōtōmi.

Mendengar kemarahan dari pihak Klan Takeda, Tokugawa Ieyasu pun kemudian segera meminta bantuan kepada Klan Oda untuk mengirimkan pasukannya. Dan dengan dikirimnya bantuan dari Klan Oda, Tokugawa Ieyasu pun akhirnya menyepakati pertempurannya dengan Takeda Shingen pada tahun 1573. Dengan adanya pertempuran mereka yang disebut dengan Pertempuran Mikatagahara, Tokugawa Ieyasu akhirnya menemui kekalahannya yang sangat besar. Namun demikian, Tokugawa Ieyasu yang kembali selamat pun kembali membangun kekuatannya.

Sebuah keberuntungan kembali memihak kepada Tokugawa Ieyasu yang kemudian mendapatkan berita kematian Takeda Shingen di tahun bersamaan jatuhnya Tokugawa Ieyasu. Dan dengan kembali meminta bantuan Klan Oda, Tokugawa Ieyasu pun kembali merebut kekuasaannya yang pernah jatuh.

Dengan kematian Takeda Shingen, Klan Takeda pun kemudian dilanjutkan oleh anaknya, Takeda Katsuyori. Dan dengan peralihan kekuasaan tersebut, ternyata tidak mampu menjaga kekuatannya sebelumnya yang mampu mengusir Tokugawa Ieyasu dari provinsi Tōtōmi. Dan tepat pada tahun 1575, dengan bantuan tentara dari Klan Oda yang mencapai 30.000 pasukan, Tokugawa Ieyasu akhirnya mampu menundukkan wilayahnya kembali dengan mengusir Takeda Katsuyori kembali ke provinsi Kai pada tanggal 28 Juni 1575.

Meski Takeda Katsuyori telah kalah dalam pertempurannya, Takeda Katsuyori ternyata kembali mengatur rencananya untuk membalas dendam. Dalam pembalsan dendam tersebut, istri dan anak Tokugawa Ieyasu yang masih dijadikan sandera pun ditugasi untuk membunuh Oda Nobunaga karena telah melakukan kesalahan dengan membantu Tokugawa Ieyasu. Tepat pada tahun 1579, setelah Tokugawa Ieyasu mengetahui rencana Takeda Katsuyori yang menggunakan istri dan anaknya pun tidak ambil diam. Istrinya pun kemudian dihukum mati oleh Tokugawa Ieyasu itu sendiri dan sedang Matsudaira Nobuyasu, anaknya pun disuruh untuk melakukan seppuku.

Setelah urusan internal keluarganya usai, Tokugawa Ieyasu bersama pasukan Klan Oda pun kemudian menyerang pusat kekuatan Klan Takeda yang berada di provinsi Kai. Dan dalam Pertempuran Temmokuan itulah Takeda Katsuyori dan anaknya, Takeda Nobukatsu pun mengalami kekalahan dan kematiannya di tahun 1582.

Kematian Oda Nobunaga pada tahun 1582, menyebabkan dendam tersendiri bagi Tokugawa Ieyasu. Dengan dirinya yang berada di Osaka, Tokugawa Ieyasu pun mencoba untuk mengejar Akechi Mitsuhide, seorang yang telah membunuh Oda Nobunaga. Hanya sajka, usahanya tersebut pun sia-sia lantaran Toyotomi Hideyoshi ternyata lebih dahulu mengalahkan Akechi Mitsuhide dalam Pertempuran Yamazaki. Namun demikian, setelah Tokugawa Ieyasu mengetahui keterlibatan salah satu penguasa besar di provinsi Kai, Tokugawa Ieyasu pun mencoba mengisolasi provinsi tersebut dengan mengerahkan seluruh kekuatannya.

Di sisi lain, Hōjō Ujimasa, pemimpin tertinggi bagi Klan Hōjō pun juga mengerahkan pasukan besarnya untuk menghadang gerakan Tokugawa Ieyasu. Hanya saja, keduanya akhirnya sepakat untuk tidak mengangkat senjatanya masing-masing setelah terjadi pertemuan diantara keduanya. Dalam kesepakatan tersebut, Tokugawa Ieyasu berhak mengatur dan mengambil alih kekuasaan di seluruh wilayah provinsi Kai dan Shinano, sedang Hōjō Ujimasa mendapatkan wilayah provinsi Kazusa. Dan di tahun yang bersamaan, tahun 1583, Toyotomi Hideyoshi pun kemudian menjadi seorang daimyo yang berkuasa sebagai pengganti kekuasaan Oda Nobunaga setelah mengalahkan Shibata Katsuie.

Sebagai dua individu yang sama-sama ingin menguasai Jepang secara utuh, Tokugawa Ieyasu dan Toyotomi Hideyoshi pun akhirnya terlibat dalam pertikaian. Dengan dikirimnya pasukan Tokugawa Ieyasu untuk menundukkan provinsi Owari, Toyotomi Hideyoshi pun melakukan hal yang serupa untuk menantang kekuatan Tokugawa Ieyasu. Hanya saja, dalam kesempatan kali pertama tersebut, pasukan Toyotomi Hideyoshi ternyata tidak mempu membendung kekuatan Tokugawa Ieyasu. Namun demikian, setelah beberapa waktu kemudian, Toyotomi Hideyoshi pun akhirnya melakukan negosiasi dengan lawannya tersebut. Dan dalam kesepakatannya, Toyotomi Hideyoshi pun memebrikan keamanan kepada Oda Nobuo dan membiarkan Tokugawa Ieyasu kembali dengan urusannya. Dan sebagai jaminannya, O Gi Maru atau yang kemudian dikenal dengan Yūki (Matsudaira) Hideyasu, anak kedua Tokugawa Ieyasu pun harus dijadikan sandera dan anak angkat dari Toyotomi Hideyoshi.

Meski keduanya akhirnya memilih jalan perdamaian, ketika Toyotomi Hideyoshi yang sedang melakukan penyerangan di Shikoku dan Kyushu pun tidak mendapatkan bantuan dari Tokugawa Ieyasu itu sendiri.

Di tahun 1590, Toyotomi Hideyashi pun kemudian terlibat bentrok dengan Klan Hōjō. Dalam bentrokan tersebut, Toyotomi Hideyoshi meminta kepada Hōjō Ujimasa, seorang penguasa dari Klan Hōjō yang menguasai 8 provinsi di Kantō untuk segera tunduk kepadanya. Namun usulan tersebut pun kemudian ditolak Hōjō Ujimasa. Merasa ditolak, Toyotomi Hideyoshi pun segera melancarkan serangannya. Sedang di sisi lain, Hōjō Ujimasa yang sebelumnya menjadi rekan Tokugawa Ieyasu pun segera meminta bantuan.

Dalam pertempuran tersebut, Toyotomi Hideyoshi pun kemudain dihadapkan dengan pasukan gabungan Hōjō Ujimasa-Tokugawa Ieyasu yang sebesar 60.000 Samurai yang terlatih. Namun haltersebut tentu tidak sepadan dengan pasukan Toyotomi Hideyoshi itu sendiri yang mencapai 160.000 pasukan. Dan selama pertempuran berlangsung di Istana Odawara, Toyotomi Hideyoshi yang mengetahui keterlibatan Tokugawa Ieyasu yang membantu Hōjō Ujimasa pun kemudian mencoba membuat kesepakatan. Dalam kesepakatan tersebut, Toyotomi Hideyoshi yang menginginkan wilayah Klan Hōjō pun memberikan 5 dari 8 provinsi kekuasaan Hōjō Ujimasa kepada Tokugawa Ieyasu jika dirinya mau berdiri di belakang (tunduk) Toyotomi Hideyoshi.

Merasa ingin memiliki daerah kekuasaan yang lebih luas, Tokugawa Ieyasu pun kemudian menerima kesepakatan tersebut dan menghianati Hōjō Ujimasa. Dalam pertempuran tersebut, Tokugawa Ieyasu bersama Toyotomi Hideyoshi pun akhirnya mampu mengalahkan Hōjō Ujimasa. Dan sesuai perjanjiannya, Tokugawa Ieyasu pun kemudian mendapatkan 5 provinsinya dan tunduk kepada Toyotomi Hideyoshi. 5 provinsi yang dikuasainya kemudian meliputi Mikawa itu sendiri, Tōtōmi, Suruga, Shinano, dan Kai.

Dalam pengaruh kekuasaannya yang baru, Tokugawa Ieyasu pun kemudain mengerahkan seluruh pasukannya ke selkuruh wilayah kekuasaannya tersebut dan mendirikan Istana Edo di Kantō. D\Sedang dalam pergerakan internalnya, Tokugawa Ieyasu yang akhirnya menguasai wilayah Klan Hōjō pun mengambil alih seluruh pasukannya yang tersisa. Bukan hanya itu saja, Tokugawa Ieyasu ternyata juga merombang seluruh tatanan Kantō. Tokugawa Ieyasu kemudian mengisolasi dari seluruh peradaban Jepang yang sedang kalut dan mengatur segi keekonomiannya berdasarkan aturan Toyotomi Hideyoshi. Bahkan ketika Toyotomi Hideyoshi sedang melakukan invasinya ke Joseon, Tokugawa Ieyasu pun tidak mengambil peran. Lantaran kekuatan Tokugawa Ieyasu semakin besar, dirinya pun kemudian dikenal sebagai daimyo kedua yang berpengaruh saat itu. Hingga akhirnya Tokugawa Ieyasu sendiri menjadi seorang yang paling dimusuhi dikalangan pengikut keluarga Toyotomi saat Toyotomi Hideyoshi menemui ajalnya.

Setelah kematian Toyotomi Hideyoshi tersebut, Tokugawa Ieyasu yang kemudian bentrok dengan Ishida Mitsunari pun akhirnya mampu menguasai keseluruhan Jepang dengan diangkatnya dirinya mejadi Sei I Tai Shogun oleh Kaisar Goyōzei pada tahun 1603 setelah menang dari Pertempuran Sekigahara (15 September 1600).
2 tahun setelah dirinya menjadi Shogun, Tokugawa Ieyasu pun kemudian menyerahkan jabatannya kepada sang anak, Tokugawa Hidetada pada tahu 1605. Hanya saja, Tokugawa Ieyasu yang kemudian menempati Istana Sunpu pun masih mendikte kekuasaan anaknya hingga kematiannya sendiri. Dan dalam pendikteannya, Tokugawa Ieyasu yang menjabat sebagai Ōgosho (pensiunan Shogun) pun melanjutkan pembangunan Istana Edo[4] yang belum kelar.

Di akhir hayatnya, Tokugawa Ieyasu yang sedang mengidap penyakit kanker (sebagian data menyebuitkan penyakitnya adalah syphilis) akhirnya meninggal pada usianya yang ke-73 tahun pada tanggal 1 Juni 1616. Dan kematiannya sendiri pada awlanya di percaya di kuburkan di makam Gongen yang dibangun dengan besar dan indah di Kunōzan (Kunōzan Tōshōgū). Dan setahun kemudian, setelah perayaan kematiannya, makam Tokugawa Ieyasu pun dipindahkan ke kuil Nikkō (Nikkō Tōshōgū).
Kematiannya tersebut, Tokugawa Ieyasu akhirnya meninggalkan 19 istri (dan selir/dayang/simpanan) beserta 11 putra dan 5 putri serta cucu. Kesebelas putranya tersebut adalah Matsudaira Nobuyasu, Yūki Hideyasu, Tokugawa Hidetada, Matsudaira Tadayoshi, Takeda Nobuyoshi, Matsudaira Tadateru, Matsuchiyo, Senchiyo, Tokugawa Yoshinao, Tokugawa Yorinobu, dan Tokugawa Yorifusa. Dan kelima putrinya adalah Kame Hime, Toku Hime, Furi Hime, Matsu Hime, Eishōin Hime, dan Ichi Hime. Sedang cucu yang ditinggalkankannya yang dilahirkan semasa Tokugawa Ieyasu masih hidup adalah Tokugawa Yorinobu (daimyo provinsi Kii), Tokugawa Yoshinao (daimyo provinsi Owari), dan Tokugawa Yorifusa (daimyo provinsi Mito).[5]


[1] Sang ayah, Matsudaira Hirotada menginginkan untuk menjadi pengikut Klan Imagawa, sedang sang kakek, Matsudaira Kiyiyasu menginginkan menjadi pengikut Klan Oda.
[2] Timon Screech dalam “Secret Memoirs of the Shoguns: Isaac Titsingh and Japan, 1779-1882” (2006), hal. 85
[3] Mikawa Monto adalah sebuah daerah yang berada di provinsi Mikawa itu sendiri. Namun dalam kebijakannya, Mikawa Monto lebih cendeung mengikuti provinsi Kaga. Dalam wilayahnya tersebut, Mikawa Monto terkenal dengan bayaknya kuil-kuil. Dan perihal pertikaian yang terjadi antara Tokugawa Ieyasu dengan pasukan Mikawa Monto disebabkan oleh penolakan terhadap Tokugawa Ieyasu yang ingin kemnguasai wilayah Mikawa seluruhnya.
[4] Istana Edo kemudian dikenal sebagai istana terbesar diseluruh kawasan Jepang. Dan istana tersebut akan digunakan Tokugawa Ieyasu sebagai tempat peristirahatannya yang terakhir.
[5] http://en.wikipedia.org/wiki/tokugawa_ieyasu

Kamis, 18 Februari 2010

Sekigahara II

Sekigahara
Pertempuran Lain di Berbagai Daerah

Seperti yang diketahui, meski diantara kedua belah pihak memiliki banyak pendukung, namun ada pendukungnya diantara keduanya yang tidak bergabung dalam Pertempuran Sekigahara. Di kubu Tokugawa Ieyasu saja, empat pendukungnya tidak terjun langsung dalam Pertempuran Sekigahara. Diantaranya adalah Maeda Toshinaga, Date Masamune, Katō Kiyomasa, dan Mogami Yoshiaki. Sedang dalam kubu Ishida Mitsunari sendiri yang tidak bergabung dalam Pertempuran Sekigahara salah satunya adalah Mōri Terumoto yang memiliki kekuasaan terbesar di dalam kelompoknya. Selain itu, juga ada Uesugi Kagekatsu, Mashita Nagamori, Satake Yoshinobu, Oda Hidenobu, dan Natsuka Masaie.
Jika masing-masing diantara pendukung Ishida Mitsunari memiliki masalahnya sendiri, tidak dengan Natsuka Masaie yang tidak jelas keberadaannya. Tidak ada catatan sejarah tentang keberadaan Natsuka Masaie ini baik sebelum maupun sesudah Pertempuran Sekigahara berlangsung.
Seperti yang disebutkan sebelumnya, masing-masing pendukung dua besar pemimpin yang bersiteru tersebut juga memiliki pertempuran sendiri. Berbagai daerah di seluruh Jepang (selain Mino, Sekigahara yang dijadikan pertempuran) seperti di Tohoku, Hokuriku, Kinai, dan Kyushu pun terjadi pertempuran antar daimyō pendukung pasukan Tokugawa Ieyasu dengan pendukung pasukan Ishida Mitsunari.
1. Tohoku
Di daerah ini, masing-masing kubu kedua pemimpin besar tersebut juga terlibat dalam pertempurannya sendiri, terutama kubu Tokugawa Ieyasu yang mengeluarkan banyak pendukungnya untuk melakukan penyerangan awal terhadap kubu Ishida Mitsunari.
Dalam mengawasi pergerakan pasukan Ishida Mitsunari, Tokugawa Ieyasu memberikan perintah kepada Yūki Hideyasu sebagai kekuatan utama dalam mengawasi Uesugi Kagekatsu. Dalam kesempatan ini, Yūki Hideyasu dibantu oleh para daimyō yang mempunyai wilayah yang bertetangga dengan wilayah Uesugi Kagekatsu seperti Mogami Yoshiaki dan Date Masamune serta dibantu pula oleh Hori Hideharu.
Dalam penyerangannya kali ini, Mogami Yoshiaki yang menginginkan wilayah kekuasaan barunya dekat dengan laut, maka bersama dengan Date Masamune, Mogami Yoshiaki pun mengatur rencananya. Namun demikian, seorang bushi[1] pengikut setia klan Uesugi, Naoe Kanetsugu yang mendengar rencana tersebut pun segera menyerang lebih dulu daripada diserang. Bertepatan pada tanggal 9 September 1600, Naoe Kanetsugu yang datang dari arah Yonezawa ini berhasil mendesak masuk ke dalam wilayah Mogami Yoshiaki dan berhasil mengepung Istana Yamagata yang merupakan tempat kediaman Mogami Yoshiaki hanya dalam beberapa hari saja.
Lantaran terdesak, Mogami Yoshiaki yang panik akibat serangan mendadak dari Naoe Kanetsugu pun segera meminta bantuan pasukan kepada Date Masamune. Selain dalam kubu yang sama, pertolongan pada Klan Mogami dianggap perlu karena kehancuran klan Mogami akan membuat Uesugi Kagekatsu menjadi ancaman langsung bagi Date Masamune. Pada tanggal 17 September 1600 Date Masamune menunjuk panglima tertinggi Rusu Masakage untuk menyerang pasukan Naoe Kanetsugu. Selain itu, Date Masamune juga menunjuk Katakura Kagetsuna untuk dapat bergabung dengan Rusu Masakage dan segera menyelesaikan urusan yang terjadi pada Mogami Yoshiaki. Dengan kelelahannya pasukan Naoe Kanetsugu akibat bertempur dengan pasukan Mogami Yoshiaki, pasukan Naoe Kanetsugu pun dapat dengan mudah ditaklukkan di wilayah Yamagata.[2]
Dengan adanya pasukan tambahan dari Date Masamune, pasukan pimpinan Sakenobe Hidetsuna yang berada di pihak Mogami Yoshiaki pun tidak ragu dalam menyerang pasukan Naoe Kanetsugu. Meski pada awalnya pasukan Naoe Kanetsugu mendominasi pertempuran tersebut, Istana Hasedō yang dipertahankan Shimura Mitsuyasu dengan hanya sedikit prajurit pun tidak dapat dikuasai Naoe Kanetsugu. Bahkan setelah Pertempuran Sekigahara diketahui dimenangkan oleh kubu Tokugawa Ieyasu, Naoe Kanetsugu pun segera memerintahkan pasukannya untuk mundur dari medan pertempuran.
Mendengar kabar mundurnya pasukan Naoe Kanetsugu, Mogami Yoshiaki pun kembali memerintahkan pasukannya untuk mengejar balik yang dipimpinnya sendiri. Akibat tidak adanya kesiapan diri, Mogami Yoshiaki pun sempat tertembak dan harus bersusah payah melarikan diri. Sedang pengejaran selanjutnya dipimpin oleh Mogami Yoshiyasu (putra Mogami Yoshiaki). Dengan kecakapan yang dimiliki oleh Naoe Kanetsugu, pada tanggal 4 Oktober 1600 pasukannya berhasil kembali dengan selamat di Istana Yonezawa, istana kekuasaannya.
2. Hokuriku
Tokugawa Ieyasu sangat memperhatikan dengan benar tentang kekuatan lawannya. Salah satu daimyō pendukung Ishida Mitsunari yang dinilai paling berkuasa adalah Uesugi Kagekatsu. Itu sebab, banyak pengikut Tokugawa Ieyasu yang dikirimkan untuk menghancurkan Klan Uesugi ini. Maeda Toshinaga, salah satu pendukung Tokugawa Ieyasu yang merasa harus mendukung penyerangan terhadap Uesugi Kanetsugu ini pun berangkat dari arah Kanazawa pada tanggal 26 Juli 1600.
Dalam perjalananya tersebut, Maeda Toshinaga berhasil menjatuhkan Yamaguchi Munenaga (penjaga Istana Daishōji) pada tanggal 3 Agustus 1600. Selain itu, Istana Kitanojō yang dijaga Aoki Kazunori pun juga berhasil dikepung. Hanya saja, sebelum berhasil menjatuhkan Istana Kitanojō, Ōtani Yoshitsugu segera menyebarkan isu tentang penyerangan pasukan Maeda Toshinaga dari arah belakangnya yang sehingga mampu mengusir mundur pasukan Maeda Toshinaga dengan tanpa perlawanan.
Dengan ambisinya yang sangat besar menjatuhkan kubu Ishida Mitsunari, Maeda Toshinaga tidak langsung kembali ke istananya, melainkan membagi pasukannya menjadi dua bagian. Melihat posisi Istana Komatsu sedang dalam keadaan yang tidak penuh penjagaannya, Maeda Toshinaga bersama pasukan intinya kemudian menyerang istana yang dikuasai oleh Niwa Nagashige yang bertahan di dalam tersebut. Sedang setengahnya dipulangkan untuk memperketat penjagaan istananya.
Dengan keadaan penjagaan yang tidak sempurna, tepat pada tanggal 9 Agustus 1600 pasukan Niwa Nagashige berhasil dihantam dengan mudah yang menjatuhkan banyak korban dan menjadikan Niwa Nagashige menawarkan perdamaian dengan menyerahkan istananya. Salah satu alasan ketidak ikut sertaan Maeda Toshinaga dalam Pertempuran Sekigahara adalah akibat ambisinya dalam menjatuhkan banyak istana daimyō pendukung Ishida Mitsunari yang juga menyita banyak waktu, sehingga terlambat menyusul ke medan Sekigahara dan memilih pulang ke Kanazawa dan menyusun kembali pasukannya pada tanggal 12 September 1600.
3. Kinai
Seperti beberapa kasus yang terjadi sebelumnya, masing-masing pertempuran tentu melibatkan banyak istana para daimyō pendukung atasannya masing-masing. Sedang dalam tragedi wilayah Kinai, akibat pertempuran Tokugawa Ieyasu dan Ishida Mitsunari ini turut melibatkan dua istana besar kekuasan masing-masing pendukung Tokugawa Ieyasu dan Ishida Mitsunari. Kedua istana tersebut adalah Istana Tanabe yang dikuasai oleh Hosokawa Tadaoki (pendukung Tokugawa Ieyasu) dan Istana Ōtsu yang dikuasai oleh Kyōgoku Takatsugu (pendukung Ishida Mitsunari).
Dalam pertempuran yang melibatkan Istana Tanabe, Hosokawa Tadaoki memiliki banyak keuntungan dengan adanya hubungan spesial antara dirinya dengan keluarga kaisar Jepang. Hal ini tentu bukan hal yang asing didengar, sedang Tokugawa Ieyasu sendiri memiliki kedekatan tersebut dengan kaisar Jepang saat itu.
Dalam sejarah pertahanan, Istana Tanabe terbilang memiliki catatan yang rumit dan penuh kejutan. Ketika Hosokawa Tadaoki sedang pergi berperang, dia menitipkan istananya yang berada di provinsi Tango kepada Hosokawa Yūsai dengan penjagaan 500 prajurit. Mendengar berita sepeninggalnya Hosokawa Tadaoki dan minimnya penjagaan di Istana Tanabe, pasukan pendukung Ishida Mitsunari yang dipimpin panglima tertinggi Onogi Shigekatsu, seorang penguasa Istana Fukuchiyama pun segera mengepung Istana Tanabe dengan pasukan yang jauh lebih banyak, yaitu lebih dari 15.000 prajurit. Bukan hanya banyaknya pasukan yang dikirimkan, Onogi Shigekatsu juga telah memilih prajurit yang memiliki catatan perang dengan baik seperti Koide Yoshimasa dan Koide Hidemasa (seorang bapak-anak), Akamatsu Hirohide, dan Tani Morimoto.
Dengan perbedaan kekuatan pertahanan yang sangat mencolok menjadikan Istana Tanabe kalah yang telak. Dan untuk menghindari rasa malunya karena telah gagal menjaga amanat, Hosokawa Yūsai mengambil cara untuk gugur secara terhormat daripada mati di tangan musuh.
Sebuah keajaiban terjadi pada diri Hosokawa Yūsai, sebelum aksi seppuku-nya dilakukan, Kaisar Goyōzei mengirim tiga utusan pribadinya yang bernama Nakanoin Michikatsu, Karasuma Mitsuhiro, dan Sanjūnishi Sanuki ke Istana Tanabe untuk membujuk Hosokawa Yūsai untuk tidak melakukan aksi bunuh diri dan menyetujui menyerahkan istananya kepada Onogi Shigekatsu. Mendengar penjelasan dan bujukan ketiga pesuruh kekaisaran tersebut, tepat pada tanggal 18 September 1600, Hosokawa Yūsai menyerahkan titipannya kepada Onogi Shigekatsu.
Keadaan berbalik dengan drastis setelah Onogi Shigekatsu mendengar kabar tentang terpojoknya pasukan pendukung Ishida Mitsunari di Sekigahara. Merasa terancam, Onogi Shigekatsu pun memilih untuk segera kembali ke istana utamanya, yaitu Istana Fukuchiyama. Meski Onogi Shigekatsu telah kembali ke istananya, bukan berarti keadaan telah membaik. Bahkan tidak lama kemudian Istana Fukuchiyama dikepung oleh pasukan Hosokawa Tadaoki yang telah kembali ke istananya dan menemui istananya dalam keadaan kalah. Dengan dibantu oleh Tani Morimoto yang membelot ke kubu Hosokawa Tadaoki, Onogi Shigekatsu kemudian menemui kekalahannya dan melakukan bunuh diri pada tanggal 18 November 1600.
Penghianatan dari Tani Morimoto yang kemudian mendukung pasukan Hosokawa Tadaoki adalah bukan tanpa sebab. Selain Tani Morimoto adalah murid dari Hosokawa Yūsai yang dikenal ahli dalam seni menulis Kadō[3], dalam mengambil dan melihat kesempatan, Tani Morimoto sangat logika. Selain kekuatan dan kekuasaan Tokugawa Ieyasu yang semakin besar, Tokugawa Ieyasu dan para pendukungnya terbilang lebih dekat dengan pihak kekaisaran ketimbang kubu Ishida Mitsunari sendiri.
Tentang Hosokawa Yūsai, ia adalah seorang seniman Kadō yang juga menjadi idola Kaisar Goyōzei. Itu sebab, setelah mendengar kabar dari Hachijōnomiya Toshihitoshinnō tentang turunnya warisan ilmu rahasia Kadō yang disebut Kokindenju kepadanya, Kaisar Goyōzei yang merasa takut akan kehilangan Hosokawa Yūsai mengeluarkan perintah kepada pihak Onogi Shigekatsu agar menghentikan penyerangan ke Istana Tanabe. Namun usaha itu sia-sia dan menjadikannya untuk menurunkan ketiga orang kepercayaannya untuk merayu Hosokawa Yūsai agar tetap hidup dan melanjutkan seninya meski telah kalah dalam medan pertempuran.
Dibalik kemenangan yang gemilang dari pihak Tokugawa Ieyasu, ternyata hal ini tidak menjadikannya Kyōgoku Takatsugu yang tidak sepihak dengan Tokugawa Ieyasu berhasil mempertahankan Istana Ōtsu. Dengan menyerahnya Kyōgoku Takatsugu, hukuman berupa pengasingan sebagai pendeta di kuil Onjōji, Gunung Kōya pun diterimanya.
4. Kyushu
Berbeda dengan wilayah-wilayah lainnya, Kyushu tampaknya menjadi ajang kemenangan mutlak di bawah kubu Tokugawa Ieyasu. Selain Katō Kiyomasa dan Nabeshima Naoshige, salah seorang tokoh yang memiliki semangat juang adalah Kuroda Josui.
Katō Kiyomasa dan Nabeshima Noshige pada awalnya tidak memihak kepada kubu siapapun dan mempertahankan sikap netral. Hal ini tentu sangat berbeda dengan Kuroda Josui yang berusaha keras membantu Tokugawa Ieyasu dalam membangun Jepang dengan tanpa ragu-ragu. Tidak terbatas semangatnya saja, Kuroda Josui pun diketahui telah menyumbangkan semua uang dan perbekalan yang disimpan di Istana Nakatsu untuk keperluan pertempurannya tersebut.
Di lain pihak, Ōtomo Yoshimune dengan dukungan dari Mōri Terumoto berencana untuk merebut kembali provinsi Bungo. Menginjak tanggal 9 September 1600, Ōtomo Yoshimune menjejakkan kaki di provinsi Bungo yang baru pertama kali dilakukannya sejak diasingkan. Dan dalam kesempatan ini, Ōtomo Yoshimune menantang pasukan Kuroda Josui untuk bertempur di Ishigakihara (sekarang kota Beppu) dengan mengumpulkan kembali bekas bawahannya. Tapi bagi Kuroda Josui, dengan aksinya yang proaktif tersebut menjadikannya cepat berhasil membentuk pasukan yang konon mencapai lebih dari 3.500 ronin[4].
Dengan adanya tantangan dari Ōtomo Yoshimune, maka pada tanggal 13 September 1600, keduanya pun terlibat bentrokan bersenjata. Akibat terbunuhnya jenderal dari pihaknya, Ōtomo Yoshimune akhirnya menyerah kepada kubu Kuroda Josui. Dan selang dua hari setelahnya, yaitu pada tanggal 15 September 1600, Ōtomo Yoshimune memutuskan untuk menjadi biksu setelah menyerahkan diri kepada pasukan yang dipimpin Mori Tomonobu yang bertempur untuk kubu pasukan Kuroda Josui. Dengan kemenangannya, pasukan Kuroda Josui pun emutuskan untuk terus menyerang dan secara berhasil menaklukkan istana yang terdapat di Kita Kyushu.
Katō Kiyomasa yang pada awalnya hendak memberikan bantuannya kepada Kuroda Josui, lantaran mendengar berita kemenangan dari pasukan Kuroda Josui itu sendiri, maka Katō Kiyomasa memutuskan untuk segera berbalik arah dan segera menyerang wilayah kekuasaan Konishi Yukinaga. Jauh sebelum Katō Kiyomasa mengirimkan bantuannya kepada Kuroda Josui, bersama Nabeshima Naoshige mengepung Istana Yanagawa dan berhasil memaksa menyerah Tachibana Muneshige yang sedang bertahan di dalam Istana Yanagawa setelah terlambat datang di pertempuran Sekigahara.
Setelah mengalahkan Ōtomo Yoshimune, pasukan gabungan yang dipimpin Kuroda Josui kemudian merencanakan untuk menyerang wilayah Shimazu Ryūhaku yang sedang menjaga wilayah milik Konishi Yukinaga yang juga di serang oleh Katō Kiyomasa. Melihat keberingasan pasukan Kuroda Josui, Shimazu Ryūhaku pun menjadi panik dan segera mengirim pasukannya untuk memperkuat Kyushu.
Peperangan diantara keduanya pada akhirnya pun dibatalkan. Tokugawa Ieyasu yang telah memenangkan Pertempuran Sekigahara kemudian menyatakan kemenangannya atas pasukan Ishida Mitsunari. Dengan adanya pengumuman kemenangan tersebut, menjadi perintah secara langsung untuk menghentikan segala bentuk peperangan dan menyatakan penyerahan kekuasaan langsung kepada Tokugawa Ieyasu. Kuroda Josui pun menghentikan niat untuk melakukan aksi pnyerangan ke Shimazu.
5. Ise
Dengan daerah kekuasaan mencapai 1.205.000 kokudaka, menjadikan Mōri Terumoto seorang yang dinilai paling berpengaruh. Itu sebab, salah satu istana pendukung Tokugawa Ieyasu yang berada di Ise seperti Istana Anotsu dan Istana Matsusaka pun menjadi sasarannya dalam perjalanan menuju Sekigahara. Dengan kekuatan yang dimiliki oleh Mōri Terumoto, seorang penguasa Istana Anotsu, Tomita Nobutaka pun akhirnya dapat dikalahkan dan memilih menyelamatkan hidupnya dengan menjadi biksu. Berbeda dengan Tomita Nobutaka, Furuta Shigekatsu, penguasa Istana Matsusaka lebih memilih bernogosiasi dengan menawarkan perjanjian damai. Aksi perdamaian tersebut menjadikan keuntungan bagi Furuta Shigekatsu yang tidak perlu menyerahkan istananya kepada Mōri Terumoto.
6. Kanto
Kejadian yang melibutkan pertentangan dalam kubu menjadikan catatan sejarah tersendiri bagi wilayah Kanto. Bagaimana tidak, ketika dua kubu saling bertempur memperebutkan kekuasaan tinggi pun menjadi bahan pertimbangan bagi keluarga Satake Yoshinobu.
Dalam menentukan sikap dukungannya, Satake Yoshinobu terbilang berat dan ragu-ragu dalam menentukan. Selain ditengahkan pada posisi keluarga dan sahabat, Satake Yoshinobu juga memikirkan tentang masa depan kekuasaannya. Pada dasarnya, Satake Yoshinobu berada di posisi pendukung Ishida Mitsunari, sedang ayahnya yang bernama Satake Yoshishie menyuruhnya untuk mendukung Tokugawa Ieyasu. Dukungannya terhadap Ishida Mitsunari serta merta bukan tanpa alasan. Hal ini tentu sangat berkaitan dengan hubungan status persahabatannya dengan Ishida Mitsunari. Terlebih lagi, pengikut Satake Yoshinobu seperti Tagaya Shigetsune, Yamakawa Asanobu, dan Sōma Yoshitane adalah pendukung setia Uesugi Kagekatsu yang juga bergabung dalam pasukan gabungan Ishida Mitsunari. Namun bagi sang ayah, Satake Yoshishie lebih melihat kemungkinan terbesar kemenangan dalam perebutan kekuasaan tersebut akan dimenangkan Tokugawa Ieyasu. Namun dengan berbagai pertimbangan, Satake Yoshinobu akhirnya lebih memilih sikap netral, yaitu meski sebagai pendukung Ishida Mitsunari, Satake Yoshinobu memilih untuk tidak mengirimkan pasukannya ke medan Sekigahara sebagai bukti setianya kepada ayahnya.
[1] Kelompok Samurai/satria perang.
[2] Ada pendapat lain yang menerangkan bahwa Date Masamune mengirimkan pasukannya kepada Mogami Yoshiaki karena Mogami Yoshiaki sendiri juga menyandera ibu Date Masamune di dalam Istana Yamagata.
[3] Sejenis waka, syair Jepang kuno sejak zaman Asuka dan zaman Nara (akhir abad ke-6 hingga abad ke-8).
[4] Bushi/Samurai tak bertuan.

Sekigahara I

Pertempuran Sekigahara
15 September 1600



Seperti yang dinyatakan oleh Klemens Wilhelm Jacob Meckel, pasukan di bawah pimpinan Ishida Mitsunari sudah mempunyai tiket kemenangan dengan cara mengepung posisi pasukan Tokugawa Ieyasu. Hanya saja, pertempuran yang hanya berlangsung tidak lebih dari sehari itu berbalik menjadi kemenangan Tokugawa Ieyasu setelah beberapa pasukan Ishida Mitsunari berpihak kepada Tokugawa Ieyasu. Terlebih lagi, keadaan di Sekigahara sedang ditutupi oleh kabut yang tebal, sehingga masing-masing pasukan tidak mengetahui dengan jelas siapa lawan siapa kawan.


“Kawan dan lawan saling dorong, suara teriakan di tengah letusan senapan dan tembakan panah, langit bergemuruh, tanah tempat berpijak berguncang-guncang, asap hitam membubung, siang bolong pun menjadi gelap seperti malam, tidak bisa membedakan kawan atau lawan, pelat pelindung leher (pada baju besi) menjadi miring, pedang ditebas ke sana ke mari.” Ōta Gyūichi, seorang saksi dalam Pertempuran Sekigahara.[1]


Pertarungan pun dimulai ketika pasukan pimpinan Matsudaira Tadayoshi memulai penyerangan terhadap Ukita Hideie yang menjadi kekuatan utama pasukan Ishida Mitsunari. Aksi penyerangan dari Matsudaira Tadayoshi ini pada awalnya dilarang oleh Fukushima Masanori yang juga menjadi pimpinan pasukan gabungan pendukung Tokugawa Ieyasu. Bersama pasukan Ii Naomasa inilah pasukan Matsudaira Tadayoshi bermaksud lewat menerobos tebalnya kabut.
Dengan adanya serangan dari pasukan Matsudaira Tadayoshi, pasukan pimpinan Ukita Hideie pun kembali menyerang. Meski pasukan gabungan pimpinan Fukushima Masanori ini hanya terdiri dari 6.000 prajurit, namun dengan serangannya yang mendadak ini pun mampu membuat pasukan Ukita Hideie yang terdiri dari 17.000 prajurit kelabakan sehingga hanya menjadikan situasi pertempuran saling desak dan saling bunuh tanpa ada perlawanan yang khusus.


Sedang pasukan pimpinan Kuroda Nagamasa yang terdiri dari 5.400 prajurit dan pasukan Hosokawa Tadaoki yang terdiri dari 5.100 prajurit ini secara bersamaan mulai menyerang pasukan Ishida Mitsunari. Hanya saja, pasukan pimpinan Shima Sakon dan Gamō Satoie mampu membendung penyerangan tersebut dan berhasil mengalahkan sebagian besar pasukan gabungan Tokugawa Ieyasu tersebut.


Dengan pertempuran yang banyak melibatkan pasukan dari berbagai panglima ini pun menjadikan Ishida Mitsunari gerah karena tidak juga berhasil memukul mundur pasukan Tokugawa Ieyasu. Itu sebab Ishida Mitsunari membuat isyarat asap untuk meminta bantuan dengan memanggil pasukan yang belum turun dalam medan pertempuran. Meski telah mengetahui isyarat yang telah diberikan oleh Ishida Mitsunari, pasukan pimpinan Shimazu Yoshihiro secara terang menolak untuk bergabung. Sedang pasukan Mōri Terumoto tidak dapat berbuat apa-apa dalam pertempuran tersebut karena dihalangi oleh pasukan Kikkawa Hiroie.


Seperti yang diketahui, Kikkawa Hiroie pada dasarnya berada dalam satu kesatuan dengan Mōri Terumoto yang membantu Ishida Mitsunari. Hanya saja, dengan kekuasaan yang dimiliki oleh Tokugawa Ieyasu, Kikkawa Hiroie pun dijanjikan memperoleh wilayah kekuasaan Klan Mōri apabila mampu menghalangi pasukan Mōri Terumoto membantu menyerang pasukan pemerintahan. Melihat kekuasaan Mōri Terumoto yang mencapai 1.205.000 kokudaka, Kikkawa Hiroie pun menjadi tergiur dan menjadi berpihak kepada Tokugawa Ieyasu.


Bukan hanya Kikkawa Hiroie saja yang menjadi penghianat dalam pertempuran tersebut. Kobayakawa Hideaki yang sebelumnya berada di pihak Ishida Mitsunari pun secara tersembunyi telah bersekongkol dengan Tokugawa Ieyasu.


Berbeda dengan Kikkawa Hiroie yang langsung menyerang Mōri Terumoto, Kobayakawa Hideaki yang diikuti oleh Wakisaka Yasuharu, Ogawa Suketada, Akaza Naoyasu, dan Kutsuki Mototsuna untuk mendukung Tokugawa Ieyasu ini pada awalnya hanya menunggu keadaan yang sedang berlangsung sengit tersebut. Hanya saja, Tokugawa yang melihat aksi Kobayakawa Hideaki ini pun menjadi geram dan memerintahkan pasukannya untuk menembak ke posisi pasukan Kobayakawa Hideaki di Gunung Matsuo. Dan dengan adanya serangan tersebut pun, Kobayakawa Hideaki akhirnya memutuskan untuk turun gunung dan bertempur menggempur sayap kanan gugusan pasukan Ōtani Yoshitsugu.


Dengan adanya posisi yang tidak menguntungkan di pihak Ishida Mitsunari, Shimazu Yoshihiro yang sejak awal meragukan kemenangan pada pihaknya pun mulai ketakutan dan berusaha mundur dengan memotong garis depan pasukan Tokugawa Ieyasu yang semakin kuat. Pasukan pimpinan Fukushima Masanori yang sebelumnya menjadi garis depan pasukan gabungan Tokugawa Ieyasu ini pun menjadi ketakutan melihat kebrutalan pasukan Shimazu Yoshihiro. Melihat kejadian tersebut, pasukan Ii Naomasa, Matsudaira Tadayoshi, dan Honda Tadakatsu pun berusaha membantu dengan berusaha melawan pasukan Shimazu Yoshihiro. Hanya saja, dengan serangan yang tak teratur dari Shimazu Yoshihiro ini menjadikan kebanyakan pasukan lawan banyak terjatuh dan menderita luka-luka.


Dengan banyaknya pasukan Ishida Mitsunari yang berkhianat, menjadikan pihaknya mengalami kekalahan yang telak. Seluruh pasukannya pun dijadikan kocar-kacir dan menjadikan kemenangan pada pihak Tokugawa Ieyasu. Shimazu Yoshihiro yang telah melarikan diri pun pada akhirnya berhasil selamat meski banyak saksi pada awalnya telah menyangka Shimazu Yoshihiro telah melakukan seppuku[2]. Namun demikian, setelah diketahui jasad yang mengenakan jinbaori[3] tersebut adalah Ata Moriatsu, salah seorang pasukan dari Shimazu Yoshihiro. Sedang pasukan Shimazu Yoshihiro yang selamat lainnya hanya tersisa sekitar 80 prajurit saja.

Pembersihan Konflik Pertempuran Sekigahara


Seperti yang diketahui sebelumnya, Tokugawa Ieyasu yang juga sebagian dari dewan lima menteri dan para pelaksana administrasi yang diambil sumpah setia kepada Toyotomi Hideyoshi pun kemudian terlibat bentrok yang melibatkan sebagian besar penguasa kecil di Jepang. Dan dengan adanya pemberontakan dan ketidak percayaan dalam pejabat pemerintahan, Ishida Mitsunari pun menyetakan dengan terang-terangan melawan Tokugawa Ieyasu.


Namun demikian, dengan berlangsungnya perebutan kekuasaan dalam pemerintahan, Tokugawa Ieyasu pun dinyatakan sebagai pemegang pucuk kepemimpinan setelah menang dalam Pertempuran Sekigahara. Itu sebab seusai Pertempuran Sekigahara, Ishida Mitsunari yang kemudian berhasil ditangkap oleh pasukan pimpinan Tanaka Yoshimasa pada tanggal 21 September 1600 ini akhirnya diarak berkeliling kota di Osaka dan Sakai sebelum dieksekusi di Rokujōgawara yang terletak di pinggir sungai Kamo-Kyoto bersama dengan Konishi Yukinaga yang tertangkap pada tanggal 19 September 1600 dan Ankokuji Ekei yang tertangkap tanggal 23 September 1600.


Berbeda dengan Ishida Mitsunari, Ukita Hideie yang setelah Pertempuran Sekigahara melarikan diri ke provinsi Satsuma ini pada akhirnya mendapatkan pengampunan dari Tokugawa Ieyasu. Setelah berhasil ditangkap oleh Shimazu Tadatsune di akhir tahun 1603, Ukita Hideie pun kemudian diserahkan kepada Tokugawa Ieyasu untuk mendapatkan hukuman. Hanya saja, meski Shimazu Tadatsune yang menangkapnya sendiri, bersama dengan Maeda Toshinaga pun kemudian meminta pengampunan atas nyawa Ukita Hideie.


Permintaan pengampunan terhadap Ukita Hideie kepada Tokugawa Ieyasu ini karena menganggap hanya akan menjadikan kesakitan tersendiri bagi istri Ukita Hideie (Putri Gō) yang sebenarnya adalah adik dari Shimazu Tadatsune dan Maeda Toshinaga. Permintaan pengampunan atas nyawa Ukita Hideie inipun akhirnya dikabulkan oleh Tokugawa Ieyasu. Dan sebagai pengganti hukuman mati terhadap Ukita Hideie ini dihukuman dengan diasingkan ke pulau Hachijōjima setelah menjalani hukuman kurungan di gunung Kuno, provinsi Suruga.


Dengan adanya jiwa kepemimpinan dan daerah kekuasaan yang terbilang sangat mempengarui Jepang, Mōri Terumoto yang sebagai panglima tertinggi pihak lawan pun akhirnya dinyatakan bersalah dan harus menanggung hukumannya. Dalam dunia politik Tokugawa Ieyasu, dia sering menggunakan pasukan musuhnya untuk menyerang musuhnya juga. Dan dalam kasus Mōri Terumoto, ketika sedang dalam menjalankan tugasnya menjaga Toyotomi Hideyori di Istana Osaka, Kikkawa Hiroie melakukan penghianatan dengan menyerang pasukan Mōri Hidemoto yang dikirim Mōri Terumoto ke Sekigahara membantu pasukan Ishida Mitsunari.


Dalam penghianatannya, Kikkawa Hiroie dijanjikan oleh Tokugawa Ieyasu untuk memperoleh wilayah kekuasaan Mōri Terumoto. Itu sebab, Kikkawa Hiroie yang masih saudara sepupu Mōri Terumoto pun menjanjikan keamanan dan tidak akan diganggu. Dan di tengah ketenangan Mōri Terumoto, Tokugawa Ieyasu pun mengeluarkan pernyataan tentang kesalahan Mōri Terumoto. Mendengar adanya perintah penghukuman, Kikkawa Hiroie pun segera menghadap Tokugawa Ieyasu sebagai akal liciknya guna mendapatkan wilayah yang dijanjikannya. Namun demikian, kesepakatan telah berubah, Tokugawa Ieyasu tidak menyerahkan seluruh wilayah kekuasaan Mōri Terumoto melainkan hanya dua provinsi yang tersisa (Suō dan Nagato) saja, sehingga pemberian ini pun ditolak oleh Kikkawa Hiroie yang dianggapnya telah melecehkan dirinya dan kedua provinsi tersebut pun masih dikuasai Mōri Terumoto.


Di tengah keterpurukannya, Mōri Terumoto lalu pindah dan membangun Istana Hagi di delta sungai Abugawa (sekarang di Prefektur Yamaguchi serta memilih menjadi pendeta Buddha dengan nama Genan Sōzui. Untuk jabatan kepala keluarga (katoku) diserahkan kepada sang putra pewaris Mōri Hidenari sedangkan Terumoto tetap menjabat sebagai penguasa wilayah han. Namun setelah menginjak tahun 1623, Mōri Terumoto mengundurkan secara penuh dari dunia politik setelah mewariskan jabatan penguasa wilayah han kepada putra pewarisnya Mōri Hidenari dan pelaksanaan pemerintahan kepada Mōri Hidemoto. Dan dua tahun setelah kemunduran dirinya dalam dunia pemerintahan, tepatnya pada tahun 1625 Mōri Terumoto wafat di usia 72 tahun.


Salah seorang lagi yang dinilai sangat kuat dalam hal kepemimpinan dan dinilai masih berpengaruh adalah Uesugi Kagekatsu dari Aizu. Sedang dalam penyelesaian konfliknya, Uesugi Kagekatsu pada akhirnya hanya mendapatkan wilayah Yonezawa bekas kepemimpinan Naoe Kanetsugu yang pernah menjadi pengikut setianya.


Maeda Toshinaga yang juga pendukung Tokugawa Ieyasu pun tidak luput dari hukuman. Tentang jasanya mengungkap para pemberontak setelah dirinya di cap sebagai otak pelakunya, Tokugawa Ieyasu tidak pernah memperdulikannya. Bersamaan dengan Tachibana Muneshige, kekuasaan wilayah yang dimiliki keduanya pun dicabut karena dinilai telah menimbulkan kerugian besar pada pasukan Niwa Nagashige. Dan dengan adanya pengurangan wilayah tersebut, Niwa Nagashige pun dapat segera dipulihkan haknya sebagai daimyō. Tentang Tachibana Muneshige, haknya kemudian juga dikembalikan bersamaan dengan wilayah kekuasaannya setelah Tokugawa Hidetada menjabat sebagai shogun. Dan tentang Maeda Toshinaga, tidak jelas bagai mana sejarah mencatatkan keberadaannya.


Salah seorang yang menjadi titik tolak kekalahan Ishida Mitsunari adalah Kobayakawa Hideaki bersama rekan-rekan lainnya meliputi Wakisaka Yasuharu, Ogawa Suketada, Akaza Naoyasu, dan Kutsuki Mototsuna.


Dari hasil penghianatannya, Tokugawa Ieyasu menghadiahi pertukaran wilayah kekuasaan yang mulanya provinsi Chikuzen dengan nilai 360.000 kokudaka menjadi provinsi Bizen yang bernilai 570.000 kokudaka. Hanya saja, dengan prestasinya yang demikian, tidak menjadikannya sebagai seorang yang berkuasa karena pada tahun 1602, Kobayakawa Hideaki diketahui meninggal dunia dengan dugaan sakit gila. Kemungkinan, penyakit gilanya ini timbul akibat depresi yang berat lantaran banyaknya tekanan dari luar, terlebih lagi usianya yang terbilang muda, yaitu 21 tahun, puncak kepemimpinannya juga tidak dapat diturunkan kepada keturunannya sendiri.


Tokugawa Ieyasu sangat mengerti pelaku politik yang baik dan setia. Hal ini tentu dinilai sebelum Pertempuran Sekigahara berlanjut. Jika Kobayakawa Hideaki mendapatkan imbalan atas usahanya menjatuhkan Ishida Mitsunari, Wakisaka Yasuharu dan Kutsuki Mototsuna juga diajak Kobayakawa Hideaki pun mendapat wilayah kekuasaan. Tapi hal ini tidak berlaku kepada Ogawa Suketada dan Akaza Naoyasu. Mereka dinilai sebagai seorang yang tidak pantas mendapatkan imbalan karena hanya akan menimbulkan kekhawatiran sendiri bagi pemerintahan Tokugawa Ieyasu kelak.


Alasan Tokugawa Ieyasu sangat mendasar. Ogawa Suketada dikenal sebagai seorang yang penjilat, dan ini dibuktikan dengan catatan militernya yang terkenal dengan pembelotannya yang berkali-kali. Sehingga Ogawa Suketada pun dikenal tidak setia. Selain itu pula, putra pewarisnya adalah seorang yang dengan Ishida Mitsunari, musuh bebuyutan Tokugawa Ieyasu sendiri. Ogawa Suketada akhirnya meninggal dunia setahun setelah kejadian Pertempuran Sekigahara. Sedang Akaza Naoyasu, yang juga takut mendengar bunyi tembakan dinilai sebagai seorang yang tidak mampu memimpin barisan jika kelak terjadi pertempuran kembali. Selain itu, Akaza Naoyasu juga seorang pengikut Maeda Toshinaga yang juga tidak mendapatkan penghormatan Akaza Naoyasu akhirnya meninggal pada tahun 1606.




Pembagian Wilayah Kekuasaan


Seperti yang telah dijanjikan Tokugawa Ieyasu, bagi para daimyō pendukungnya akan diberikan daerah kekuasaan yang lebih luas dari sebelumnya. Sebagai gantinya, Tokugawa Ieyasu mengasingkan beberapa daimyō yang bukan pendukungnya. Bahkan tercatat pasca-Sekigahara, nilai wilayah yang langsung berada di bawah kekuasaan Tokugawa Ieyasu bertambah drastis dari 2.500.000 koku menjadi 4.000.000 koku. Berikut perluasan wilayah yang telah dijanjikan.

  1. Hosokawa Tadaoki yang tadinya memiliki provinsi Tango (Miyazu) senilai 180.000 kokudaka ditukar dengan provinsi Buzen (Okura) yang bernilai 400.000 kokudaka.

  2. Tanaka Yoshimasa yang tadinya memiliki provinsi Mikawa (Okazaki) senilai 100.000 kokudaka ditukar dengan provinsi Chikugo (Yanagawa) yang bernilai 325.000 kokudaka.

  3. Kuroda Nagamasa yang tadinya memiliki provinsi Buzen (Nakatsu) senilai 180.000 kokudaka ditukar dengan provinsi Chikuzen (Najima) yang bernilai 530.000 kokudaka.

  4. Katō Yoshiakira dipindahkan dari Masaki (provinsi Iyo) yang bernilai 100.000 kokudaka ke Matsuyama yang terletak di provinsi yang sama tapi bernilai 200.000 kokudaka.

  5. Tōdō Takatora dipindahkan dari Itajima (provinsi Iyo) yang bernilai 80.000 kokudaka ke Imabari yang terletak di provinsi yang sama tapi bernilai 200.000 kokudaka.

  6. Terazawa Hirotaka yang menguasai provinsi Hizen ditingkatkan penghasilannya dari 83.000 kokudaka menjadi 123.000 kokudaka.

  7. Yamauchi Kazutoyo yang tadinya memiliki provinsi Tōtōmi (Kakegawa) senilai 70.000 kokudaka ditukar dengan provinsi Tosa yang bernilai 240.000 kokudaka.

  8. Fukushima Masanori yang memiliki provinsi Owari (Kiyosu) senilai 200.000 kokudaka ditukar dengan provinsi Aki dan Bingo (Hiroshima) yang bernilai 498.000 kokudaka.

  9. Ikoma Kazumasa yang menguasai provinsi Sanuki (Takamatsu) senilai 65.000 kokudaka ditingkatkan penghasilannya menjadi 171.000 kokudaka.

  10. Ikeda Terumasa yang menguasai provinsi Mikawa (Yoshida) senilai 152.000 kokudaka dipindahkan ke provinsi Harima (Himeji) yang bernilai 520.000 kokudaka.

  11. Asano Kichinaga yang menguasai provinsi Kai senilai 220.000 kokudaka dipindahkan ke provinsi Kii (Wakayama) yang bernilai 376.000 kokudaka.

  12. Katō Kiyomasa yang menguasai provinsi Higo ditingkatkan penghasilannya dari 195.000 kokudaka menjadi 515.000 kokudaka.

  13. Date Masamune yang berangkat dari Oshu untuk bergabung dengan kubu Pasukan Timur juga tidak ketinggalan menerima hadiah dari Ieyasu. Provinsi Mutsu (Iwadeyama) yang dimiliki Date Masamune ditingkatkan nilainya dari 570.000 koku menjadi 620.000 koku.

  14. Mogami Yoshiaki yang memiliki provinsi Dewa (Yamagata) ditingkatkan penghasilannya dari 240.000 koku menjadi 570.000 koku.

  15. Wilayah kekuasaan klan Toyotomi yang sewaktu Toyotomi Hideyoshi masih berkuasa bernilai 2.220.000 koku berkurang secara drastis menjadi 650.000 koku. Pelabuhan ekspor-impor di kota Sakai dan Nagasaki yang membiayai klan Toyotomi dijadikan milik Tokugawa Ieyasu, sehingga posisi klan Tokugawa berada di atas klan Toyotomi.

  16. Klan Shimazu dari Satsuma yang kalah dan menderita kerugian besar dalam Pertempuran Sekigahara dan klan Mōri dari Chōshū yang dirampas wilayah kekuasaannya menyimpan dendam kesumat terhadap Tokugawa Ieyasu. Klan Mōri dan klan Shimazu harus menunggu 250 tahun untuk dapat menumbangkan kekuasaan Keshogunan Edo yang dibangun Tokugawa Ieyasu.

    [1] http://id.wikipedia.org/wiki/Pertempuran_Sekigahara
    [2] Seppuku adalah salah satu adat para samurai. Yaitu sebuah tindakan yang merobek perut mereka dan mengeluarkan usus mereka agar dapat memulihkan nama mereka atas kegagalan saat melaksanakan tugas. Seppuku sendiri kini lebih dikenal dengan istilah harakiri (merobek perut). Sedang dalam penulisan dalam kanji Jepang hanya dituliskan secara terbalik. Pada tradisi Jepang, istilah seppuku lebih formal ketimbang harakiri.
    [3] Pakaian tempur yang digunakan pada saat bertempur. Bisanya hanya digunakan oleh pimpinan pasukan (panglima perang).
    [4] Kelompok Samurai/satria perang.
    [5] Ada pendapat lain yang menerangkan bahwa Date Masamune mengirimkan pasukannya kepada Mogami Yoshiaki karena Mogami Yoshiaki sendiri juga menyandera ibu Date Masamune di dalam Istana Yamagata.
    [6] Sejenis waka, syair Jepang kuno sejak zaman Asuka dan zaman Nara (akhir abad ke-6 hingga abad ke-8).
    [7] Bushi/Samurai tak bertuan.